Sukses

Lifestyle

Kebahagiaan Sejati Hanya Akan Terasa Saat Bisa Memperjuangkan Passion Kita

Fimela.com, Jakarta Apapun mimpi dan harapanmu tidak seharusnya ada yang menghalanginya karena setiap perempuan itu istimewa. Kita pun pasti punya impian atau target-target yang ingin dicapai di tahun yang baru ini. Seperti kisah Sahabat Fimela ini yang kisahnya ditulis untuk mengikuti Lomba My Goal Matters: Ceritakan Mimpi dan Harapanmu di Tahun yang Baru.

***

Oleh: Putri Brilliany - Blitar

2019: A Time when a Butterfly Tries its Wings for the First Time!

 

Hari ini, setahun yang lalu, aku bukan diriku yang sesungguhnya. Hari ini, setahun yang lalu, aku masih sibuk bertarung dengan quarter-life crisis (umurku bahkan belum menginjak 25 tahun) yang melibatkan ego dan ekspektasi-ekspektasi penuh tekanan. Hari ini, setahun yang lalu, aku memang menemukan sebenar-benarnya passion-ku, namun terpaksa harus bertahan untuk menjalani perkuliahan sehari-hari yang monoton dan jauh dari apa yang kucita-citakan. Sehingga, hari ini, setahun yang lalu, aku masih kerap mencari-cari celah di antara tugas, penelitian di lab, skripsi, serta mencuri waktu di malam-malam yang larut, atau bahkan di tengah-tengah penjelasan dosen saat di kelas. Semua, hanya agar aku bisa melakukan apa yang hatiku benar-benar inginkan:

...menulis fiksi.

Ketika masa perkuliahanku usai di akhir tahun 2018 lalu, aku membuat keputusan besar untuk serius menjadikan passion-ku menjadi karier. Meminta izin kepada orangtua sempat menjadi tantangan terbesar. Menegangkan. Bagaimana tidak? Sejak SMA, aku masuk kelas IPA. Orangtua pun sudah susah payah membiayai kuliahku di jurusan yang menyiapkan lulusannya agar bisa bekerja di laboratorium industri-industri kimia dan pangan. Tanpa angin, tanpa hujan, pikir ayah dan ibu pastinya, mengapa tiba-tiba bocah ini banting setir ke sastra? Penulis kerjanya bagaimana? Dapat penghasilan dari mana? Tentu, ini membuyarkan ekspektasi mereka.

Namun salah satu quote dari Paulo Coelho ternyata benar adanya, bahwa, “Jika kamu memiliki keinginan yang kuat dan berdoa, maka seluruh alam semesta akan berkonspirasi untuk mendukungmu.” Berbanding terbalik dengan apa yang sempat kukhawatirkan selama ini, ayah dan ibu menyetujui dan mendukung sepenuhnya atas keputusanku. Setelah pelan-pelan berusaha kuyakinkan, mereka akhirnya memahami, bahwa dulu saat memilih jurusan, aku pun belum tahu apa yang sebenarnya kuinginkan. Ayah hanya menyarankan masuk di jurusan yang terlihat memiliki prospek bagus di masa depan. Kata beliau, toh, jika pada akhirnya aku memilih jalan karier yang berbeda, ilmu tetaplah ilmu. Tak ada yang sia-sia.

 

Masih jelas di ingatan bagaimana aku menangis sesenggukan karena haru saat menelepon ayah di kampung halaman, membicarakan ini sampai larut malam.

Aku, sudah jatuh cinta dengan sastra.

Meski tak tahu-menahu tentang teori seperti yang dipelajari dan dibedah oleh mahasiswa jurusan sastra, rasa penasaran selalu membawaku untuk memahami dengan caraku sendiri. Aku membaca novel-novel, menyempatkan untuk datang ke acara yang berbau sastra, dan mengikuti beberapa kompetisi menulis cerpen dan puisi. Aku bersyukur karena sempat menorehkan beberapa prestasi juara. Maka setelah kuputuskan untuk berkarier sebagai penulis, aku tak perlu lagi dilema mencari-cari waktu senggang dan merasa bersalah akan hal itu. Seutuhnya, kini waktu dan energi akan kudedikasikan untuk menulis. Tahun 2019, adalah saat di mana aku akan mencoba mengepakkan sayap untuk pertama kalinya, setelah terlalu lama kuhabiskan waktu menjadi kepompong dan ulat.

Resolusi utamaku di tahun 2019 adalah berkarya, berkarya, dan berkarya. Telah kubuat daftar kompetisi-kompetisi yang akan kuikuti: puisi, cerpen, novel, semua ingin segera kuwujudkan dengan penuh semangat. Tentu diikuti dengan doa, lalu memasrahkan hasil akhir pada-Nya. Yang kedua, tahun ini aku akan lebih intens bergabung di komunitas dan workshop untuk mengembangkan relasi. Ketiga, yang tak kalah penting, adalah meningkatkan fokus pada self-development. Beberapa hal yang ingin kuperbaiki adalah, musuh besar utama, kebiasaan menunda. Juga, meningkatkan kepercayaan diri untuk public speaking, agar nanti bisa berbagi tentang proses kreatif dan pesan mengenai betapa pentingnya passion, yang sangat lekat dengan purpose; yakni tujuan kita hidup di dunia.

Merangkul teman-teman sesama dewasa-muda di luar sana yang terkendala krisis jati diri adalah tujuan utama yang ingin kuselipkan melalui tulisan-tulisanku nanti. Pencarian menjadi tema besar yang akan kubungkus dalam wujud fiksi sedemikian rupa, sehingga bisa dinikmati tanpa terkesan menggurui. Ingin kusampaikan, bahwa memang tidak mudah melalui rintangan itu. Apalagi di zaman sekarang, distraksi dunia maya begitu membabi buta, yang apabila tidak dikelola dengan baik, akan semakin menjauhkan seseorang dari kedalaman jati dirinya. Sementara keberlimpahan, kesuksesan, kebahagiaan sejati, hanya akan benar-benar terasa jika seseorang berada segaris linear dengan passion masing-masing. So, does my goal matter this year? Seriously, it does.

 

Loading