Sukses

Lifestyle

Maaf Kita Harus Berpisah Sebab Doa Kita Tak Menuju ke Langit yang Sama

Dear Vemale,

Perkenalkan namaku Juli Tri, aku seorang akuntan pajak di salah satu perusahaan dan juga seorang mahasiswi di salah satu fakultas Ekonomi di kota Bandung. Ingin kuceritakan sedikit pengalaman yang kini sedang melanda hidupku sebagai pembelajaran untuk aku dan mungkin untuk sahabat semuanya.

Hari ini, tepat 5 bulan lebih aku bersama dengan seorang pria yang teramat begitu sempurna di mataku. Pria yang kukenal lewat teman sekolahku semasa SMA, pria yang sudah mengenalku lebih dari setahun yang lalu dan mulai berani menyatakan cintanya 5 bulan yang lalu. Pria itu biasa kusebut Sandy.

Awal aku menjalani kisah, banyak keraguan dan kegelisahan yang melanda. Terlebih saat kuketahui bahwa kami berbeda. Ya, tembok besar menjulang tinggi berdiri di depan mata kami. Tembok besar itu bernama agama. Kami nekat menjalani hubungan ini dengan alasan “lakukan yang terbaik” meski kami tahu, tembok besar itu tidak akan pernah mungkin bisa runtuh dengan sendirinya.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Hampir setiap malam, pikiran itu muncul sebagai beban. Banyak kekhawatiran muncul di kepalaku. Entah akan dibawa hubungan ini. Entah siapa yang nantinya akan mengalah. Atau entah kapan ini akan berakhir, karena kami masing-masing tahu kisah ini takkan berakhir dengan kebahagiaan. Alasannya tetap sama, aku tidak mungkin mengikutinya. Dan dia tidak mungkin mengikutiku. Begitu rumit rasanya, saat hati berkata tidak, tapi raga ini ingin terus bersamanya.

Lalu kami putuskan untuk membicarakan perihal hubungan ini, dia seakan tahu apa yang saat itu hinggap di kepalaku. Pria itu tetap mengelak, mencegah untuk membicarakan ini tapi rasanya isi kepalaku sudah meletup-meletup ingin ini segera dapat penjelasan. Hari itu ingin sekali aku menatap wajahnya sedikit lebih lama, mungkin itu bisa menjadi pandangan terakhir dalam hidupku.

Saat aku memulai pembicaraan, dia sedikit menitikkan air mata. Aku yang tak kuasa pun mengusap air yang mengalir di mataku. Dua insan yang sama-sama saling mencintai harus berakhir. Dia perlahan mulai mengikhlaskan keputusan dan keadaan ini. Dan aku masih terus membayangkan betapa banyaknya rencana yang telah kami susun untuk menghadapi dunia. Tapi keadaan tak sedikitpun berpihak pada kami. Hari itu kami putuskan untuk berpisah.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Tepat sehari setelah kami berpisah dia masih menghubungiku, dia memberi kabar bahwa hari itu dia diterima bekerja di salah satu perusahaan besar di kota Bandung. Dia berkata bahwa hari itu dia diterima bekerja di PT. X, awalnya dia berpikir bahwa itu kabar baik untuk kami karena kami akan memulai hari baru dengan tiap hari bersama karena dia bisa setiap hari bertemu untuk bekerja dan untuk kuliah, dan hari itu dia pergi ke tempat yang pernah kami datangi saat kami putus asa, lelah mencari pekerjaan.

Tapi hari itu dia tidak menemukan sosok aku lagi di tempat yang sama. Seketika air mata menetes. Membayangkan betapa kehilangannya diri kami sendiri. Untuk dia, dan untuk aku. Kami sama-sama merasa ada yang hilang. Tapi hidup ini harus terus berjalan, kini sedang kubiasakan diri melewati hari tanpa kehadirannya.

Tak ada lagi perhatian datang, tak ada lagi ribuan telepon dia yang masuk, tak ada lagi sosok yang menunggu depan pagar kantor. Atau tak ada lagi hari-hari di mana kami sengaja meluangkan waktu untuk bersama. Jika nanti setelah ini kamu temukan wanita baik, bersyukurlah dan ingat itu karena aku mundur. Kini sedang kuperbaiki apa yang kurang, aku tahu perbedaan diciptakan untuk disatukan. Tapi mungkin tidak dengan kami.

Jika suatu hari kamu membaca tulisan ini, aku harap kamu tak pernah berhenti berdoa untuk kita, meskipun doa kami tidak menuju ke langit yang sama. Selamat tinggal, lekas bahagia dengan perempuan baikmu. Dan semoga hatiku ikhlas menerimanya.

Salam, Juli.

(vem/nda)
;
Loading