Sukses

Lifestyle

Resensi Buku Bicara Tubuh: Sudahkah Berkawan dengan Tubuh Kita Sendiri?

Fimela.com, Jakarta Judul: Bicara Tubuh

Oleh: Ucita Pohan dan Jozz Felix

Editor: Lana Puspitasari dan Claudia Von Nasution

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Sebuah karya kolaborasi Ucita Pohan dan Jozz Felix. Berisi foto dan tulisan yang tiap lembarnya didedikasikan untuk tubuh yang selama ini menjadi bagian dari diri dan perjalanan hidup.

Ucita Pohan menuangkan isi hati dan pemikirannya melalui tulisan bergaya puitis, sedangkan Jozz Felix sebagai fotografer profesional mengabadikan bagian-bagian tubuh dengan sudut pandanganya.

Buku ini mengajak kita untuk lebih mengapresiasi tubuh. Lebih dari sekadar hidup di dalamnya, namun juga "berkawan" dengannya.

***

Seberapa sering kita membenci tubuh kita sendiri? Sudah berapa kali kita merasa tak puas dengan bagian-bagian tertentu dari tubuh kita? Atau mungkin kita malah mengutuk bentuk tubuh kita karena tidak sesuai dengan keinginan kita?

Bicara Tubuh lebih dari sekadar buku puisi soal tubuh saja. Karya kolaborasi Ucita Pohan dan Jozz Felix ini membahas setiap sisi tubuh yang kita miliki. Terbagi atas lima bagian: Rupa, Daya, Inti, Langkah dan Tanda kita akan diajak untuk mengapreasiasi setiap sudut tubuh kita dengan sudut pandang yang baru.

 

Bagian-bagian tubuh kita ternyata memiliki peran yang begitu penting. Kalau selama kita mengolok atau mengejek bentuk dan bagian tubuh kita, saatnya untuk lebih membuka mata bahwa ternyata diri kita istimewa. Tubuh kita hadir untuk membantu kita menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Saatnya untuk berkawan dengan tubuh kita sendiri.

Setiap foto ditampilkan dengan warna hitam putih menambah kedalaman makna yang dipaparkan. Selama ini mungkin kita tak puas dengan wajah atau rupa kita. Tapi kalau kita bisa meluangkan waktu untuk mengapresiasinya, ternyata ada banyak keistimewaan yang selama ini sudah kita miliki.

 

"Kadang cakap arif, kadang omong kosong. Namun, selalu memastikan tidak ada yang tercecer. Kepekaanmu jadi deteksi kenyamanan dan cinta. Apakah sejati? Yang aku tahu dua sudutmu dinamis, jadi si kembar yang tidak terlalu lihai dalam berbohong. Walau bisa diatur, kalian tetap sering kali menang. Saat lengah, kalianlah yang memerintah lalu baru kusadari beberapa detik setelah kalian ambil kendali. Tetap di tempat, naik, atau turun. Bagaimanapun kita berkawan, kan?"

Begitu kita bisa mendalami setiap kata dan puisi di dalamnya, kita akan makin menyadari bahwa tubuh kita ini indah. Indah yang lebih dari sekadar bentuk yang kita anggap sempurna. Namun, indah karena setiap bentuk tubuh ternyata punya peran penting dalam hidup kita. Memang wajar kalau kita merasa insecure dengan bentuk tubuh kita yang mungkin berbeda dari orang lain. Meski begitu, masih ada banyak cara untuk bisa berkawan kembali dengan tubuh kita.

Mungkin yang agak sedikit mengganggu dari buku ini adalah penggunaan font yang membuat kata-kata tertentu dalam tulisannya agak susah dibaca. Walau begitu, tata letak foto dan tulisannya dibuat dengan begitu elegan.

Saatnya untuk kembali berkawan dengan tubuh kita sendiri. Mensyukuri setiap bentuk tubuh yang kita punya. Serta menjaganya dengan sebaik-baiknya untuk membuat hidup bisa terasa lebih bermakna.

Loading
Artikel Selanjutnya
Resensi Buku CITIZEN 4.0: Menjejakkan Prinsip-Prinsip Pemasaran Humanis di Era Digital
Artikel Selanjutnya
Resensi Novel Saving Francesca (Melina Marchetta)