Sukses

Lifestyle

Keterpurukan Mengajariku untuk Terus Memiliki Mimpi dan Harapan

Fimela.com, Jakarta Apapun mimpi dan harapanmu tidak seharusnya ada yang menghalanginya karena setiap perempuan itu istimewa. Kita pun pasti punya impian atau target-target yang ingin dicapai di tahun yang baru ini. Seperti kisah Sahabat Fimela ini yang kisahnya ditulis untuk mengikuti Lomba My Goal Matters: Ceritakan Mimpi dan Harapanmu di Tahun yang Baru.

***

Oleh: Linda Mustika Hartiwi - Banyuwangi

Tidak Seharusnya Aku Tidak Mempunyai Mimpi dan Harapan Walau dalam Keadaan Terpuruk

Ketika aku mendapat ujian dari Tuhan berupa kecelakaan pada awal tahun 2017, aku menjadi pribadi yang terpuruk. Aku tidak mampu untuk mewujudkan mimpi dan harapanku di tahun sebelumnya. Aku juga tidak mampu untuk membangun mimpi dan harapan di tahun yang sedang berjalan. Akibat dari kecelakaan yang menimpaku, pembuluh di kaki kananku putus dan aku menjalani serangkaian operasi sebanyak enam kali untuk menyambung pembuluh yang putus dengan diambilkan dari pembuluh di kaki kiriku.

Selama tiga bulan aku hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidur. Kaki kananku sama sekali tidak bisa digerakkan. Badanku juga tidak bisa banyak bergerak karena posisi tidurku lebih sering terlentang. Rasa perih, nyeri, panas, gatal dan rasa-rasa yang lain yang kurasakan membuatku sangat tersiksa hingga membuat aku menjadi stres.

Stres membuatku enggan bertemu dengan banyak orang baik secara langsung atau berkomunikasi melalui akun media sosial. Aku juga malas untuk makan dan minum apalagi minum obat dari dokter. Setiap tiba waktu untuk makan dan minum obat aku harus dibujuk seperti anak kecil. Beruntung Mas Yus, suamiku, sangat sabar dan telaten merawatku di sela kesibukannya bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluargaku. Mas Yus tidak pernah bosan memberiku semangat untuk sembuh. Mas Yus juga sering memintaku untuk melihat kedua anakku yang sangat membutuhkan aku untuk menyiapkan makanan, mendampingi saat mengerjakan PR sekolah atau sekedar mengobrol dan bersenda gurau bersamaku. Akan sampai kapan aku terbaring dalam keadaan sakit dan tidak ada semangat untuk sembuh dari diriku sendiri?

Melihat Mas Yus dengan segala pengorbanannya baik waktu dan tenaga dalam merawat aku juga kedua anakku yang belum mampu untuk mandiri membuat aku perlahan-lahan bangkit dari keterpurukanku. Mas Yus benar, aku harus sembuh. Dan untuk sembuh aku harus menumbuhkan semangat dari diriku sendiri. Akhirnya aku paksakan diri untuk mau makan dan rutin minum obat dari dokter. Dalam berjalannya waktu, kesehatanku mulai membaik hingga dokter memutuskan aku harus menjalani terapi yang tidak sampai tuntas kujalani karena aku tidak sanggup lagi merasakan sakit saat kaki kananku diterapi.

Terapi kaki kuteruskan sendiri di rumah dengan melakukan latihan untuk bergerak atau berjalan dengan dibantu memakai kursi roda, walker, atau kruk. Meskipun di sela-sela latihan itu hampir dua bulan sekali aku menjalani operasi lagi sebanyak tiga kali karena luka bekas operasi di kaki kananku mengeluarkan cairan infeksi, aku terus melatih kaki kakanku untuk berjalan. Sedikit demi sedikit aku kembali mempunyai harapan yang lebih baik untuk hidupku, harapan untuk sembuh dan kembali beraktivitas.

Lambat laun aku hanya menggunakan alat bantu berupa sebuah tongkat untuk latihan berjalan. Aku juga mulai berlatih untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang dulu rutin kulakukan seperti memasak untuk keluargaku, menyapu dan bersih-bersih rumah, mencuci, menyetrika, menemani anak-anakku belajar dan mengerjakan PR sekolah atau mengerjakan tugas dari guru dan aktivitas lain yang bisa kulakukan semampuku dengan dibantu tongkat untuk membantu menyangga tubuhku mengingat kaki kananku yang belum pulih benar.

Selain itu aku mulai mau berinteraksi dengan orang-orang di sekelilingku. Kehadiran sahabat, kerabat serta keluarga sangat mendukung dan mendorongku untuk terus mempunyai semangat agar lekas sembuh.

Aku juga mulai menulis lagi seperti yang dulu sering kulakukan sebelum aku sakit. Ya, menulis merupakan hobiku. Dengan menulis aku bisa menumpahkan apa yang aku rasakan, aku lihat dan aku dengar. Aku menulis dalam bentuk tulisan seperti tentang pengalaman hidup, cerpen, puisi, opini atau menulis tentang hal apa saja yang ingin kutulis. Aku juga mencoba mengirimkan tulisan-tulisan itu ke majalah atau harian yang ada di daerah tempat tinggalku atau di luar daerah, baik media dalam bentuk cetak atau online. Dari media-media yang aku tuju, ada yang memuat ada juga yang belum atau tidak memuat tulisanku. Aku senang dan bersyukur saat melihat tulisanku bisa dimuat di media. Namun, aku juga tidak berputus asa saat ada media yang tidak memuat tulisanku. Aku terus menulis dan banyak belajar dari tulisan milik penulis-penulis yang sudah terkenal.

Hingga siang itu, berselang setelah setahun lebih dari peristiwa kecelakaan yang menimpaku, aku kedatangan tamu seorang wartawan dari media yang sering kukirimi tulisan dan memuat tulisan-tulisanku. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan oleh tamu wartawan kepadaku tentang hobi menulisku dan kami terlibat dalam obrolan santai. Aku juga diberitahu kalau profil diriku akan ditampilkan di koran sehubungan dengan hobi menulisku itu. Seakan tak percaya aku mendengar apa yang disampaikan oleh mas wartawan itu.

Hingga keesokan harinya aku membeli koran dan foto diriku tampil di salah satu halamannya, hatiku senang tak terkira. Aku yang dulu pernah memimpikan untuk bisa tampil di media cetak karena hobi menulisku, kini benar-benar takjub melihat mimpiku menjadi kenyataan dengan melihat foto diriku beserta serangkaian cerita tentang hobi menulisku. Ternyata aku mampu mewujudkan sebuah mimpi indahku di waktu lalu. Aku harus berani untuk membangun mimpi-mimpi indahku di masa mendatang.

Ketika di awal tahun 2019 kakak ipar menawariku untuk mengambil alih salah satu usahanya, aku menerima tawaran itu dengan persetujuan Mas Yus tentunya. Beruntung usaha yang akan kuteruskan ini dapat kulakukan dengan kemampuan fisikku yang terbatas. Sebagian pengalamanku sebagai karyawati sebelum aku harus resign karena kecelakaan yang menimpaku akan kujadikan acuan dalam mengelola usaha kakak iparku. Meskipun usaha tersebut merupakan hal baru bagiku, aku harus berani mencoba dan selalu bersemangat untuk menjalankannya.

Dengan mempunyai usaha sendiri kini aku lebih sering bertemu dengan banyak orang yang mempunyai karakter dan kisah hidup berbeda-beda yang bisa aku ambil hikmah baiknya untuk kujadikan bekal dalam menjalani kehidupanku. Semoga dengan apa yang kulakukan ini mendatangkan berkah dan kesejahteraan untuk kehidupan pribadiku juga keluargaku. Kini aku mempunyai dan membangun mimpi serta harapan yang semoga dapat terwujud dengan usaha dan perjuangan yang kulakukan. Tidak sepantasnya aku mengeluh dan berputus asa namun sebaliknya, selalu bersyukur atas alur cerita hidup yang telah Tuhan ciptakan untukku.

Keterpurukanku saat aku mengalami kecelakaaan telah mengajariku untuk terus mempunyai mimpi dan harapan. Tidak seharusnya aku tidak mempunyai mimpi dan harapan walaupun dalam keadaan terpuruk.

Terima kasih Tuhan atas karunia kekuatan yang kini kumiliki sehingga aku mampu bangkit untuk mempunyai dan membangun mimpi serta harapan yang lebih baik dalam hidupku.

 

Loading