Sukses

Lifestyle

Mimpi yang Terdengar Sederhana Bisa Sangat Kompleks untuk Diwujudkan

Fimela.com, Jakarta Apapun mimpi dan harapanmu tidak seharusnya ada yang menghalanginya karena setiap perempuan itu istimewa. Kita pun pasti punya impian atau target-target yang ingin dicapai di tahun yang baru ini. Seperti kisah Sahabat Fimela ini yang kisahnya ditulis untuk mengikuti Lomba My Goal Matters: Ceritakan Mimpi dan Harapanmu di Tahun yang Baru.

***

Oleh: Jovita - Jakarta Barat

Namaku Jovita, "seorang manusia setengah amoeba" kelahiran 25 Januari 1996. Tepat hari ini aku berusia 23 tahun. Sengaja mengirimkan tulisanku hari ini di batas terakhir pengumpulan, barangkali ulang tahun menjadi salah satu faktor pertimbangan tim Fimela.com dalam memilih pemenang. Kata ayah, Jovita artinya kebahagiaan dan benar nama adalah doa. Entah bagaimana aku tumbuh menjadi sosok perempuan yang diselimuti kebahagiaan bukan karena tidak pernah susah tapi karena selalu berusaha mencari selipan kebahagiaan di balik setiap kesusahan.

Sewaktu kecil aku tidak punya cita-cita, tidak tahu mau menjadi apa, tidak tahu harus bagaimana. Hanya tahu, aku tidak mau mati sia-sia. Salah satu faktor yang memiliki andil paling besar dalam kekosongan cita-citaku adalah faktor lingkungan. Lingkungan tempatku tumbuh itu tabu jika melihat perempuan memiliki ambisi. Bagi mereka perempuan seharusnya pasif dan hanya cocok untuk menjadi seorang istri, membersihkan rumah, menjadi ibu yang baik, melayani suami. Hal ini cukup bertentangan dengan pribadi sanguinku ini.

Seiring bergulirnya waktu, aku terus mencari, pencarian jati diri yang begitu lelah dan tidak mudah, banyak kerikil tajam menghambat. Belum lagi tentangan dari orang tua hingga gunjingan dari masyarakat setempat. Tapi tak apa kutelan semuanya sambil terus mengikuti kata hati. Aku mencoba menggali potensi, menemukan mimpi dengan cara melibatkan diri dalam berbagai organisasi mulai dari bangku sekolah hingga kuliah, mengikuti berbagai macam lomba, dari lomba menyanyi hingga membaca puisi. Tapi ternyata aku masih tidak menemukan apa itu mimpi.

Sampai di penghujung kelas 3 SMA, aku terkekang dilema harus memilih jurusan apa. Ibu menyarankan untuk tidak kuliah tapi kutolak mentah-mentah karena pendidikan adalah harga mati. Ilmu itu sangat berarti terutama dalam pembentukan akal dan budi. Seseorang mungkin dapat kehilangan harta dan materi tapi tidak berlaku untuk akal dan budi. Dengan modal percaya diri aku putuskan memilih jurusan komunikasi meskipun bersulut argumen dengan ibu yang memandukuku memilih akuntansi.

Di semester 2 di bangku komunikasi, aku masih belum tahu akan menjadi apa dan bagaimana caranya. Namun, tetap memilih aktif dalam organisasi kampus, seminar-seminar pelatihan diri, dan berbagai lomba. Sembari berkuliah sembari bekerja sambilan sebagai guru les privat untuk 2 murid perempuanku. Rupanya berhasil, kegiatan-kegiatan ini menambah pengalaman dan semakin membuka pandangan dalam melihat dunia. Lalu kuputuskan untuk menjadi seorang reporter.

 

Ya, awalnya memang mau menjadi seorang reporter. Memberikan informasi kepada masyarakat secara aktual dan akurat. Alasannya sederhana karena sebagai seorang wanita aku juga ingin berguna untuk masyarakat, ingin menghapus skeptis masyarakat yang melihat wanita adalah lemah ditambah lagi aku memang senang menulis, senang melanglang buana, dan berbicara depan kamera.

Tentu saja, reporter adalah pekerjaan yang mulia, bagaimana tidak? Di saat orang-orang menjauhi bahaya, seorang reporter justru mendekati bahaya untuk dikulik agar informasinya dapat sampai dengan fair ke khalayak. Risiko ini juga yang akhirnya memunculkan pertentangan secara gamblang dari ibu. Baginya, perempuan tidak usahlah muluk-muluk seperti ini. Menantang maut katanya, kubalas dengan ungkapan, “Jika takdir seseorang untuk berakhir usianya saat ini juga, maka tidak perlu menunggunya menjadi reporter bahkan di rumah pun ia bisa meninggal.” Aku tetap mendalami Ilmu Jurnalistik dan melakukan wawancara serta blusukan sana sini. Setelah itu, ibu menjadi tertekan dan mudah sakit akibat stres memikirkan keinginanku ini. Melihat kondisi ibu seperti ini, dengan helaan napas yang berat aku harus melepas mimpi sebagai seorang reporter profesional.

Sedih memang, tapi tidak pernah menyesal. Karena dari semua yang kudapatkan akhirnya melahirkan mimpi baru yang hingga saat ini sedang kurajut tangganya agar kelak dapat tergapai. Pengalaman mengajar, pengalaman blusukan ketika mendalami dunia Jurnalistik, pengalaman mendengarkan keluh kesah masyarakat khususnya wanita mengubah cara pandangku terhadap dunia. Sekarang jika ditanya, "What is your goal that really matters?" Maka, yang akan terlontar dengan mantap adalah filantropi.

Pasti! Aku akan menjadi filantropis khususnya di bidang pendidikan dan perempuan. Kali ini bukan untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap wanita tetapi untuk merubah cara pandang wanita terhadap wanita itu sendiri. Inginku mendirikan sekolah gratis untuk wanita di pelosok-pelosok Indonesia. Agar ada pendidikan dan bimbingan sejak dini mengenai perempuan yang sesungguhnya. Bahwa perempuan dan laki-laki itu sama dan setara di depan agama, hukum, dan HAM. Bahwa perempuan juga berhak memiliki asa, mimpi, dan ambisi tanpa melupakan kewajibannya sebagai perempuan. Bahwa perempuan sebenarnya juga kuat dan layak mendapatkan pendidikan setinggi mungkin. Bahwa perempuan berhak untuk dihargai seutuhnya.

Mimpi ini terdengar sederhana tapi kompleks untuk diwujudkan. Butuh dana yang besar dan konsisten serta mental yang kuat untuk menggapainya. Oleh karena itu, saat ini aku mengais rezeki di salah satu perusahaan agency di Jakarta sebagai cara untuk mewujudkan mimpi ini sembari memperluas jaringan pertemanan dan sosial. Setiap bulan juga kusisihkan upah untuk membeli buku, baik buku tentang bisnis, biografi, dan pengembangan diri. Memang masih jauh untuk tergapai tapi aku yakin dengan doa yang mantap, tekad yang kuat, dan itikad yang baik hasilnya pasti akan dahsyat.

Akhir kata, inilah karya seorang wanita yang tidak mau kalah dengan kodrat. Aku dedikasikan karya ini untuk teman-teman redaksi Fimela.com. Semoga bisa dipertimbangkan, kalaupun belum berkesempatan menang tidak apa tapi semoga kisah ini bisa menginspirasi. Terima kasih.

 

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Keterpurukan Mengajariku untuk Terus Memiliki Mimpi dan Harapan
Artikel Selanjutnya
Kebahagiaan Sejati Hanya Akan Terasa Saat Bisa Memperjuangkan Passion Kita