Sukses

Lifestyle

Mempersiapkan Pernikahan Bikin Pusing Tapi Jangan Lupa Bahagia Ya!

Bismillahirrahmanirrahim…

Hai ladies, kenalan dulu ya. Nama pena saya Dee, saya tinggal di sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Kebetulan saya anak pertama dari dua bersaudara, Insyaallah awal bulan November saya akan melangsungkan pernikahan, mohon doanya agar semua diberi kelancaran dan kemudahan sehingga kami bisa melangsungkan pernikahan, menjadi keluarga yang samawa bahagia sehidup sesurga. Amin.

Pernikahan merupakan sebuah momen yang ditunggu-tunggu oleh setiap pemuda dan pemudi untuk melepas masa lajang. Lebih dari hal itu sebuah pernikahan merupakan perjanjian suci bagi sepasang kekasih untuk saling mendampingi mengarungi pahit, manis, asam, asinnya kehidupan. Selayaknya hal yang istimewa terkadang jadi tidak mudah untuk sampai pada tahap pernikahan, banyak onak dan duri yang menghadang dan jika sudah pada tahap lamaran kita akan disibukkan dengan persiapan hari bahagia tadi.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Seperti yang sedang saya lalui, berasal dari keluarga yang tinggal di daerah yang notabenenya desa membuat saya dan pasangan harus benar-benar menghormati adat istiadat yang ada. Sehingga tanggal pernikahan ditentukan berdasarkan adat yang ada. Awalnya membuat kami kurang sepakat namun mengingat sebelum lamaran saja hubungan kami sudah banyak mendapat cobaan sehingga kami turuti saja keinginan orang tua yang penting kami bisa melangsungkan pernikahan titik.

Ternyata tidak sampai di situ, di awal kami sudah sepakat untuk melangsungkan acara dalam waktu sehari, tetapi orang tua saya menginginkan untuk tasyakuran dua hari sebelum hari pernikahan. Artinya acara menjadi tiga hari, belum lagi permintaan lainnya dari orang tua saya yang harus juga dipenuhi. Hal tersebut membuat saya menjadi serba salah, saya tidak bisa serta merta memaksakan itu kepada pasangan saya. Karena saya pun harus realistis dengan kondisi pasangan saya yang saat ini masih dalam tahap merintis usaha.

Persyaratan demi persyaratan yang diajukan oleh keluarga saya lama-lama seakan memberatkan pasangan saya, sehingga mulailah terjadi ketegangan-ketegangan di antara kami. Dag dig dug derrrr… Terutama saya, karena tekanan yang saya alami di rumah lama-lama saya pun tidak bisa menahannya sehingga sering saya luapkan kepada pasangan. Hal ini mempengaruhi diskusi dan interaksi kami akhir-akhir ini, seolah jadi selalu ada saja hal yang tidak cocok saja.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Lebih tepatnya saya sih yang bawaannya sensi melulu. Saya jadi loyo untuk mempersiapkan berkenaan dengan salon, tratag dan sebagainya. Sebenarnya bukan karena takut ada perdebatan tapi jadi ragu untuk melangkah. Apalagi kami adalah pasangan LDR (yang LDR mana suaranya?). Saya kadang merasa capek sendiri karena harus urus ini itu sendiri selama pasangan tidak di rumah. Waktu itu hanya karena pemilihan bentuk henna, saya jadi marah dan tidak mau berkomunikasi dengannya. Bukan dia memaksakan saya untuk sesuai kemauannya justru sebaliknya karena dia menjawab “terserah” padahal suasana hati sedang tidak karuan. Jadi untuk para calon suami jangan selalu bilang “terserah” saat dimintai pendapat.

Masalah bertambah rumit jika berhubungan dengan dana pernikahan, saya sadar tabungan yang kami punya jauh dari kata cukup padahal seluruh rangkaian acara harus terbiayai. Rasanya mustahil untuk menyiapkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat, jadi pusing dan ingin menangis jika memikirkan hal itu. Bahkan saya sudah give up dan sampai berpikir untuk membatalkan pernikahan karena permasalahan yang seperti benang kusut.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Namun janji Allah memang selalu benar, setiap kesulitan pasti sepaket dengan kemudahan lainnya. Pasangan saya orang yang sangat keras kepala namun dia punya sikap yang sabar, biarpun hampir setiap hari saya marah-marah dan minta membatalkan pernikahan dia selalu menyemangati saya untuk terus bertahan. Walaupun sulit dan menguras energi satu persatu masalah bisa terselesaikan. Dia mengatakan bahwa tidak ada masalah yang tidak ada solusinya kecuali kematian, dan mudah-mudahan itu menjadi kata ajaib yang selalu menguatkan kita. Amin.

So, untuk ladies yang sedang mempersiapkan pernikahan saya sarankan untuk melapangkan hati dan selalu mendinginkan kepala. Karena akan datang berbagai badai dan banjir air mata. Saling menguatkan adalah kunci utama kesuksesan sebuah pernikahan selain kita juga harus berusaha mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Finally, seberat apapun masalah yang terjadi pra pernikahan adalah cobaan yang harus ladies dan pasangan lalui. Jangan seperti saya yang sempat menyerah.

Komunikasi menjadi penting, diskusi dengan keluarga, terutama dengan pasangan tentunya. Lakukan secara intensif, apalagi hal-hal yang menyangkut kedua keluarga. Saya dan pasangan punya kesepakatan untuk bertanggung jawab mengondisikan keluarga masing-masing. Kenapa? Karena ingat ya, yang menikah bukan hanya kita namun juga keluarga kita. Sehingga menjadi hal wajib untuk saling memahami dan mencari solusi dari permasalahan yang ditimbulkan dari pihak keluarga besar. Karena sekali lagi, pernikahan adalah hal baik namun tidak akan menjadi baik jika ada salah satu dari kita ataupun keluarga yang tersakiti. Selamat menanti hari spesial, jangan lupa bahagia.

(vem/nda)
Artikel Selanjutnya
Menikah Bukanlah Akhir Cerita, Tapi Awal Kisah Cinta yang Sesungguhnya
Artikel Selanjutnya
Ayah Menjadi Kesedihan Terbesar pada Hari Paling Membahagiakan
: