Sukses

Lifestyle

Nanda Mei Sholihah: Dulunya Ditolak, Kini Menjadi Kebanggaan Indonesia

Jam masih menunjukkan ke angka 05.45 ketika mobil meluncur dari Yogya ke Solo. Pagi itu, kota Solo menyambut dengan sinar matahari yang cerah tetapi udara sejuk bersahabat.

Perjalanan Yogya - Solo memakan waktu satu jam saja. Perjalanan yang cukup lancar untuk ukuran kedua kota yang selama dua hari akan sibuk menjadi tuan rumah gelaran kirab obor (torch relay) ASIAN Games 2018. Saya bersama tim dari Pocari Sweat sampai di hotel Kusuma Sahid Solo saat sesosok perempuan bertubuh mungil muncul dari halaman hotel. "Halo, Mbak, saya Nanda," sapanya ramah sambil mengulurkan tangan bersalaman.

Dia adalah Nanda Mei Sholihah, atlet paralympic cabang atletik yang meraih tiga medali emas di ajang ASIAN Para Games 2015 dan tiga medali emas di ASIAN Para Games 2017. Nanda merupakan salah satu sosok berprestasi yang diundang oleh Pocari Sweat untuk berlari membawa obor untuk event torch relay ASIAN Games 2018 yang digelar Rabu (18/7) dan Kamis (19/7) kemarin. "Sekarang saya lagi pelatnas untuk ASIAN Para Games 2018, Mbak, makanya saya tinggal di Solo dari bulan Februari. Saya aslinya Jawa Timur, sama kayak Mbak. Dari Kediri," ujarnya kepada saya dalam perjalanan menuju ke Yogya. "Sekalian saya akan kuliah di sini, di UNS. Ini juga lagi sibuk untuk persiapan masuk kuliah."

Aku terlahir dalam keadaan keterbatasan fisik

Foto: copyright instagram.com/nandameish

Nanda dilahirkan sebagai anak pertama di keluarganya. Ia terlahir tanpa setengah lengan kanan. "'Kan aku anak pertama. Gimana rasanya (orang tuaku) anak pertama yang dinantikan, ternyata lahirnya tidak sesuai harapan. Pasti 'kan orangtua sedih banget. Bahkan aku pernah diminta sama nenekku, kalau misalnya ibuku nggak mau merawat, nenek aja yang merawat. Tapi ibuku menolak, dia mau merawatku sendiri."

Keterbatasan fisik yang dialami Nanda pernah membuatnya merasa berbeda dari yang lain. Di masa kecilnya, Nanda sudah harus menghadapi hal tersebut dan berusaha memakluminya. "Malu sama teman-teman seumuran, 'Kok aku beda sendiri'," katanya. "Aku pun pernah ditolak sekolah waktu mau masuk SD."

Nanda menceritakan, keterbatasan fisiknya tidak bisa diterima beberapa sekolah, bahkan ada yang menyarankan orang tuanya untuk menyekolahkannya di Sekolah Luar Biasa (SLB). Namun, saran itu ditolak orang tua Nanda. "Orang tuaku nggak terima aku disuruh masuk SLB, karena 'kan aku tidak ada kecacatan mental, hanya aku nggak punya tangan yang lengkap."

Sampai akhirnya kelas 5 SD, awal jalan hidup Nanda berubah ...

Aku ditawari menjadi atlet lari

Nanda, saat menjadi pelari pembawa obor ASIAN Games 2018 di Yogya/Foto: copyright Media Buffet PR & Social Media

Tak pernah terbayangkan oleh Nanda dan keluarganya, bahwa suatu hari tiba-tiba mereka didatangi oleh Karmani, ketua NPC Kediri saat itu. "'Kamu ikut jadi atlet NPC (National Paralympic Committees) aja', begitu katanya. Itu pas aku kelas 5 SD."

Ada keraguan di hati Nanda dengan tawaran tersebut karena dengan kondisinya, apakah ia bisa menjadi seorang atlet. Tetapi sang ibu terus mendorong dan meyakinkan Nanda bahwa ia pasti bisa. Siapa tahu menjadi atlet adalah rezeki yang mengubah jalan hidupnya. Akhirnya tawaran Karmani pun diterima oleh Nanda. "Minggu depannya saya datang latihan sama kelompok NPC, dan bertemu dengan banyak anak-anak lain dengan keterbatasan fisik juga. Ada yang amputasi kaki. Jadi aku berpikir, ternyata banyak teman-teman yang keterbatasan fisiknya lebih parah dari aku. Aku pun mulai belajar bersyukur dan berlatih lebih intens. Alhamdulilah, aku dapat tiga emas di Walikota Cup Surabaya. Itu kelas 5 SD, umur 11 tahun."

