Sukses

Lifestyle

Saat Hampir Putus Asa, Jodoh Datang dengan Cara Terbaik-Nya

Lagi sibuk menyiapkan pernikahan? Atau mungkin punya pengalaman tak terlupakan ketika menyiapkan pernikahan? Serba-serbi mempersiapkan pernikahan memang selalu memberi kesan dan pengalaman yang tak terlupakan, seperti tulisan sahabat Vemale dalam Lomba Menulis #Bridezilla ini.

***

Pernikahan menjadi sebuah jalan untuk menyempurnakan agama. Maka dari itu, pernikahan seseorang semestinya dilaksanakan sesuai nilai-nilai syar;i agar tujuan dari pernikahan dapat terwujud dengan baik. Namun di lain pihak ada saja kendala yang mungkin ditemui sebagai pelengkap akan sebuah pernikahan.

Saya adalah seorang gadis desa yang memiliki kekurangan fisik. Saat ibu mengandung bidan setempat menyatakan posisi bayinya sungsang. Dan saat hari kelahiran saya, bidan mengharuskan untuk dilakukan operasi caesar, namun karena keterbatasan biaya memaksakan untuk tetap melahirkan normal. Saat itulah bagian kepala tersangkut, mengakibatkan bagian leher saya panjang sebelah, akhirnya posisi kepala tidak lurus.

Meski begitu keluarga dan tetangga tidak pernah menganggap saya beda. Teman sekolah dan rekan kerja pun selalu membuat saya nyaman. Sekarang saya sudah berusia 20-an tahun, berharap sebentar lagi menikah. Yang menjadi pikiran adalah adakah nantinya saya bisa merasakan sebuah pernikahan? Mengingat kekurangan yang saya miliki adakah yang ingin menjadikanku istri?

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Berbekal pengalaman saat masih pacaran dengan harapan barangkali bisa segera menikah jika memiliki seorang pacar. Hingga beberapa kali berpacaran ternyata hasilnya nihil. Justru hanya menyisakan pengalaman getir yang tak mungkin bisa terhapus oleh waktu. Pengalaman hanya dimanfaatkan uangnya saja lah, terkekang karena merasa tidak bebas leluasa karena terlalu mengatur. Ada juga yang hanya untuk mengisi waktu luang yang ujung-ujungnya berkhalwat (berduaan dengan lawan jenis), astaghfirullah. Hasilnya adalah hanya membuang waktu tanpa ada kepastian apakah akan berujung dipelaminan atau sekedar pelampiasan.

Mencoba merenung dan memasrahkan semua urusan diri kepada Illahi, berharap kebimbangan ini menemui titik temu untuk disegerakan bertemu belahan jiwa. Alhamdulillah doa dan usaha semakin menemui titik terang. Kabar jodoh pun tersampaikan lewat mimpi setelah melakukan salat istikharah. Tetapi karena tergesa-gesa, akhirnya salah menafsirkan orang dengan kemiripan nama yang disebutkan dalam mimpi waktu itu. Meski begitu setidaknya saya sudah berusaha meraih impian yang sedang saya kejar meski hasilnya tak dapat apa-apa dan hanya tangis kesedihan yang bisa terurai.

Setelah pengalaman menyedihkan itulah saya coba pasrahkan diri untuk bersabar dan tidak terburu-buru atau terlalu berlebihan ketika menanggapi sebuah persoalan. Mencoba curhat kepada orang tua, dan memohon doa restu mereka agar segera dipertemukan dengan jodoh saya.

Mencoba bernadhor (melihat calon pasangan) dengan salah satu pemuda kota, hasilnya tidak lanjut ke tahap yang lebih serius. Mencoba bernadhor kembali, nyatanya hanya jadi referensi semata. Diri ini hampir putus asa, apa karena kekurangan yang ada membuat saya belum menikah. Selang beberapa bulan kesempatan bernadhor datang kembali. Saya mencoba memasrahkan semua kepada-Nya.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Berbekal ayah yang sudah lebih dulu mengetahui profil singkatnya, saya beranikan diri untuk bernadhor kembali meski sempat merasa tidak yakin. Sengaja saya tak menanyakan pekerjaan, pendidikan, ataupun ciri fisik darinya agar tidak menitikberatkan pilihan saya pada keinginan duniawi semata. Yang menjadi patokan adalah pandangan ayah mengenai pemuda tersebut. Seorang ayah semestinya ingin membuat anaknya bahagia.

Setelah sempat tertunda akan bertemu, dua hari kemudian pemuda itu datang lagi ke rumah. Akhirnya kami berhasil bertemu. Di saat itulah sang pemuda mengutarakan maksudnya untuk melamar, meski melalui perbincangan yang begitu singkat tidak kurang dari 20 menit. Saya yang mendengar langsung perkataannya sempat tidak percaya, tetapi keyakinan saya semakin mantap setelah satu minggu berlalu ia datang kembali menepati janjinya melamar saya tepat di hari Minggu, 22 Mei 2016.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Tanpa menunggu lama kami siapkan berkas-berkas persyaratan menikah di KUA. Ayah mencoba memantapkan sang pemuda itu dengan menyampaikan kekurangan fisik yang ada pada saya. Alhamdulillah ia tidak merasa keberatan, saya pun semakin mantap menunggu tanggal pernikahan yang ditentukan oleh KUA. Biarlah mengalir apa adanya karena kala itu bulan ramadhan, biasanya di KUA jarang ada yang menikah saat bulan puasa, jadi kami sengaja tidak memilih tanggal tertentu.

Tepat di hari Rabu, 22 Juni 2016 atau bertepatan dengan tanggal 17 Ramadan kami melangsungkan pernikahan di aula Kantor Urusan Agama (KUA) setempat. Meski hanya dihadiri teman dan keluarga dekat namun acara bisa berjalan lancar dan sakral walau tanpa penjamuan. Satu bulan kemudian kami melangsungkan resepsi/walimatul ursy pada hari Jum'at, 22 Juli 2016. Sederhana namun tetap syar'i dengan memisahkan tamu laki-laki dan perempuan, gaun pengantin pun hanya kain biasa tanpa dokumentasi atau pun selfie-selfie berlebihan masa kini.

Sebagian besar kebutuhan pernikahan adalah orang tua yang mengurus. Saya patut bersyukur pernikahan kami berjalan begitu lancar. Tak layak sekiranya menuntut pesta yang meriah namun ujung-ujungnya banyak utang. Pernikahan adalah impian semua orang, yang terpenting bukan foya-foyanya tetapi bagaimana kehidupan setelah menikah bisa tentram damai dan bisa selalu hidup rukun bersama membentuk keluarga sakinah mawaddah warahmah.




(vem/nda)
Artikel Selanjutnya
Cintamu Tak Memakai Kata-Kata, Tapi Kau Buktikan dengan Membawaku Pelaminan
Artikel Selanjutnya
3 Bulan Persiapan, 1 Hari Pernikahan dengan 2 Pasang Pengantin
: