Sukses

Lifestyle

Wanita yang Terlihat Ceria Bisa Menyimpan Duka Paling Dalam di Hidupnya

Hidup memang tentang pilihan. Setiap wanita pun berhak menentukan dan mengambil pilihannya sendiri dalam hidup. Seperti cerita sahabat Vemale yang disertakan dalam Lomba Menulis April 2018 My Life My Choice ini. Meski kadang membuat sebuah pilihan itu tak mudah, hidup justru bisa terasa lebih bermakna karenanya.

***

Nama saya Mika, September tahun ini saya genap berusia 26 tahun. Saat ini saya seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta dan saya memiliki beberapa usaha mandiri yang sedang saya kelola. Saya seorang yang periang dan mudah bergaul, mungkin itu juga alasan saya selalu menjadi tempat teman-teman saya meminta saran dan saya juga seorang pendengar dan pengamat yang baik sehingga teman-teman saya senang mencurahkan masalah mereka kepada saya.

Saya gemar menulis dan membaca, sebenarnya saya memiliki sangat banyak kesukaan. Saat ini saya hanya ingin membagikan kisah saya, saya hanya berpikir mungkin cerita saya mampu menginspirasi orang lain dan mampu membuat mereka menentukan pilihannya sendiri dan bertanggungjawab atas hidup yang harusnya mereka jalani dan nikmati.

Hidup saya lumayan menyenangkan, seperti sebuah petualangan panjang yang penuh teka-teki tak berujung. Saya hidup baik-baik saja sampai saat ini karena pilihan yang telah saya ambil dan saya pasti tidak akan menyesalinya, karena saya selalu merasa bahwa keputusan besar yang telah saya ambil pada saat itu adalah pilihan yang telah menyelamatkan saya dari hidup penuh penyesalan dan seakan menyelamatkan saya dari penjara yang entah kapan bisa saya tinggalkan.

Ilustrasi anak perempuan./Copyright shutterstock.com

Saya berasal dari keluarga yang tidak utuh, ayah dan ibu saya bercerai saat saya berada di kelas 3 SD, saya memiliki seorang adik laki-laki dan dua kakak perempuan dari pernikahan pertama ayah saya, dari kecil saya terbiasa merawat adik saya. Sejak saya kelas 4 SD saya tinggal bersama dengan paman dan bibi saya beserta nenek dan kakak-kakak saya beserta adik saya, beliaulah yang telah membantu pendidikan saya hingga SMA. Walaupun periang, di dalam hati saya selalu terdapat luka yang seolah tidak dapat sembuh.

Saya juga menyadari walau saya bergaul dengan banyak orang tapi sesungguhnya saya adalah anak yang tidak terbuka akan perasaan yang saya rasakan, saya menjalani masa sekolah saya dengan penuh perjuangan, saya juga harus benar-benar mengurus diri saya sendiri, saya bahkan merasa tidak punya hak untuk mengeluh. Saya anak yang seolah telah hidup di sebuah lingkaran yang harus berputar sesuai arah setiap hari. Hal-hal buruk mulai menimpa keluarga saya saat nenek saya meninggal pada saat saya di tingkat 3 SMP, semakin banyak lagi rintangan dan masalah yang saya hadapi setelah itu, banyak kejadian yang membuat saya semakin mengasingkan perasaan saya, saya mulai menyimpan banyak rahasia. Kemunduran dan rasa percaya diri saya runtuh secara perlahan pada tahap ini.

Setelah pengumuman kelulusan dan saya melihat nilai ujian saya, pada saat itu saya membulatkan tekad dan ini juga merupakan langkah pertama keputusan yang saya ambil. Saya bertekad apapun yang terjadi, sesulit apapun semuanya saya harus bersekolah SMA. Saat itu saya tinggal di pedesaan, tidak ada sekolah SMA di sana, maka saya harus ke kota jika ingin bersekolah sementara biaya pendidikan untuk SMA sangat mahal bahkan untuk biaya pendaftarannya Ayah saya tidak mampu untuk membayarnya saat itu, karena situasi keuangan kami tidaklah bagus saat itu. Sementara keuangan paman dan bibi saya pun tidak dalam kondisi yang baik. Namun saya tetap bersikeras untuk mengikuti tes masuk SMA, setelah menangis seharian akhirnya ayah saya mengantarkan saya dan satu teman saya mengurus pendaftaran kami dan kami pun menjalani tes selama 3 hari.

Ilustrasi wanita./Copyright shutterstock.com

Hasil tes menunjukkan bahwa kami lulus, saya dan teman saya sangat senang namun ternyata kendala yang lebih berat menghadang perjalanan kami. Keluarga kami tidak mampu membayar biaya pendaftaran yang bahkan tidak bisa dibayar secara angsuran. Saya kembali ke rumah dan mengetahui bahwa ayah saya sengaja pergi bekerja ke luar kota untuk menghindari saya karena beliau tidak memiliki uang sebanyak itu untuk membayar biaya pendaftaran masuk sekolah. Hati saya hancur seketika saat itu, perasaan saya sangat-sangat kecewa.

Saya berpikir bahwa satu lagi orang yang pergi dan menghindar saat situasi hidup saya yang seakan di ujung tanduk. Saya kembali menutup diri, saya tinggal di rumah kosong di mana rumah tempat saya dan kakak-kakak serta adik dan nenek saya tinggal sebelum beliau wafat. Saat itu umur saya baru 14 tahun, saya hanya bisa menangis meratapi nasib saya, saya bahkan tidak tahu harus bercerita atau bahkan mengeluhkan semua penyesalan saya hidup. Namun Tuhan menjawab tekad saya dan memberikan sebuah keajaiban, paman saya mendapatkan uang untuk saya mendaftar sekolah, beliau bahkan mengantarkan saya mendaftar, bahkan sampai saat ini momen ini masih menjadi hal yang sangat-sangat saya syukuri. Akhirnya saya dapat bersekolah dan akhirnya satu tahap hidup saya sudah saya perbaiki. Saat itulah saya yakin, jika tekad saya kuat maka saya pasti akan diberi sebuah kesempatan dan apapun yang terjadi saya tidak boleh kehilangan kesempatan itu.

Pilihan yang kedua yang saya ambil adalah ketika saya lulus dari SMA, sebenarnya tepatnya sebelum pengumuman kelulusan. Bagi seorang wanita desa mungkin menikah di usia muda adalah hal yang wajar, tapi tidak untuk saya. Saya pribadi tidak pernah berkencan dengan seseorang selama bersekolah karena saya sadar betul bahwa ada tujuan yang ingin saya raih dan saya tidak ingin membagi pikiran saya dengan hal-hal yang tidak mendasar dan membuang-buang waktu saya, setidaknya itulah yang saya pikirkan ketika saya masih sekolah.

Ilustrasi wanita./Copyright shutterstock.com

Namun beda halnya dengan orang-orang tua di kampung saya, sebelum lulus pun saya telah diwanti-wanti untuk segera menikah apalagi bila telah memiliki kekasih, dan saya sangat sadar apabila setelah lulus saya tidak ke kota atau keluar daerah untuk bekerja, maka nasib saya akan berakhir pada pernikahan muda yang berawal dari perjodohan yang sudah pasti sangat membuat saya kesal. Maka saat itu saya memutuskan untuk bekerja walaupun hanya sebagai asisten rumah tangga. Itu adalah keputusan yang harus saya ambil sebagai strategi untuk menarik diri secara perlahan.

