Sukses

Lifestyle

Olahraga Bisa Dilakukan di Mana Saja, Begini Contohnya

Fimela.com, Jakarta Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan peningkatan jumlah penduduk Indonesia berusia ≥ 10 tahun yang kurang beraktivitas fisik yaitu dari 26,1% menjadi 33,5%. Padahal aktivitas fisik sangat penting karena memiliki banyak manfaat baik bagi tubuh dan memengaruhi kualitas hidup seseorang.

Melihat kurangnya aktivitas yang dilakukan masyarakat Indonesia, Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga melakukan kampanye ’Pentingnya Olahraga Bagi Kesehatan’ dengan mengajak masyarakat Indonesia rutin melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari.

drg. Kartini Rustandi, M.Kes, Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga, Kementerian Kesehatan RI mengatakan kampanye ini dilakukan sejalan dengan Global Action Plan for Physical Activity dari World Health Organization, yaitu peningkatan kebiasaan hidup sehat dengan aktif bergerak dan penekanan angka sedentari sebesar 10% di tahun 2025 hingga 15% di tahun 2030.

”Untuk mengatasi permasalahan ini, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), yang salah satu fokusnya adalah aktivitas fisik. Selain itu, Kementerian Kesehatan RI juga berupaya untuk membangun 4 pilar sesuai dengan target Global Action Plan for Physical Activity dari World Health Organization, yaitu menciptakan individu aktif; masyarakat aktif; lingkungan aktif; dan sistem aktif. Salah satunya adalah dengan simbolisasi pelemparan bola ’Ayo Indonesia Bergerak’ pada Perayaan Hari Kesehatan Nasional 2018 lalu," paparnya saat ditemui di Jakarta.

2 dari 2 halaman

Olahraga bisa dilakukan di mana saja

Banyak pekerjaan menjadi alasan mengapa masyarakat tidak pernah berolahraga. Padahal, menurut dr. Michael Triangto, SpKO meskipun disibukkan dengan rutinitas sehari-hari, sesungguhnya aktivitas fisik dapat dilakukan dengan mudah di rumah, di tempat kerja, maupun di tempat umum.

Contoh mudahnya adalah memilih menggunakan tangga dari pada lift, serta mengikuti kegiatan senam di kantor. Meski begitu, aktivitas fisik harus dilakukan dengan prinsip BBTT (Baik, Benar, Terukur, dan Teratur). Baik yaitu aktivitas fisik disesuaikan dengan kondisi fisik dan lingkungan.

Benar yaitu aktivitas fisik dilakukan secara bertahap mulai dari pemanasan, latihan inti, dan pendinginan. Terukur yaitu aktivitas fisik dilakukan dengan mengukur intensitas dan waktu latihan. Teratur yaitu aktivitas fisik dilakukan teratur 3 hingga 5 kali dalam seminggu.

"Manfaat olahraga juga macam-macam seperti meningkatkan kebugaran jasmani; mempertahankan berat badan ideal dan mencegah kegemukan; mengurangi risiko berbagai penyakit tidak menular seperti tekanan darah tinggi, jantung koroner, diabetes," ucapnya.

Selain rutin menjalani aktivitas fisik, Kementerian Kesehatan juga menghimbau masyarakat untuk membatasi kegiatan sedentari. Kegiatan sedentari adalah segala jenis kegiatan yang dilakukan di luar waktu tidur, dengan karakteristik keluaran kalori sangat sedikit yakni

Contoh perilaku sendentari adalah berbaring atau duduk dalam waktu lama, seperti menonton TV, bermain video game, dan duduk lama di depan komputer; menggunakan lift meskipun akses tangga tersedia; perubahan kebiasaan, contohnya menggunakan kendaraan untuk ke sekolah atau mini market walaupun jaraknya dekat dari rumah; dan pekerjaan rumah tangga diserahkan kepada pembantu.

Artikel Selanjutnya
4 Olahraga yang Cocok untuk Kehamilan Trimester Kedua
Artikel Selanjutnya
4 Olahraga yang Cocok untuk Kehamilan Trimester Pertama
: