Sukses

Lifestyle

Daripada Mengutuk Keadaan, Lebih Baik Berdamai dengan Melakukan Kebaikan

Fimela.com, Jakarta Apapun mimpi dan harapanmu tidak seharusnya ada yang menghalanginya karena setiap perempuan itu istimewa. Kita pun pasti punya impian atau target-target yang ingin dicapai di tahun yang baru ini. Seperti kisah Sahabat Fimela ini yang kisahnya ditulis untuk mengikuti Lomba My Goal Matters: Ceritakan Mimpi dan Harapanmu di Tahun yang Baru.

***

Oleh: Umi Laila Sari - Banyuasin

Menulis Resolusi Besar-Besar dan dengan Huruf Kapital

Sejak menikah tahun 2012 lalu, saya pindah domisili mengikuti suami. Butuh waktu hampir setahun mengurus pergantian KTP dan KK. Birokrasi yang sering kali membuat saya lelah. Tapi sudahlah. Bagaimanapun, kini saya resmi menjadi warga desa. Saya yang lebih dari 25 tahun tinggal di kota, harus menerima pada akhirnya berdiam di desa.

Banyak hal yang berubah dalam hidup saya. Selain tentang status yang tidak lagi sendiri, juga perihal kondisi desa yang jauh berbeda dengan kota. Sejujurnya kondisi awal pernikahan ini saya rasakan cukup berat. Tak jarang saya meluapkan kesedihan lewat tangis tanpa suara. Bukan menyesali pilihan untuk menikah. Tapi rasa sepi serta bingung yang perlahan menyiksa perasaan.

Namun hidup tetap harus berlanjut. Lebih baik berdamai dengan keadaan dibanding terus berharap keajaiban yang tidak mungkin. Dengan penerimaan hati yang ikhlas, lambat laun saya mulai mengenal lingkungan sekitar. Berinteraksi dengan lebih banyak tetangga. Melihat dan merasakan bagaimana kehidupan di desa ini. Meyakini bahwa inilah ketentuan Tuhan atas masa depan saya.

Akhirnya saya tahu ada ironi yang terjadi di sini. Cerita tentang ketertinggalan kesadaran akan pentingnya pendidikan. Angka putus sekolah tinggi. Pengangguran banyak. Pernikahan di bawah umur sudah biasa. Perceraian dan perselingkuhan tidak sedikit. Kenakalan remaja, seks bebas hingga narkoba mulai menghantui. Sungguh sebuah kondisi menyedihkan.

Pindah? Tentu saja itu tidak ada dalam alternatif pilihan. Meski ada khawatir terhadap pergaulan anak-anak saya kelak. Pilihan terbaik adalah mulai melakukan sesuatu. Setidaknya menyelamatkan anak-anak yang baru akan tumbuh berkembang. Anak-anak sekitar lingkungan rumah yang akan menjadi teman bermain anak-anak saya.

Dari sebuah ruang di rumah, mulailah saya mengajak tiga, empat anak berkumpul di sore hari. Mereka belajar mengaji, bernyanyi, bercerita, bermain, dan utamanya mendekatkan mereka pada ilmu. Saya berharap anak-anak akan mulai melihat sisi lain dari sebuah proses belajar. Bahwa belajar itu menyenangkan. Belajar bisa dimana saja. Belajar tanpa kenal lelah. Dan belajar sebagai proses pendidikan harus diperjuangkan.

"Bunda, boleh aku ngajak kawan?" tanya salah seorang anak.

"Tentu saja boleh. Tapi kalau mau ikut, harus janji rajin datang ke sini," jawab saya yang diikuti anggukan kepalanya.

Kian hari anak yang datang kian ramai. Memenuhi ruang tengah rumah. Selalu ada keriuhan suara anak-anak hampir setiap hari. Kecuali hari Minggu, mereka bisa datang lebih awal dari jadwal belajar. Atau pulang lebih lama. Saya menyediakan sejumlah buku yang dapat dibaca mereka. Ada komik, majalah, buku cerita, novel hingga buku pelajaran.

Di sela agenda belajar tersebut, saya senantiasa menitipkan pesan tersirat pada anak-anak. Agar mereka mencintai ilmu. Betapa penting pendidikan bagi masa depan mereka. Mereka harus sekolah yang tinggi. Melihat dunia. Mengukir cita-cita. Meraih mimpi. Jangan merasa cukup dengan hanya mampu menulis, membaca, dan menghitung. Namun, tidak ada jalan mulus menuju kesuksesan. Meski saya tidak punya niat lain selain berharap kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak desa kami, tetap ada bisikan nyir-nyir yang akhirnya sampai ke telinga. Mencoba untuk abai walau terasa menyakitkan.

Anak-anak datang dan pergi. Beberapa bertahan sejak awal saya membuka rumah baca ini. Akan tetapi banyak juga yang hilang dan tak pernah datang lagi. Tetapi anak-anak yang lain ikut bergabung. Maka saya harus memulai lagi dari awal. Begitulah seterusnya. Padahal belum ada seorang pun yang dalam penilaian saya bisa dijadikan percontohan hasil belajar di sini.

Kondisi ini sempat membuat saya sedih. Seolah apa yang saya usahakan sia-sia saja. Tidak ada yang secara sungguh-sungguh ingin belajar. Sementara saya sudah bertaruh waktu, tenaga, pikiran, dana, bahkan impian pribadi. Saya ingin totalitas berbuat untuk memberi pencerahan bagi anak-anak desa. Saya ingin anak-anak desa ini memiliki pemikiran maju. Atau mungkin keinginan saya yang terlalu muluk?

Pertanyaan itu lambat laun meracuni harapan yang sudah ditanam. Terbersit untuk mengakhiri semua. Fokus saja pada target pribadi, mungkin itu akan lebih menyenangkan dan menenangkan.

Sekali, dua kali, saya mencoba meyakini apa yang akan diputuskan. Terasa ada yang nyeri. Tidak. Saya tidak bisa menyerah. Saya tidak bisa berhenti di sini. Apa yang saya harapkan bukan semata mengharap pujian manusia. Bukan pula kerja sesaat yang hasilnya langsung dapat dilihat.

Bagi saya, ini harapan besar. Tidakkah sama apa yang saya harapkan dengan cita-cita RA Kartini di masanya? Jika seorang Kartini membawa cita-cita hingga akhir hidupnya, mengapa saya yang belum banyak berbuat harus menyerah?

Tahun 2019 sudah tiba. Tiga tahun sejak sebuah harapan saya tanam untuk generasi penerus desa ini. Sungguh tidak mudah untuk tetap bertahan. Tapi saya memilih untuk terus berjalan, meniti mimpi yang terpatri. Jika harus saya tulis resolusi di tahun ini, maka mengembalikan semangat mengelola rumah baca harus ditulis besar-besar dengan menggunakan huruf kapital. Agar saya tak lagi berniat menoleh ke belakang. Mempertanyakan keputusan yang telah saya buat dengan kesadaran penuh.

"Kalau kita membantu orang, insyaallah Allah akan membantu kita," kata-kata suami yang sering ia ucapkan untuk menyemangati saya. Hari-hari melelahkan kembali saya jalani. Sejak pagi, siang dan sore, selalu ada anak-anak dengan tingkah pola masing-masing meramaikan rumah. Membaca buku, mengaji, bermain, bercerita, menggambar, dan sebagainya.

Saya tidak tahu kapan usaha saya terlihat hasilnya. Mungkin sepuluh, dua puluh tahun lagi atau mungkin saya tidak pernah melihatnya. Saya tidak peduli. Menanam kesadaran dan mencintai ilmu melalui proses belajar ibarat menanam pohon durian. Butuh waktu puluhan tahun hingga buah pertama dapat dipanen. Tapi setelah pohon tersebut berbuah, maka setiap tahun di puluhan tahun kemudian ia tidak akan putus memberi hasil. Dan pastinya, saya menanti hasil berupa balasan kebaikan hanya dari Tuhan.

Begitulah impian besar itu terus menaungi hari-hari saya. Menjadi sumber energi untuk terus bergerak memberi manfaat bagi sekitar.

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Pernikahan Itu Meniti Masa Depan Hingga Ajal Menjemput
Artikel Selanjutnya
Tak Kenal Lelah untuk Berjuang Bersama, Itu Esensi Penting dalam Pernikahan