Setelah lulus saya memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai ART, kemudian saya mengikuti ibu saya ke kampung halamannya untuk tinggal dan bekerja di sana. Namun ternyata saya kembali dihadapkan pada situasi yang malah hasil nyata dari apa yang saya pikirkan tentang orang-orang di desa saya. Ternyata tradisi saudara-saudara dari ibu saya lebih parah, mereka akan menjodohkan anak mereka ketika mereka merasa anak mereka cukup untuk menikah walau mereka masih sangat muda dan masih di bangku sekolah.

Perjuangan saya untuk mempertahankan cita-cita saya sangat diuji di sini, awalnya saya hanya berdiam diri ketika beberapa pria mulai berdatangan melamar saya, dan yang pada akhirnya berujung penolakan serius yang harus saya lakukan dan penegasan ketidaksukaan saya terhadap tradisi tersebut. Namun untungnya kali ini saya tidak berjuang sendiri, saya memutuskan untuk memberitahu dan meminta dukungan ibu saya untuk memberikan pengertian kepada saudara-saudara beliau agar dapat memahami apa yang ingin saya raih. Dan pada akhirnya, walau harus mendapat perlakuan kurang mengenakkan dan kata-kata yang saya anggap tidak pantas untuk saya dengar, saya berhasil melewati fase itu dan memutuskan untuk bekerja ke kota lain lagi.

Ilustrasi wanita./Copyright shutterstock.com

Namun yang menjadi poin di sini adalah kata-kata yang mereka ucapkan justru menjadi motivasi kepada diri saya sendiri bahwa saya harus membuktikan kepada mereka bahwa perkataan mereka salah dan saya mampu dan sanggup mencapai tujuan saya dengan usaha dan tekad saya. Dan kalau kalian pikir saya menyesal datang ke daerah itu, kalian salah, karena saya malah sangat bersyukur karena dahulu saya menghindarinya tapi akhirnya saya lega karena bisa benar-benar melewatinya dengan baik, maka saya tidak pernah menyesal dan banyak yang saya dapat pelajari dari pengalaman tersebut.

Pilihan ketiga dan yang paling terakhir saya ambil adalah setelah saya memutuskan untuk ke kota lain, akhirnya saya ke pulau lain yaitu ke daerah Kalimantan Timur yang kini telah menjadi wilayah Kalimantan Utara yaitu Kota Tarakan. Saya ke sana tanpa sepengetahuan ayah saya, karena saya tahu beliau akan sangat khawatir terlebih lagi daerah tersebut sedang mengalami konflik.

Gambaran wanita selalu membayangi langkah saya, wanita desa harusnya hanya di rumah, setelah lulus sekolah harus menikah, punya anak, lalu berlanjut pada fase kehidupan seperti biasa. Namun entah kenapa diri saya selalu merasa harus mendobrak tembok pembatas di mana sketsa perempuan sudah dianggap sebagai landasan bagaimana harusnya menjalani hidup.

Saya ke luar pulau pertama kali, memberanikan diri mengadu nasib di sana sembari mencari bekal kemahiran yang nantinya bisa saya gunakan untuk mencapai tujuan saya. Oh ya saya belum memberitahu bahwa tujuan saya adalah menjadi seorang pendiri multi bisnis, dan saya juga punya catatan keinginan setelah sukses pertama kali yang saya bangun adalah panti asuhan, dilanjutkan dengan sekolah, lalu rumah sakit kemudian panti jompo. Dan sebenarnya niat bisnis saya adalah untuk membentuk dan mewujudkan catatan keinginan saya.

Saya banyak belajar di pulau tersebut, banyak pengalaman yang saya peroleh, tapi sekali lagi tujuan saya bukan itu. Saya kembali berpindah ke pulau lain yang tidak lain adalah Jakarta, lain halnya dengan sebelumnya, kali ini saya mendapat restu dari kedua orangtua saya dan seluruh keluarga. Mereka mulai melihat bahwa saya adalah pribadi yang berani dan memiliki tekad kuat sehingga mereka mulai percaya bahwa apa yang saya cita-citakan mungkin dapat saya raih.