Semenjak kemenangannya di Walikota Cup Surabaya, Nanda dipanggil untuk pelatihan daerah untuk provinsi Jawa Timur dan merupakan titik awal karirnya hingga kini. "Di tahun 2015 di ASIAN Para Games, aku nggak ditarget apa-apa. Istilahnya, tidak diunggulkan. Tetapi saat itu aku berhasil mendapat tiga medali emas. Itu rasanya senang banget. Pertama kali di ASIAN Para Games Indonesia mendapatkan emas," cerita gadis yang akan melanjutkan pendidikannya di jurusan Sosiologi UNS Solo Ini.

Segala perjuanganku ini membuatku lebih menghargai arti keluarga

Nanda Mei Sholihah saat tes rute lari torch relay ASIAN Games 2018/Foto: copyright vemale.com/Winda Carmelita

Semakin menseriusi karirnya di bidang atletik, selepas lulus SMA, Nanda pun pindah dari Kediri ke Solo, tempat di mana pelatnas Asian Para Games 2018 diadakan. Pindah kota, dengan tempaan latihan fisik yang keras setiap hari dari Senin hingga Sabtu, mengajarkan Nanda banyak hal. Terutama soal keluarga. "Aku jadi lebih menghargai keluarga. Dulu aku bandel banget, sukanya main sampai lupa waktu. Sekarang mau kumpul sama keluarga aja sulit banget. Jadi mau nyisihin waktu sama keluarga, harus telepon, mau pulang izin pelatih dulu," cerita gadis yang suka nonton film zombie ini, "Sekarang menghargai banget arti keluarga. Manja-manja sama Ibu-Ayah di telepon. Kadang sampai nangis kalau kangen banget sama keluarga di Kediri."

Jauh dari keluarga dan berjuang membawa nama Indonesia membuat Nanda belajar banyak soal kemandirian. "Seorang cewek itu harus mandiri. Nggak boleh bergantung sama orang lain, jadi nggak perlu menunggu dibantu orang lain dulu."

"Aku pelatnas di sini, itu juga untuk orang-orang terdekatku. Aku pengen mereka senang, terus nunjukin kalau dulu aku pernah ditolak itu, orang yang menolak aku ngerti (aku yang sekarang)."

Aku masih harus terus belajar

 

Nanda Mei, sang "Atlet lari dengan segudang prestasi" dari Kediri. . Prestasi yang diraih Nanda Mei salah satunya adalah tiga medali emas di ASEAN Para Games 2015 di Singapura, dan Nanda Mei Sholihah sukses menjadi yang tercepat di nomor lari 400 meter T47 putri di ASEAN Para Games 2017 di Malaysia. . Hasil tersebut tidak membuat Nanda puas untuk tetap mengibarkan bendera merah putih. Dukungan dan motivasi dari keluarga mendorong Nanda untuk meraih lebih, terutama untuk membanggakan negeri dan keluarga. Asian Para Games 2018 akan menjadi kompetisi dimana Nanda bisa mewujudkan impian-impiannya, dan juga impian Indonesia di bidang olahraga. . Saksikan Nanda Mei berkompetisi di ajang Asian Para Games 2018 di Jakarta, bulan October, 2018. #ParaInspirasi #AsianParaGames2018

A post shared by Asian Para Games 2018 (@asianpg2018) onJun 12, 2018 at 4:13am PDT

Dengan pencapaiannya saat ini, Nanda masih merasa harus belajar banyak. "Aku masih harus belajar lagi, masih banyak kekuranganku yang harus diperbaiki. Masih banyak orang-orang yang di atasku."

Ketika ditanya apa rencananya lima tahun mendatang, gadis yang hobi make up dan masak ini menjawab, "Aku masih ingin terus ikut ajang olahraga," ujarnya sambil tersenyum lebar. "Aku nantinya pengen menjadi pelatih."

"Aku senang saat lagu Indonesia Raya (dan bendera Indonesia) berkibar, ada kesenangan sendiri di dalam hati. Rasa bangga, begitu. Pas pengibaran bendera merah-putih, mau nangis."

Tak mudah memunculkan rasa percaya diri seperti Nanda. Tetapi ia yakin setiap perempuan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. "Nggak usah peduliin kata orang, kita semua punya keistimewaan kok."

Hampir dua hari saya mengenal Nanda. Obrolan pun mengalir dari cerita tentang pekerjaan, hobi masak di kala senggang, hingga cerita-cerita ringan kami soal makanan-makanan di Yoga dan Solo. Tentu bukan waktu yang panjang untuk bisa mengenal seseorang. Tetapi Nanda berbeda, semangatnya, cara pandanganya terhadap hidup dan betapa ia sangat passionate menjalani hidupnya sebagai seorang atlet lari, memberikan sebuah pengalaman yang membekas di hati saya.

Teruslah berprestasi dan menjadi sosok perempuan inspiratif yang tak kenal menyerah. Semoga sukses untuk setiap rencananya ya, Nanda!

(vem/wnd)
Loading