Sukses

Lifestyle

Terkadang Lisan Itu Bisa Lebih Tajam dari Goresan Pisau

Dari sekian banyak manusia tentunya mereka memiliki karakter dan pikiran yang berbeda–beda, maka dari itu tentunya dalam bergaul kita harus pandai menjaga lisan kita, untuk apa? Terkadang lisan itu lebih tajam dari goresan pisau. Apalagi di zaman yang sekarang ini di mana seseorang lebih leluasa menyuarakan sesuatu melalui media sosial, maka tak jarang aksi bullying di media sosial lebih hebat walaupun tanpa aksi nyata. Termasuk dalam hal kecil seperti melontarkan pertanyaan, kadang memang tanpa sadar kita melontarkan pertanyaan–pertanyaan yang sebenarnya sangat sensitif bagi seseorang yang di tanya sehingga bisa menyinggung perasaan orang lain.

Seperti halnya dulu saat aku masih SMA selalu saja dibilang gendut walaupun sebenarnya berat badanku masih terbilang normal, tinggiku memang minim mungkin ini salah satu penyebab aku kelihatan gendut, berat badanku 48-49 kg dengan tinggiku 154 cm aku pikir tidak terlalu buruk sampai dipanggil ‘Ndut’ oleh teman–temanku. “Heh, gendut kamu mau ke kantin?” menyebalkan memang dipanggil seperti ini, walaupun mungkin ini hanya bercanda atau menjadi panggilan akrab, namun tetap saja wanita itu akan sensitif jika sudah menyinggung masalah berat badan dan fisik, tak sedikit teman–temanku yang bertanya, “Kapan kurusan? Jangan makan mulu nanti tambah gendut."

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Sebenarnya apa yang salah jika memiliki badan gendut? Yang penting kita bahagia daripada menyiksa diri kita sendiri dengan diet yang tidak sehat, maka dari itu aku tidak pernah melakukan diet–diet apapun yang menyiksa diriku sendiri, syukuri aja banyak juga wanita yang gendut tapi hebat di luar sana.

Tapi tetap saja pertanyaan usil “kapan kurusan” mulai meracuni otakku, jawaban alibi yang sering aku lontarkan seperti, “Aku enggak gendut kok. Cuma kurang tinggi aja,” sudah tidak mampu menghentikan pertanyaan ini agar tidak muncul lagi. Kadang pertanyaan yang sebenarnya tidak penting menjadi tamparan keras untuk dipikirkan, tapi ini serius dari pertanyaan itu membuatku semakin tertekan, sampai di suatu saat aku kehilangan ‘percaya diri’ jika berfoto aku tidak pernah full badan pasti lebih memilih setengah badan atau close up, jika foto bersama teman- teman akupun tidak pernah mau berada di samping karena itu akan membuat aku terlihat semakin gendut jadi aku selalu memilih di tengah dan memiringkan badanku.

Sampai di suatu titik di mana aku sudah sangat malu dibilang gendut, aku mulai mengubah cara berpakaianku mengganti koleksi baju yang cerah menjadi gelap dan menghindari baju bergaris horizontal, serta aku membuang koleksi celana jeansku dengan mengganti celana kulot, celana bahan serta rok. Pertanyaan itu sekan membius otakku sehingga aku benar–benar kehilangan percaya diri sampai di suatu ketika teman-temanku mulai mengamati perubahannku. “Sekarang kamu pake rok terus ya kalo pergi–pergi?” tanyanya, “Iya, sekarang nggak boleh pake celana lagi,” jawabku berbohong, sejak kapan aku menjadi pribadi yang suka berbohong dan tertutup padahal dulu selalu saja melakukan hal–hal bebas dan bahkan aku selalu berbicara yang sebenarnya.

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Sebenarnya mengomentari fisik untuk siapapun pasti akan terasa menyakitkan apalagi wanita jika sudah disinggung masalah berat badan pasti akan terluka hatinya dan bisa menyebabkan dampak yang tidak pernah terpikirkan sebelumya. Banyak sekali kasus bullying di social media yang mengomentari perihal berat badan tidak jarang ditemukan komentar yang menyakitkan hati seperti misalnya, “Gendut, jelek,” “Gendut, enggak cocok sama ini,” dan lain–lain.

Come on girls penampilan itu tidak selamanya mencerminkan kecantikan, bukan berarti mempunyai badan gendut itu jelek, cantik itu datangnya dari hati bukan dari fisik. Kalau kita punya hati yang bersih dan baik keadaan fisik apapun kita tetap bisa diterima oleh masyarakat luas, jadi tidak menjamin jika mempunyai paras yang cantik dan badan yang bagus tapi memiliki kepribadian yang buruk pasti akan sulit diterima di masyarakat.

Jadi stop tanya “kapan kurusan?” “kapan gendutan?” “kapan nikah?” “kapan lulus?” dan lain–lain karena pertanyaan kapan harus pada tempatnya, cermatlah menjadi seseorang yang akan bertanya kadang hal kecilpun bisa jadi perubahan yang besar tanpa disadari, sebelum memberi dampak yang buruk pada orang lain berpikirlah dalam menentukan kata–kata yang tepat entah pada siapupun. "Undhur maa qoola walaa tandhur man qoola." Jangan liat siapa yang berbicara, tapi lihat apa yang dibicarakan.

(vem/nda)
Loading