Sukses

Lifestyle

Guyonan Berujung Lamaran, Menikah di Usia 22 Tahun dengan Budget Rp20 Juta

Lagi sibuk menyiapkan pernikahan? Atau mungkin punya pengalaman tak terlupakan ketika menyiapkan pernikahan? Serba-serbi mempersiapkan pernikahan memang selalu memberi kesan dan pengalaman yang tak terlupakan, seperti tulisan sahabat Vemale dalam Lomba Menulis #Bridezilla ini.
***
Menikah usia muda? Hmmm, saya tidak pernah menginginkannya. Amit-amit deh, mungkin begitu pikir saya. Saya ingin menjadi wanita yang mandiri, sukses dan bahagia. Harapan saya bisa menikah usia matang di atas 25 tahun atau usia yang benar-benar matang. Tapi, semua keinginan manusia hanya sebatas rencana saja karena Tuhan yang menentukan jodoh, bukan?

Saya menikah muda. Belum genap 22 tahun saat itu. Lucunya, rencana pernikahan itu sebenarnya di luar dugaan. Bahkan beberapa teman langsung terkejut mendengar saya akan menikah muda. Berita yang mungkin cukup mendadak kala itu di kalangan teman-teman kantor.
Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Memasuki bulan September 2013, si dia bertanya mengenai hadiah ulang tahun untuk merayakan hari kelahiran saya pada tanggal 29 bulan yang sama.

“Hadiah ulang tahun ke-21? Apa ya, dilamar aja deh!”

Sebuah guyonan yang berakhir dengan lamaran dia secara langsung pada Bapak saya. Jangan pernah bayangkan pertanyaan will you marry me diselipi bunga atau cincin romantis. Tetapi, saya menganggap kejadian itu pertanda bahwa dia benar-benar serius dengan langsung melamar saya pada orangtua. Akhirnya tanggal pernikahan ditentukan tanggal 08 Juni 2014. Waktu yang cukup untuk menyiapkan semua tetek bengek pernikahan.

Mulanya saya adalah seorang karyawan swasta yang lumayan sibuk. Rencana pernikahan tersusun dengan apik dengan rencana finansial dari separuh gaji saya selama kurun waktu Oktober hingga hari pernikahan tiba. Sekali lagi, Tuhan selalu punya rencana yang tidak pernah kita duga.

Memasuki bulan Oktober, saya mendadak sakit hingga harus cuti bekerja beberapa hari. Berawal dari sebuah benjolan di payudara kiri, saya harus menjalani operasi kecil. Baru bekerja beberapa hari, saya ngedrop lagi. Kali ini, saya terserang wasir yang menyulitkan bekerja mengingat saya adalah asisten keuangan yang harus stand by di depan komputer. Akhir Desember, saya masih harus berurusan dengan dunia medis setelah terkena tifus. Akhirnya saya memutuskan resign pada bulan Januari untuk memberi jeda istirahat dan sehat kembali.
Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Sebagian tabungan lenyap, saya terkatung-katung di rumah tanpa pekerjaan. Bahkan, saya berjualan es dan makanan kecil demi mendapatkan penghasilan. No gengsi. Seorang lulusan accounting menjadi penjual jajanan, kenapa tidak?

Untung saja, dia selalu mendukung semua keputusan saya termasuk berhenti bekerja. Toh, sebagai dua insan yang tidak memiliki orangtua lengkap, dia ingin saya menjadi ibu rumah tangga setelah menikah. Lalu, bagaimana dengan hari pernikahan yang kian dekat dan kita membutuhkan suntikan biaya yang besar?

Kami cek kembali rencana anggaran semula dan mulai membuat skala prioritas baru. Memotong anggaran seminimal mungkin karena tidak ada sisa uang tabungan. Tidak ada foto prewed atau resepsi pernikahan megah. Kami mulai mengurus sendiri semua persiapan pernikahan mulai dekorasi, tata rias, undangan dan lain-lain yang mematok biaya minim. Selain itu, saya harus fokus pada kesehatan agar sembuh total. Budget Rp20 juta menghasilkan resepsi pernikahan sederhana yang digelar di rumah saya.
Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Sedikit terharu juga mengingat satu hari sebelum akad nikah dilangsungkan, saya terkapar kelelahan. Jangan bayangkan si pengantin wanita bakal cantik mempesona dengan melakukan perawatan dan lain-lain. Beberapa hari menjelang resepsi, saya membantu saudara membuat aneka makanan dan bumbu masak. Tidak ada catering pernikahan, semua dibantu saudara dan tetangga dekat. Bahkan, kedua tangan saya masih sedikit tersisa warna kekuningan alami karena harus membantu mengupas kunyit. Hihihi. Untung jemari saya tidak perlu pakai henna waktu itu.

Kini, saya benar-benar bersyukur dengan apa yang telah Tuhan takdirkan. Saya tidak pernah menyesal menikah muda atau menggelar acara resepsi pernikahan sederhana. Makna pernikahan bukan sekadar dari resepsi mewah tetapi kehidupan setelah pernikahan itu sendiri. Nikah muda dengan budget pas-pasan, percayalah selalu ada jalan yang diberikan Tuhan kok. Jangan takut, ya!
(vem/nda)
Artikel Selanjutnya
Saat Hampir Putus Asa, Jodoh Datang dengan Cara Terbaik-Nya
Artikel Selanjutnya
Cintamu Tak Memakai Kata-Kata, Tapi Kau Buktikan dengan Membawaku Pelaminan
: