Sukses

Lifestyle

Jangan Menjadi Pembenci karena Hanya Akan Membuat Manusia Hilang Akal

Fimela.com, Jakarta Nasihat orangtua atau tradisi dalam keluarga bisa membentuk pribadi kita saat ini. Perubahan besar dalam hidup bisa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan budaya yang ada di dalam keluarga. Kesuksesan yang diraih saat ini pun bisa terwujud karena pelajaran penting yang ditanamkan sejak kecil. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Culture Matters: Budayamu Membentuk Pribadimu ini.

***

Oleh: Diyah Ika Sari - Sukoharjo

Tumbuh menjadi anak hasil keluarga broken home tidaklah mudah untuk dijalani. Masa lalu yang sulit telah menempa diri menjadi sosok yang berbeda dari pribadi yang berasal dari keluarga harmonis. Rasa trauma yang terus mengganggu hingga usia dewasa terkadang menjadi hambatan untuk menjalani hidup yang lebih baik.

Broken home tidak selalu berujung perceraian. Tapi bisa juga diartikan sebagai keretakan sebuah keluarga yang mengakibatkan ketidakharmonisan hubungan antara orang tua yang gagal menjalankan kewajiban peran mereka dan akhirnya berimbas kepada kondisi psikologis buah hati mereka. Rasa ego yang dimiliki antara satu atau dua orang dewasa tanpa disadari telah mengorbankan perasaan yang dimiliki anak-anak. Apalagi jika saat itu mereka masih berusia sangat belia yang tidak bisa memahami apa yang terjadi pada orang tua mereka.

Pada dasarnya anak-anak hanya ingin mempunyai keluarga secara lengkap. Dimana mereka bisa melihat sosok Bapak, Ibu dan saudara. Namun apa jadinya jika dia tidak bisa melihat sosok Bapak dimatanya. Dia mungkin bisa memanggil dengan sebutan “Bapak”. Tapi perannya sebagai Bapak tidak bisa dia rasakan.

Yang dia tahu dia selalu memulai hari bersama Ibu dan kedua saudaranya. Bapak sangat jarang berinteraksi di rumah demi mencari kesenangannya sendiri. Akhirnya dampak psikologis ketidakhadiran sosok lelaki panutan membuat dia menjadi anak yang hilang arah dan sensitif. Meski masih ada sosok Ibu di hidupnya, ternyata dia sadari hidupnya timpang. Sebagai orang yang tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis, dia banyak mengalami gejolak emosi sebagai akibat peran fungsional keluarga yang tidak optimal.

Beranjak remaja, sedikit demi sedikit dia memahami kekurangan yang ada pada keluarganya. Hingga akhirnya hanya rasa benci yang tertanam pada dirinya. Dia tidak lagi menganggap ada sosok Bapak dalam hidupnya. Yang dia tahu dia hanya dibesarkan dan dididik oleh Ibunya. Dan rasa benci itu semakin menjadi saat dia tau bahwa Bapak mempunyai hubungan dengan wanita lain. Dia sempat menangisi akan satu hal. Saat dia membutuhkan Bapak untuk sekadar menjemputnya pulang dari study tour tetapi Bapak menolak dengan alasan bertele-tele. Padahal saat itu dia tahu Bapaknya itu sedang berkencan dengan selingkuhannya.

Seiring berjalannya waktu, hubungan Bapak dan anak pun semakin renggang dan tidak lagi terasa ikatan kandung diantara mereka. Dan di saat terpuruk seperti itu, hanya sosok Ibu yang mampu menguatkan. Ibu tidak pernah membenci Bapak. Ibu tetap menjadi wanita tangguh meskipun Bapak telah banyak mengabaikannya. Dengan ikhlas dan penuh rasa cinta Ibu rela membesarkan ketiga anaknya walau tanpa bantuan Bapak. Ibu selalu bilang bahwa Ibu sanggup. Karena Ibu percaya, dibalik rasa kecewanya, Allah pasti akan banyak membantu hidupnya.

Banyak yang Ibu nasihatkan padanya. Jangan menjadi pembenci. Karena sesungguhnya kebencian hanya akan membuat manusia hilang akal. Jangan menjadi pengeluh. Karena rasa sakit dan kecewa hanyalah sebuah proses penguatan. Dan jangan juga menjadi orang yang merasa disemena-mena. Karena semua rasa ketidakadilan hanyalah sebuah proses pendewasaan.

Di matanya sosok Ibu memang luar biasa. Ibu tidak pernah sekalipun mengajari untuk tidak menganggap tidak adanya Bapak. Bahkan Ibu tidak pernah berhenti untuk selalu memintanya hormat dan menyayangi Bapak meski apa yang sudah dilakukannya sudah banyak menyakiti hati mereka. Ibu juga selalu memintanya mengikhlaskan setiap sikap Bapak yang mungkin tidak bisa diterima. Sungguh Ibu sangatlah pemaaf. Ibu juga tidak pernah berhenti mengingatkan untuk selalu menjadi kuat. Karena dengan menguatkan diri, nantinya akan mampu menghadapi masalah yang lebih besar.

Di ujung lelah perjuangan Ibu, Ibu masih menyelipkan nasihat berharga yang sangat berarti dalam hidupnya. Ibu mengingatkan untuk selalu mendoakan. Seburuk apapun perilaku mereka pada kita, niscaya jika doa kita tulus untuknya maka dia akan dimudahkan untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik. Ibu sungguh luar biasa hingga ujung usianya.

Tidak pernah terbayangkan bahwa dia dewasa di tengah teknologi yang semakin berkembang. Terus terang ini menjadi tantangan tersendiri baginya. Atmosfer kehidupan yang semakin tidak terkontrol tentunya banyak menciptakan godaan dan cobaan yang bisa saja mengorbankan apa yang dia miliki. Namun proses hidup di masa lalu telah menempanya menjadi lelaki yang bisa menjaga dan menguatkan pasangan dan kedua buah hatinya.

Dia tidak ingin mengulang kisah yang sama terjadi pada orang-orang yang dia cintai. Meski dia pernah menjadi korban kegagalan orangtua, tapi dia akan selalu mengingat semua yang dikatakan oleh Ibunya agar dia tetap kokoh menjadi penopang hidup bagi orang-orang yang dicintainya. Tak semua mengalami hal normal dalam hidupnya, namun kita berhak bahagia.

Sekelumit cerita ini saya adaptasi dari kisah nyata seorang lelaki hebat yang telah mengabdikan dirinya untuk melengkapiku dan anak-anakku. Pengalamannya di masa lalu telah mengajarkan kami untuk menjadi manusia utuh meski mungkin proses hidup yang kita lalui tidak selamanya utuh.

 

 

Artikel Selanjutnya
Jadilah Mandiri Supaya Tak Merepotkan Orang Lain
Artikel Selanjutnya
Tak Perlu Cemas Soal Rezeki, Tugas Kita sebagai Manusia Hanya Berusaha dan Berdoa