Sukses

Lifestyle

Perjalanan Cinta Stephen Hawking yang Tidak Berjalan Manis

Kabar Stephen Hawking meninggal, Rabu (14/3) membuat duka seluruh dunia. Ilmuan yang paling berpengaruh di dunia ini meninggalkan banyak warisan tentang pengetahuan. Namun tidak banyak yang mengetahui kisah cintanya. Mungkin kamu menganggap kisah cintanya berjalan manis, kenyataannya berbeda.

Sejak kisahnya diabadikan ke dalam film The Theory of Everything, semakin banyak orang yang tahu tentang perjalanan cintanya. Stephen Hawking jatuh cinta dengan Jane Wilde tak lama setelah ia didiagnosis penyakit motor neuron.

Jane Wilde adalah teman dari saudara perempuannya. Mereka kemudian bertunangan pada Oktober 1964 dan menikah pada 14 Juli 1965. Pada tahun pertama pernikahan mereka, Jane tinggal di London untuk menyelesaikan kuliahnya. Mereka juga beberapa kali melakukan perjalanan ke Amerika Serikat untuk konferensi yang berkaitan dengan pekerjaan Hawking.

Menikah selama 25 tahun, rumah tangga mereka bukan tak lepas dari masalah. Kondisi Stephen Hawking yang memburuk membuat Jane harus bekerja keras untuk merawatnya.

Kehadiran tiga anaknya juga menambah beban Jane. Meski anak justru menjadi faktor yang juga menguatkannya saat hidup sudah semakin berat untuknya. Jane mengatakan, ia ingin bunuh diri karena kondisi rumah tangganya. Mengurus Stephen Hawking dengan penyakit motor neuron tidaklah mudah, apalagi ia melakukannya sendirian.

"Kadang-kadang hidup ini sangat berat, saya merasa lelah fisik maupun mental dan ingin menjatuhkan diri ke sungai, meski tentu saja saya tidak melakukannya karena anak-anak," ujar Jane dalam sebuah wawancara dengan Telegraph.

Kelelahan Jane meredupkan api cinta di rumah tangga Hawking. Pada akhir tahun 1980an, Hawking cukup dekat dengan salah satu perawatnya Elaine Mason dan mengatakan kepada Jane bahwa ia ingin menikahi Elaine.

Hawking dan Jane resmi bercerai pada 1995. Pada September tahun yang sama, Hawking menikahi Elaine. Ia sempat mengatakan bahwa akhirnya ia menikah dengan wanita yang dicintainya.

Namun beberapa tahun setelah pernikahannya dengan Elaine, Hawking justru menerima kekerasan. Anaknya melaporkan bahwa Hawking pernah dipermalukan tidak diberikan akses untuk botol urine sehingga buang air kecil secara tidak pantas.

Ia pernah juga ditinggalkan di taman sehingga mengalami luka bakar matahari yang cukup parah. Meski demikian, Hawking menolak untuk komplain saat polisi menyelidiki kasusnya. Pada 2006, Hawking dan Eliane resmi bercerai, meskipun diam-diam.

Usai perceraiannya dengan Eliane, Hawking kembali dekat dengan Jane, anak-anaknya, dan cucunya. Jane mengabadikan masa bahagia ini dalam bukunya yang sudah direvisi berjudul Travelling to Infinity: My Life with Stephen. Buku itu kemudian dijadikan film The Theory of Everything pada 2014.

Manusia tidak ada yang sempurna, seperti juga seorang ilmuan sehebat Stephen Hawking. Selamat jalan Stephen Hawking.

Sumber: Liputan6.com

(vem/apl)
Loading