Sukses

Lifestyle

Pernikahan Bukan Hanya Menjanjikan Kebahagiaan tapi Juga Mengajarkan Keikhlasan

Fimela.com, Jakarta Apapun mimpi dan harapanmu tidak seharusnya ada yang menghalanginya karena setiap perempuan itu istimewa. Kita pun pasti punya impian atau target-target yang ingin dicapai di tahun yang baru ini. Seperti kisah Sahabat Fimela ini yang kisahnya ditulis untuk mengikuti Lomba My Goal Matters: Ceritakan Mimpi dan Harapanmu di Tahun yang Baru.

***

Oleh: R - Jombang

Seperti tahun pertama, tahun kelima ini aku terus berjuang bersama suami.

Memilih dia menjadi pendamping hidupku sekaligus imamku adalah keputusan terbaik dalam hidupku. Kami menikah tahun 2014 saat dia masih proses menyelesaikan kuliahnya di Yogyakarta dan aku baru saja resign dari salah satu perusahaan swasta di Malang. Berbekal tabungan hasil bekerja selama dua tahun dan hasil dari usaha kecil-kecilan suami kami mantap menikah. Setelah menikah kami tinggal dikontrakan gang sempit dekat kampus suami. Rumah kecil berkamar satu yang cukup layak untuk pasangan baru menikah seperti kami.

Tahun pertama, seperti yang banyak dikatakan orang, tahun pertama menikah adalah yang paling sulit. Benar saja saat itu banyak sekali perbedaan pendapat, cekcok, sampai sempat terpikir untuk pulang ke rumah orang tua. Namun, saat itu juga kami sadar bahwa pernikahan bukan hanya menjanjikan kebahagiaan tetapi juga mengajarkan keikhlasan untuk terus bertahan bersama-sama menghadapi semua ujian.

"... Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.“ (QS. Al-Anbiya’ :35)

 

 

 

Allah swt menguji kami dengan kekurangan, kami dihadapkan situasi bagaimana caranya agar bisa bertahan hidup. Usaha apapun kami lakukan untuk mencari karunia-Nya, yang terpenting halal dan berkah. Mulailah kami berjualan keripik singkong, jaga stand kebab, jual salad buah, pizza mini, dan kue lumpur. Semua kami lakukan dengan semangat sepenuh hati. Alhamdulillah berapapun hasilnya kami syukuri dengan bahagia. Dari proses itu, kami sadar bahwa kebahagiaan bisa dirasakan walau dalam kekurangan.

Tahun kedua, kondisi perekonomian kami perlahan mulai membaik. Suami diterima bekerja di bagian marketing di perusahaan TV berlangganan, gaji suami alhamdulillah cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Menjalani hari-hari di rumah saat ditinggal suami bekerja terasa sangat sepi. Rasa bosan terkadang hinggap ketika menunggu suami belum pulang karena lembur kerja hingga tengah malam.

Seketika terlintas di pikiran aku juga ingin bekerja, toh hasilnya bisa bantu keuangan keluarga. Kuutarakan niatku untuk bekerja, awalnya ditolak oleh suami tapi karena aku keukeuh akhirnya dibolehkan juga. Perjuangan pun dimulai, mendapatkan pekerjaan di kota besar sekelas Yogyakarta bukanlah perkara mudah. Berkali-kali aku harus menerima kegagalan mendapatkan pekerjaan.

Sampai akhirnya Allah swt menakdirkan aku diterima disalah satu lembaga keuangan syari'ah dengan skenario yang indah. Ya, saat itu adalah tahap wawancara pertama, aku pergi wawancara diantar suami naik motor. Kami berangkat memang agak telat, di tengah jalan kami menabrak motor lain. Aku terpental ke aspal dan terseret karena tas selempangku tersangkut di roda motor. Aku dilarikan ke rumah sakit, kebetulan di dekat lokasi ada rumah sakit. Baju, sepatu, dan tasku sobek. Aku masih sadar ketika seorang perawat memasang selang oksigen di hidungku. Antara bingung dan sedih aku berpikir ya Allah bagaimana kami membayar rumah sakit ini?

Orang yang kami tabrak pun juga parah. Suami berusaha menenangkan, pasti ada jalan. Setelah lukaku diobati, entah kekuatan dari mana yang mendorongku untuk tetap ingin pergi wawancara. Aku cukup yakin bisa berdiri dan berjalan, meyakinkan dokter penjaga bahwa aku baik-baik saja. Akhirnya suami menelepon kantor yang memanggilku wawancara, apakah masih bisa mengikuti wawancara setelah telat tiga jam. Alhamdulillah masih bisa ditolelir karena dengan alasan kecelakaan. Bermodal baju yang sobek dan wajah pucat menahan ngilu aku masuk ke ruang manager. Wawancara berjalan seperti biasanya, dan di akhir pertanyaan beliau tampak mengamati wajahku yang pucat. "Iya, Bu. Tadi saya kecelakaan." Pekerjaan yang kuinginkan akhirnya kudapatkan, pelajaran hidup yang kudapat kali ini adalah proses itu lebih indah apapun hasilnya.

Tahun ketiga yang indah, kebahagiaan pernikahan terasa lengkap saat Allah swt memberiku amanah putra yang lucu dan tampan. Menjalani kehamilan pertama memang tidak mudah. Banyak sekali perubahan dan hal baru terjadi. Morning sickness di trimester awal sampai kaki bengkak di semester akhir. Tapi itu semua bukan apa-apa dibanding rasa bahagia akan menjadi ibu.

Waktu itu hari Rabu sore, aku merasa sakit perut yang tidak biasa, apakah ini tanda mau melahirkan. Semakin lama rasanya semakin sakit. Keesokan harinya, kami memutuskan pergi ke rumah sakit, setelah dicek ternyata belum ada pembukaan. Kami diminta datang kembali besok. Aku semakin yakin ini adalah tanda aku segera melahirkan, dengan berbekal dari buku yang kubaca, kulalukan semua cara agar mempercepat pembukaan.

Jum'at pagi, rasanya sudah tidak kuat lagi berdiri dan berjalan. Kuputuskan pergi ke rumah sakit. Setelah dicek ternyata baru pembukaan satu. Kami disarankan menginap karena perkiraan siang bayinya bisa lahir. Siang sampai tengah malam stag cuma sampai pembukaan 3. Demi keselamatan kami, akhirnya dokter menyarankan tindakan SC untuk melahirkan buah hati tercinta. Manusia bisa merencanakan sesuatu tapi Allah yang menentukan takdirNya.

Tahun keempat, kebahagiaanku menjadi seorang ibu terasa sangat indah ketika melihat putraku tumbuh. Namun kegalauan mulai timbul ketika masa cuti melahirkan telah habis. Seperti perang batin aku harus meninggalkan bayiku untuk bekerja dan menitipkan ke penitipan anak. Hari pertama kerja setelah masa cuti habis, air mata terus mengalir melihat anakku harus kutinggal demi rupiah yang tak seberapa. Hari demi hari kujalani rutinitasku menjadi ibu pekerja. Sampai suatu hari suami menyuruhku resign dari kantor.

Keyakinanku semakin bertambah untuk segera resign dan menjadi full mommy untuk anakku. Segera hari itu juga kutulis surat pengunduran diri dan kuberikan HRD. Semua teman sekantorku terkejut dengan keputusan mendadakku ini. Tapi inilah keputusanku, naluriku sebagai ibu yang ingin terus bersama putranya. Dan ternyata proses pengunduran diriku dipersulit oleh kantor. Aku harus menunggu dua bulan untuk resign. Setelah resign, rasanya aku kembali terlahir kedunia yang baru. Dunia seorang ibu yang sepanjang waktu bisa menemani putra tercintanya. Kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan uang.

Tahun ini adalah tahun kelima pernikahan kami. Perjuangan kami masih terus berlanjut. Membesarkan dan mendidik putra kami, mengantarkan dia kemasa depan yang lebih baik. Terus berusaha menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Resolusiku tahun 2019 ini adalah, seperti tahun pertama pernikahan. Aku terus berjuang bersama suami.

 

;
Loading