Kini jalan saya semakin lapang, saya pertama kali datang ke Jakarta dengan modal pengalaman yang saya dapat setelah bekerja di berbagai daerah. Setelah kurang lebih satu tahun keluarga saya di sini mengajak saya berbisnis kuliner, akhirnya kakak sepupu tempat saya tinggal membuka sebuah perusahaan. Dan akhirnya walau masuk dengan koneksi saya mulai bekerja sebagai seorang karyawan di perusahaan untuk pertama kalinya, namun saya bukan orang yang berkecil hati.

Saya hanya berkata pada diri sendiri bahwa ketika saya melakukannya dengan baik maka lama-kelamaan orang pasti akan melihat dan mengakui usaha dan kemampuan saya terlepas dari usia, pendidikan, serta pengalaman kerja saya. Dan saya sangat sadar jalan saya masih sangat panjang dan tidak ada orang yang benar-benar tahu apa yang sudah saya lalui karena bahkan saya sendiri saja kadang lupa hal-hal menyakitkan yang pernah saya lalui sampai ke tahap ini karena semua sudah terasa melegakan.

Ilustrasi wanita./Copyright shutterstock.com

Di sinilah saya mulai bayak belajar, saya mulanya belajar bagaimana menjadi seorang karyawan. Lalu setelah setahun bekerja saya kembali melanjutkan pendidikan saya, di sini saya belajar bagaimana menjadi seorang mahasiswa. Lalu saat proses itu saya mulai melihat peluang untuk mewujudkan apa yang saya inginkan, akhirnya di sini saya belajar memulai usaha. Sampai akhirnya kini saya telah menjajaki berbagai usaha, mulai dari online shop, berbagai makanan, pakaian, aksesoris, peternakan dsb. Akhirnya saya jadi mendapat banyak pengetahuan dan pengalaman hingga sekarang.

Kini saya telah lulus dengan nilai yang memuaskan dari kampus swasta di Indonesia, kini saya bukan lagi gadis desa yang menjalani hidup dengan urutan biasa, hidup, menikah dan mati. Sebagai wanita kita memang harus mendobrak banyak tembok yang membatasi gerak kita, asal masih terus dalam konteks positif dan masih dibenarkan secara hukum dan agama. Dan saya sangat setuju bahwa apapun yang ada di hidup kita itu adalah pilihan kita.

Saya juga sangat berharap wanita-wanita muda yang masih terkekang tradisi, atau masih tidak memiliki keberanian menunjukkan bakat yang mereka punya untuk memberanikan diri untuk meraih cita-cita mereka, karena hal itu hanya tidak mungkin apabila kita tidak mencoba meraihnya. Saya telah memilih setiap jalan di hidup saya dan saya sangat bangga pada diri saya sendiri dan sudah pasti saya tidak pernah menyesalinya, karena jika waktu diulang kembali pun saya pasti akan mengambil jalan yang sama.

Saya hanya salah satu dari ribuan orang yang berhasil mendobrak keterbatasannya dan mulai berjalan di jalan yang mereka pilih, dan saya hanya berharap kisah saya mampu menginspirasi wanita lainnya agar dapat bergerak maju dengan penuh keberanian, anak-anak muda berjuang dengan semua keterbatasan yang ada dan mulai berusaha, dan satu tips dari saya adalah dalam langkahmu usahakan membuat seperti tangga yang mengarah ke atas, tiap tahap harus kamu tingkatkan bukan turunkan. Seperti halnya saat bekerja saya menerapkan agar pekerjaan yang saya lakukan harus setingkat lebih tinggi atau lebih statusnya dari pekerjaan sebelumnya. Walau pelan tapi pasti maka kamu akan berangsur-angsur naik tanpa ada batasan puncak karena hidup adalah belajar dan terus belajar.

Terima kasih sudah berkenan membaca kisah saya.





(vem/nda)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading