Sukses

Lifestyle

Tenda Biru Saksi Bisu Pernikahan di Tengah Kebakaran

Lagi sibuk menyiapkan pernikahan? Atau mungkin punya pengalaman tak terlupakan ketika menyiapkan pernikahan? Serba-serbi mempersiapkan pernikahan memang selalu memberi kesan dan pengalaman yang tak terlupakan, seperti tulisan sahabat Vemale dalam Lomba Menulis #Bridezilla ini.
***
Halo sahabat vemale! Pada kesempatan kali ini, saya ingin kembali berbagi kisah menarik seputar persiapan pernikahan hingga acara pernikahan yang mengharu biru bercampur rasa bahagia yang tidak terkira. Kisah ini bukan saya sendiri yang mengalami. Cerita ini saya angkat dari kisah seorang teman yang tinggal di daerah Taman Kota, Jakarta Barat. Kisah yang sangat menginspirasi. Semoga, setelah membaca ini kita semakin memahami apa itu cinta sejati dan bagaimana harus mensyukuri setiap anugerah Tuhan yang terkadang kita lewatkan.
Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Pernikahan adalah acara yang sangat sakral. Perayaan sekali dalam seumur hidup ini tentunya tidak akan pernah disia-siakan bagi mereka yang sudah menemukan pendamping hidupnya. Segala bentuk persiapan tentunya akan dilakukan demi mendapatkan satu bentuk kenangan indah yang tidak akan pernah dilupakan untuk selamanya. Mulai dari tempat pelaksanaan, menu makanan yang akan disajikan, gaun pengantin yang dikenakan, jumlah undangan yang dihadirkan, bintang tamu yang akan memeriahkan, hingga jumlah mahar yang akan diberikan demi meminang sang kekasih pujaan. Semuanya tentu akan dipersiapkan dengan matang, dengan harapan tidak ada satu hal pun yang luput dari pelaksanaan perayaan pernikahan tersebut.

Hal itupun yang juga dilakukan oleh sepasang kekasih teman saya ini. Mereka menikah pada Bulan April 2018. Segala bentuk persiapan telah mereka rencanakan dengan matang. Bahkan, mereka akan menggelar acara perayaan pernikahan sebanyak dua kali, yakni acara akad nikah di tempat mempelai wanita, sementara acara hajatan (ngunduh mantu) dilaksanakan di rumah mempelai laki-laki pada hari yang berlainan. Tepat dua minggu sebelum mereka melangsungkan acara pernikahan, sang mempelai wanita mengirimkan pesan singkat kepada  teman saya untuk menghias tangannya menggunakan hena. Seperti yang kita tahu, bahwa menggunakan hena akan semakin mempercantik penampilan seorang pengantin sebagai ratu sehari. Dirinya ingin menghias tangan menggunakan hena agar terlihat lebih menarik dan menawan ketika pelaksanaan akad nikah.

“Put, aku mau minta tolong mamahmu buat hena tanganku ya. Tapi di hena nya nanti aja kalau udah deket hari-H.”
Begitulah pesan singkat melalui WA yang dituliskan calon mempelai wanita kepada teman saya.
Satu minggu menjelang pernikahannya, ia kembali mengirimkan pesan singkat kepada teman saya.
“Put, dihenanya nanti jangan terlalu mewah ya biasa-biasa aja. Aku nggak suka terlalu berlebihan soalnya," begitulah bunyi pesan singkatnya.
Teman mengiyakan kemauan calon mempelai wanita. Dua hari sebelum pernikahan berlangsung, ia kembali mengirimkan pesan singkat.
“Put, maaf ya aku nggak jadi dihena. Heru (nama disamarkan) nggak suka kalo aku pake hena. Katanya malah menyeramkan."
Begitulah pesan terakhir yang teman saya peroleh dari calon mempelai wanita. Setelah itu, ia tidak lagi mengubunginya sampai hari H pelaksanaan pernikahan.
Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Setiap rencana, hanya Tuhan yang berkehendak untuk mewujudkannya atau justru menahannya hingga beberapa saat. Tepat pada satu hari sebelum acara akad itu dilaksanakan, sebuah musibah tak diinginkan terjadi. Sebuah kebakaran hebat terjadi di daerah rumah calon mempelai laki-laki. Si jago merah menyantap habis bangunan-bangunan rumah warga di daerah Taman Kota, Jakarta Barat. Satu demi satu rumah yang berdiri tegak di dekatnya terbakar habis—roboh tak bersisa. Yang tersisa hanya puing-puing hitam yang sebagian telah mengabu rata dengan tanah.

Lalu, apakah itu tandanya pernikahan harus dihentikan?
Tidak. Pernikahan tetap dijalankan di rumah mempelai wanita. Atmosfer kekhusyukan terasa di sana. Sedih, haru, sekaligus rasa bahagia yang mendalam sungguh terasa. Ada senyum mengembang di wajah sepasang kekasih ini. Seolah, ujian dari Tuhan sirna ketika gemuruh suara “Sah” dari saksi membumbung tinggi di udara. Sangat menggembirakan!

Akan tetapi, masalah kebakaran tak henti hanya sampai di situ. Kerusakan di sekitar rumah mempelai laki-laki masih saja menyisakan luka yang mendalam. Ditambah lagi, sesuai rencana, acara perayaan pernikahan yang kedua (ngunduh mantu) akan digelar di sana. Bahan-bahan makanan sudah dibeli sebelum musibah itu terjadi. Undangan kepada rekan-rekan, saudara, teman, dan tetangga juga sudah disebar. Mau tidak mau, acara harus tetap dilaksanakan. Akan tetapi, ada rasa tidak enak hati kepada warga sekitar. Tidak mungkin mereka akan menggelar acara kegembiraan di tengah-tengah kesedihan warga yang mendalam. Setelah mencoba berdiskusi dengan ketua RT setempat, akhirnya acara ngunduh mantu pun diizinkan untuk digelar.
Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Di bawah tenda biru yang berseberangan dengan tenda posko bantuan, sepasang kekasih dengan balutan baju batik yang sederhana dan riasan makeup yang polos, menggelar acara ngunduh mantu. Tidak ada makanan mewah khas hajatan. Yang ada hanyalah makanan-makanan ala kadarnya yang tentunya dibuat dengan penuh rasa haru kebahagiaan. Di depannya, melengkung janur kuning dengan tidak ada nama kedua mempelai. Yang ada hanyalah suara musik dangdut dari kaset yang distel dengan speaker seadanya. Satu persatu tamu undangan datang, memberikan ucapan selamat, dan pelukan hangat. Berharap, kedua mempelai hidup bahagia selamanya.

“Cinta, tidak ada kata menyerah untuk kita bersama. Tuhan yang menyatukan kita, dan hanya Tuhan yang berkehendak untuk memisahkan kita. Api yang menyala-nyala semalam dan akad pernikahan kita pada pagi harinya, adalah bukti bahwa Tuhan tidak ingin kita berpisah. Dengan terus menggenggan erat jari-jemari kita, maka tidak ada satupun yang mampu melepas ikatannya. Sekali lagi, hanya Tuhan sebagai pemisah yang paling adil. Tenda biru yang berdiri sedikit doyong di depan rumah kita, adalah bukti bahwa pernikahan tidak bisa berhenti hanya karena kebakaran—jika Tuhan mengizinkan."
(vem/nda)
Artikel Selanjutnya
Guyonan Berujung Lamaran, Menikah di Usia 22 Tahun dengan Budget Rp20 Juta
Artikel Selanjutnya
Saat Hampir Putus Asa, Jodoh Datang dengan Cara Terbaik-Nya
: