Sukses

Lifestyle

Belajarlah untuk Mandiri agar Hidupmu Tak Memberatkan Orang Lain

Fimela.com, Jakarta Nasihat orangtua atau tradisi dalam keluarga bisa membentuk pribadi kita saat ini. Perubahan besar dalam hidup bisa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan budaya yang ada di dalam keluarga. Kesuksesan yang diraih saat ini pun bisa terwujud karena pelajaran penting yang ditanamkan sejak kecil. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Culture Matters: Budayamu Membentuk Pribadimu ini.

***

Oleh: Deka Riti - Lahat

Kemandirian Itu Datang Ketika Ibu Telah Pergi

Saya lahir di keluarga sederhana, anak pertama dari tiga bersaudara. Deka adalah nama pemberian Bapak saya yang diambil dari penggalan awal kata dari bulan dan hari kelahiran saya, Desember-Kamis. Sebelum mamak melahirkan adik saya, saya merasakan menjadi anak tunggal selama 9 tahun. Maka dari itu, saya yang sejak awal diidamkan bapak terlahir perempuan ini menjadi sosok manja yang semua keinginannya harus terpenuhi.

Sejak lahir, memang kedua orang tua sangat memanjakan dan memenuhi semua keinginan saya, terutama mamak yang mengerjakan segala sesuatunya hingga saya sebagai anak hanya terima beres. Namun sebenarnya, berbanding terbalik dengan keluarga dari Bapak, yang dididik keras dan mandiri. Almarhumah nenek saya, ibunya bapak merupakan istri seorang veteran. Beliau sangat disiplin waktu dan mandiri. Di usianya yang renta, semua pekerjaan rumah masih mampu beliau kerjakan sendiri dengan rapi. Meskipun nenek memiliki sifat yang keras dan disiplin, beliau tidak memaksakan semua itu harus diterapkan juga oleh anak cucunya, tetapi memang ada di antaranya yang mewarisi sifat beliau. Saya tahu betul bagaimana nenek saya, karena kami tinggal satu rumah saat itu.

Usia 4 tahun 6 bulan, saya masuk sekolah taman kanak-kanak. Mamak selalu menyiapkan segala keperluan sekolah saya dengan baik, sembari sibuk bekerja mengelola toko baju milik kami sendiri. Sedangkan bapak saya bekerja di luar kota, pulangnya satu bulan sekali. Saat itu, saya tidak tahu jelas apa pekerjaan bapak, tetapi mamak bilang kalau beliau berjualan jam tangan keliling di rantau orang. Kehidupan kami berjalan cukup baik dan hangat.

Setiap hari libur dan kumpul keluarga, biasanya saya bertemu dengan para sepupu dan bermain bersama. Saat itu, almarhumah nenek sesekali hadir di sela-sela kami bermain, beliau suka menceritakan masa kecil masing-masing orang tua kami. Terkadang juga beliau melemparkan teka teki lama yang jawabannya selalu membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Almarhumah nenek juga sering membuatkan kami camilan kecil. Soal masak, beliau jago dan menyukai semua yang alami. Minyak goreng pun beliau buat sendiri dengan bahan kelapa. Beliau selalu mencampurkan bumbu-bumbu dapur alami ke dalam masakan, tidak memakai penyedap rasa buatan.

 

Ketika menginjak kelas 3 sekolah dasar, sebutan saya sebagai anak tunggal hilang. Mamak melahirkan adik saya yang berjenis kelamin laki-laki. Saya sangat senang akhirnya bisa memiliki adik. Saya sudah memimpikan kelak bisa mengajarkan hal-hal yang baik bagi adik saya. Namun egois saya mengatakan, saya tetap yang nomor satu dalam segala hal.

Sejak adik saya lahir, saya tidak pernah merasa kasih sayang dari orang tua berkurang, semua berjalan seperti sedia kala. Mamak pun memutuskan untuk menutup toko bajunya, dan memberikan semua waktu, tenaga, dan pikirannya untuk mengurus kami. Semua pekerjaan rumah beliau yang mengerjakan, mulai dari mencuci, menyetrika, memasak, membereskan rumah dan menyiapkan keperluan sekolah. Beliau juga yang sering mengajari saya pelajaran sekolah. Bapak kami jarang pulang, beliau tahunya hanya memberikan uang dan anak-anaknya dididik dengan baik oleh sang istri. Jadinya, saya dan adik kurang begitu dekat dengan sosok bapak. Meskipun begitu, terlihat jelas bapak sangat mencintai kami dengan caranya, tidak terlihat di mata namun mengena di hati.

Empat tahun berselang, setelah kelahiran adik saya yang pertama, mamak pun melahirkan adik saya yang kedua, juga berjenis kelamin laki-laki. Di antara dua penggal namanya adalah kata pamungkas, artinya yang terakhir. Mamak bilang tiga anak saja cukup, karena kelahiran adik saya yang satu ini cukup sulit, benar-benar mamak merasakan dirinya antara hidup dan mati. Menimbulkan sedikit trauma untuk melahirkan kembali.

Kehidupan keluarga kami masih berjalan seperti sedia kala. Mamak yang sibuk mengerjakan segala pekerjaan rumah sendiri, dan anak-anak yang bergelut dengan kegiatannya masing-masing. Diam-diam, saya sering memperhatikan mamak, tidak ada raut muka yang mengesankan kalau beliau sebenarnya lelah akan pekerjaan rumah yang bertumpuk.

Sesungguhnya saya tahu, beliau begitu lelah, namun diri ini tetap tidak mau mengerti. Sebagai anak gadis, saya belum memiliki kesadaran akan pekerjaan rumah yang seharusnya di usia saya sudah mampu mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Paling tidak, saya sudah berpikir membantu meringankan pekerjaan mamak saya. Realitasnya, saya hanya sibuk dengan kegiatan sekolah dan waktu bersama teman sepermainan saya, tanpa memikirkan sungguh pekerjaan rumah itu sangat melelahkan.

 

Ketika semua itu melintas di pikiran saya, saya mulai mencoba membantu mamak dengan hal-hal kecil seperti mencuci piring, menyikat sepatu sekolah sendiri, dan membantu beliau memasak. Hal itu pun terkadang dibarengi dengan perasaan malas yang membuat pekerjaan tersebut dilakukan hanya sesekali. Sebenarnya mamak sudah mengajari dan mengingatkan saya untuk membiasakan menyapu, mencuci piring, dan sesekali belajar memasak. Karena beliau tahu, suatu hari saya pasti akan melakukan kegiatan seperti ini, hal yang kebanyakan dikerjakan para kaum ibu. Hanya, saya terlarut dengan kebiasaan bergantung pada beliau, jadi saya mengerjakan pekerjaan rumah ketika saya sedang ingin saja.

Sampai pada waktu yang amat kelabu di dalam hidup saya terjadi. Mamak jatuh sakit, terjangkit kanker darah yang biasa disebut anemia aplastic. Dan baru kali ini saya mendengar penyakit semacam ini. Selama lima bulan lamanya beliau keluar masuk rumah sakit. Bapak sesekali datang ke rumah sakit untuk menggantikan saya berjaga, tetapi saya tidak mau, dan menyuruh bapak tetap fokus bekerja untuk mendapatkan uang demi pengobatan mamak.

Hal yang paling penting saya pikirkan saat ini adalah kesembuhan beliau. Jauh di dalam benak saya, jika beliau sembuh nanti, saya yang akan melakukan semua pekerjaan rumah. Selama ini saya sangat menyesal membiarkan mamak melakukan semuanya sendiri. Saya terlalu manja dan jauh dari kata mandiri. Selama di rumah sakit, saya sepenuh hati mengurus mamak. Saya ingin membalas semua kasih sayangnya dengan segenap kemampuan saya. Sedetik pun saya tidak mau untuk tidak menemaninya.

Setelah lima bulan berjalan dan keluar masuk rumah sakit, akhirnya mamak saya benar-benar merasa lelah dan memutuskan beristirahat selama-lamanya. Tubuh saya terkulai lemas merespons kenyataan ini. Mata pun tak segan mengalirkan air kepedihan dari pelupuknya. Hati dan ingatan terkenang semua kasih sayangnya. Mata ini buta akan lelah yang enggan kau perlihatkan selama ini, melengkapi kepedihan yang saya rasakan.Waktu memang berjalan terasa begitu cepat, yang siap kapan saja memisahkan kita dari orang-orang yang dicintai dan mencintai.

 

 

 

Andai mamak tahu, sekali ini saya benar-benar mau melucuti rasa lelahnya dengan kehadiran saya sebagai anak gadis yang mampu mengerjakan semua pekerjaan rumah. Setidaknya, jauh-jauh hari saya sudah mandiri. Tetapi sayangnya, kesadaran ini hadir setelah kepergiannya. Akhirnya, saya benar-benar mengambil alih tugas mamak saya untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan mengurus adik-adik saya. Bapak masih sama seperti sebelumnya, tetap bekerja di luar kota dan jarang pulang ke rumah. Namun, ketika beliau sedang berada di rumah, saya pula yang bertugas mencucikan pakaian, memasak, dan menyiapkan keperluan bapak.

Beruntung mamak sempat mengajarkan saya beberapa pekerjaan rumah, jadi saya bekerja dengan mengingat-ingat kembali bagaimana cara yang telah beliau lakukan dulu. Saya jadi teringat almarhumah nenek, yang di usia senjanya tetap menerapkan kedisiplinan dan kemandirian. Saya bukan termasuk keturunan nenek yang mewarisi sifat itu secara alami. Saya menyesal tidak menyadari hal ini sedari dulu.

Sejak kepergian mamak, saya pun bertekad untuk menanamkan kemandirian yang terlambat saya terapkan itu kepada diri adik-adik saya. Saya berkata kepada mereka, di mana pun kita berada, dengan siapa pun kita tinggal, kita harus mampu melakukan segala sesuatunya sendiri, dengan selalu mau belajar. Jadilah orang yang tidak memberatkan orang lain dengan kemandirian, dan mampu mengurangi beban orang lain dengan pertolongan. Semoga belum terlambat untuk menanamkan hal ini kepada adik-adik saya.

Kini saya telah menikah, dan alhamdulillah di usia saya yang ke 27 tahun ini, Allah telah mengaruniakan saya seorang putra. Semoga saya mampu menanamkan kemandirian di dalam dirinya sejak dini. Kelak dia menjadi orang yang tidak bergantung kepada orang lain dan selalu mau berjuang melakukan segala hal sendiri, tanpa membebani orang lain. Menjadi disiplin dan mandiri. Jangan seperti saya, yang menghadirkan kemandirian setelah kepergian ibu saya.

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Kalau Hanya Satu Orang yang Berjuang, Hubungan yang Disebut Cinta akan Mati
Artikel Selanjutnya
Semudah Itu Jatuh Cinta, tapi Semudah Itu Juga Patah Hati