Sukses

Lifestyle

Ayah Menjadi Kesedihan Terbesar pada Hari Paling Membahagiakan

Lagi sibuk menyiapkan pernikahan? Atau mungkin punya pengalaman tak terlupakan ketika menyiapkan pernikahan? Serba-serbi mempersiapkan pernikahan memang selalu memberi kesan dan pengalaman yang tak terlupakan, seperti tulisan sahabat Vemale dalam Lomba Menulis #Bridezilla ini.
***
Banyak orang mengatakan bahwa cinta pertama seorang anak perempuan adalah sang ayah atau satu-satunya orang yang tidak akan menyakiti hatinya hanyalah ayahnya. Namun, aku bisa memastikan bahwa kalimat itu tidak berguna untuk diriku. Seorang figur ayah yang kerap digambarkan bak seorang pahlawan yang selalu ada dan siap sedia dalam keadaan apapun tidak akan berlaku padaku. Ketika seharusnya ia menjadi sosok pemimpin, contoh dan teladan yang baik bukan justru menjadi orang yang paling banyak mengambil peran antagonis.

Ayah dan ibuku bercerai ketika aku masih duduk di tahun terakhir sekolah menengah pertama. Aku dan adik lebih memilih untuk ikut tinggal bersama ibu daripada ayah. Karena kami merasa lebih aman bersama ibu. Setelah sekian tahun berlalu, aku yang sudah tidak pernah lagi menjalin komunikasi dengan ayah, mau tidak mau menghubungi ayah selaku waliku ketika seorang pria yang kini menjadi suamiku datang dengan niat dan tujuan baik untuk melamar.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Saat itu aku mengalami dilema besar, antara menghubungi ayah atau tidak. Karena sejak berpisah dengan ibu, ayah dan aku tidak memiliki hubungan yang bisa dikatakan baik bahkan hanya untuk bertukar sapa meskipun kami tinggal di kota yang sama. Dan pada akhirnya aku harus meruntuhkan egoku untuk menghubungi ayah. Karena bagaimanapun ayah adalah wali sahku di dalam agama dan negara terlepas apapun masalah yang ada diantara kami.

Pada malam saat suamiku membawa keluarganya untuk melamarku dan berbicara kepada keluargaku, akhirnya aku menelepon ayah sebelum rombongan suamiku datang untuk memberitahukan dan meminta dirinya hadir. Pada saat teleponku sudah diangkat dan mendengar suaranya, ada sedikit rasa rindu yang memaksa hendak keluar. Namun aku harus bisa bersikap biasa saja untuk menghindari terjadinya konflik pada saat itu.

Setelah mengatakan maksud dan tujuanku menelpon, ayah sempat terdiam sebentar sebelum akhirnya ia mengatakan dengan lantang ketidaksetujuannya pada niat baik suamiku dan berkata ia tidak dapat hadir pada malam itu. Aku yang mendengar ayah berkata seperti itu tidak dapat lagi menahan tangis lebih lama. Segera aku menutup telepon dan berlari menemui ibu, paman, dan bibi. Aku benar-benar merasa benci terhadap ayah saat itu. Mengapa ia bisa berkata seperti itu? Padahal selama ayah dan ibu bercerai, ia tidak pernah mengurusku dalam artian yang sebenarnya dan melepaskan tanggungjawabnya sebagai ayah terhadap aku dan adikku. Bahkan untuk nafkah, biaya kehidupan sehari-hari serta pendidikan ia tidak pernah memberikan tanggungjawabnya sama sekali. Tetapi mengapa ia menjadi orang yang menghalangi jalan kebaikan.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Melihat aku yang terus menangis hingga tidak dapat berbicara. Paman berinisiatif untuk menelepon ayah kembali. Aku tidak tahu apa yang paman bicarakan dengan ayah. Sesaat setelah selesai menelpon, paman mengatakan akhirnya ayahku setuju dengan lamaran suamiku dan meminta pamanku untuk mengatur semuanya serta cukup beritahukan kapan dan di mana akad nikah akan dilaksanakan. Ayah mengatakan akan datang saat hari pernikahanku nanti. Aku yang mendengar paman berkata begitu sungguh merasa sangat sedih.

Aku merasa iri dengan anak-anak perempuan di luar sana yang ketika dilamar oleh seorang laki-laki maka sang ayah akan menyambut dan menerima dengan baik maksud si laki-laki. Aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya ketika ayah menanyakan diriku secara langsung apakah aku siap atau tidak untuk menikah. Aku juga ingin melihat ayah bersedih melepaskan anak perempuan satu-satunya dan merasa bahagia secara bersamaan ketika anaknya akan menikah. Atau melihat ayah bersikap tegas bahkan mungkin berusaha terlihat garang hanya untuk mengetes dan menanyakan kesungguhan laki-laki yang akan menjadi suamiku. Dan juga aku sangat ingin melihat dan bersama-sama ayah menangis haru pada malam terakhir aku menjadi anaknya dan menyampaikan beberapa nasehat untuk kehidupan pernikahanku nantinya. Serta melihat ayah sibuk dan pusing mempersiapkan pernikahanku. Namun, semuanya tidak akan pernah dan bisa aku dapatkan hingga kapanpun, hingga saat setelah aku menikah pun.

Pada saat hari pernikahanku telah tiba, ayah benar-benar datang. Aku merasa senang saat itu karena meskipun aku tidak akan mendapatkan hal-hal yang aku sebutkan itu. Setidaknya ayah tidak melupakan bahwa ia adalah waliku, bahwa ia adalah orang yang berhak menikahkanku. Dan saat prosesi pengucapan ijab qabul pun ayah melakukannya secara langsung dan menjabat mantap tangan suamiku tanpa diwakilkan oleh siapapun. Hal itu membuatku sangat terharu dan sangat senang pada saat bersamaan. Aku masih bisa meyakini diriku sendiri bahwa ayah masih memiliki sedikit peduli terhadapku. Meskipun setelahnya ayah hanya sebentar saja berada disitu dan segera pulang. Tetapi hal itu cukup, sangat cukup untuk diriku.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Dan masalah baru muncul ketika aku dan suami mulai mempersiapkan pesta pernikahan. Kami melaksanakan pesta pernikahan 4 bulan setelah akad nikah dilaksanakan, sebab ada beberapa urusan pekerjaan yang harus aku dan suami selesaikan terlebih dahulu. Aku dan suami bingung apakah ayah akan mau datang dan duduk di kursi di sebelahku ketika pesta pernikahan nanti dilakukan. Karena ayah menikah lagi 2 minggu setelah kami menikah. Ia menikah dengan perempuan yang menjadi salah satu penyebab perceraian ayah dan ibu.

Dan benar saja, dimulai sejak persiapan dan hingga bahkan pesta pernikahan dilaksanakan, ayah tidak pernah hadir barang sedikitpun. Bahkan ia bener-benar memutuskan jalan komunikasi, jalan silaturahmi dengan kami. Ayah tidak pernah menanyakan sejauh mana persiapan yang sudah dilakukan, hal apa saja yang kurang, apakah biayanya memadai, bahkan ayah tidak pernah menanyakan bagaimana kabar kehidupan pernikahanku. Dan aku berdiri di pelaminan ketika pesta pernikahan tanpa ayah di sampingku, hanya ada suamiku dan ibuku.

Ayah akan selalu menjadi penyebab air mata kesedihan tidak tertahankan. Untungnya aku memiliki suami yang dengan sabar selalu ada dan siap siaga menjadi orang yang akan selalu ada untuk menghapus air mata yang disebabkan oleh ayah. Boleh saja aku tidak merasakan kasih sayang seorang ayah meskipun dirinya masih hidup di dunia. Boleh saja aku tidak menerima hakku sebagai anak perempuan. Boleh saja aku tidak merasakan apa yang anak perempuan terima dari ayahnya ketika hendak menikah. Boleh saja aku tidak dipeluk dan dilepas dengan haru saat akan menikah oleh ayah. Tetapi, dari semua air mata, kesedihan dan pedih yang sudah ayah berikan dari dulu hingga sekarang. Allah telah menggantikan dan hapus semua dengan sosok laki-laki yang kini menjadi imamku, suamiku. Dan aku sangat bersyukur akan hal itu.

(vem/nda)
Artikel Selanjutnya
Tenda Biru Saksi Bisu Pernikahan di Tengah Kebakaran
Artikel Selanjutnya
Guyonan Berujung Lamaran, Menikah di Usia 22 Tahun dengan Budget Rp20 Juta
: