Sukses

Lifestyle

Pahit Getirnya Pengalaman Kerja Selalu Bisa Jadi Pelajaran Berharga

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: Julia - Medan

Hai Sahabat Fimela, kali ini aku ingin berbagai cerita pengalaman rasa suka dan dukaku sebagai remaja yang sedang mulai menempuh kehidupan sebagai wanita karier. First of all, kira-kira wanita karier itu apa sih? Wanita yang stuck di depan komputer dari pagi sampai sore, menghadapi kertas-kertas menggunung di depan meja? Yes, that’s right. Tetapi, tidak sesederhana itu, Sobat. Di balik meja kerja aku kadang kala kita bisa merasa stres karena tekanan, deadline, dan to do list yang ga ada habis-habisnya.

Banyak yang berpikir, apa sih enaknya jadi wanita karier? Apalagi menurut budaya Indonesia sesukses apapun seorang wanita itu ujung-ujungnya bakalan masuk dapur juga. Bahkan kodratnya wanita itu telah ditetapkan sejak dulu untuk mengurus rumah tangga kelak. Oke, aku sebagai wanita menerima semua itu, tapi di sinilah sebenarnya kekuatan dari seorang wanita, jika pria dilahirkan memiliki tingkat fokus yang tinggi, maka wanita dilahirkan memiliki kemampuan multi-tasking yang baik. Tidak heran, banyak wanita generasi milennial sekarang menempuh pendidikan tinggi, bekerja, mengurus rumah tangga, meng-handle semua tanggung jawab sendirian lho. Bahkan tidak menutup kemungkinan seorang wanita dapat mencapai tingkat kesuksesan yang melebihi dari seorang pria. Aku salah satunya wanita yang ingin mencapai tujuan tersebut.

Statusku sekarang adalah mahasiswa tingkat akhir, aku mulai bekerja pada saat semester 3. Alasanku pada waktu itu adalah untuk membiayai hidup sendiri karena posisiku adalah anak rantau yang jauh dari orangtua, walaupun orangtua tetap men-support dengan mengirimkan uang bulanan tapi dengan mindset yang ingin mandiri aku mulai mencari info lowongan part time yang cocok untuk mahasiswa kala itu. Akhirnya aku mendapat pekerjaan di salah satu perusahaan manufaktur sebagai staf administrasi,dengan gaji yang masih jauh di bawah rata-rata aku mencoba pekerjaan itu selama 11 bulan. "Kenapa 11 bulan? Tanggung banget 1 bulan lagi tuh udah 1 tahun. Tahanin aja kali,” banyak yang bilang kalimat itu padaku, tapi aku bukannya nggak mau bertahan, tapi status aku di kala itu dipecat.

 

Lika-Liku Pekerjaan

Lika-liku di perusahaan itu sangat banyak dan jujur saja pengalaman dan mentalku terasah di sana. Mulai dari pekerjaan banyak di luar dari jobdesc yang dijanjikan, bos yang super duper galak, manajerku yang merendahkan aku, rekan kerja yang selalu mencari celah kesalahan, sampai dengan senior yang menghalalkan segala cara untuk menjatuhin juniornya sendiri. Karena senior dan rekan kerjaku yang selalu mencari titik kelemahan aku dan memperdaya atasanku yang menjadi alasan aku diberhentikan secara sepihak oleh perusahaan.

Bahkan dengan cara liciknya mereka sengaja memberhentikanku secara paksa di bulan ke-11, agar aku tidak bisa mendapatkan surat referensi kerja selama 1 tahun penuh di perusahaan tersebut. Sedih memang, di saat itu aku menangis dalam kesendirian. Dan aku juga berbohong kepada orangtuaku dengan mengatakan aku yang ingin segera berhenti dari perusahaan tersebut karena beban pekerjaanku yang overload.

Sebelumnya aku juga pernah sharing ke orangtua aku tentang masalah rekan kerja dan beban yang aku embani selama bekerja. Beribu nasihat yang diberikan oleh orangtua aku cukup membuat aku tetap bertahan di perusahaan di kala itu. Pasca aku menjadi jobless, menurunkan semangat aku untuk beraktivitas, aku merasa down, stres banget. Aku menyibukan diri bahkan terkesan memaksa untuk melamar di berbagai perusahaan lain untuk menghilangkan kekecewaanku. Waktu berlalu 2 bulan hingga tak terasa setengah tahun berlalu dan status aku masih pengangguran, selama itu biaya hidup aku di tanggung oleh orang tua sambil melanjutkan studi aku di semester 5.

Beragam tempat kulamar dengan hanya bermodalkan pengalaman pernah bekerja di berbagai perusahaan tidak membuahkan hasil, sedikit sulit untuk mendapatkan posisi pekerjaan part time dengan status mahasiswa yang waktu kerjanya tidak fleksibel pula. Pemikiran negatif dan masih dihantui rasa kekecewaan, akhirnya aku mecoba menebalkan muka untuk bertanya lowongan kepada teman-teman di kampus aku yang sedang bekerja dan aku ditawari di salah satu perusahaan otomotif.

Awalnya aku mulai menyemangati diri untuk memulai rutinitas di tempat kerja yang baru, dan aku mulai bangkit. Beberapa bulan aku mencoba mengikuti rule perusahaan baru tempat aku bekerja, namun aku merasa pekerjaan yang aku embani sekarang sangatlah sulit, dengan manajemen perusahaan yang masih kurang dan sikap ketidakpedulian manajer baru aku, aku terus dibebani dengan pekerjaan yang tidak ada habis-habisnya.

Semua Jadi Pengalaman

Demi menjaga rasa tanggung jawab, aku dapat dikatakan lembur hampir setiap hari tanpa dikompensasi oleh perusahaan. Hal ini membuat aku jengah, karena pembagian waktu aku sebagai mahasiswa terbatas, dan aku tidak bisa bekerja full time dikarenakan aku masih punya kegiatan di kampus. Akhirnya aku hanya bertahan selama 6 bulan dan aku mengundurkan diri. Semasa aku berhenti dari dunia karier, kumanfaatkan waktuku untuk memulihkan kondisi mental dan merenungi apa yang selama ini aku lakuin. Dari sini aku belajar bahwa apabila kita memaksakan suatu kehendak atau segala sesuatu yang bersifat terpaksa tidak akan membuahkan hasil yang memuaskan.

Selama 3 bulan aku break dari dunia karier dan fokus melanjutkan studi aku sambil memperluas jejaring pertemanan aku seperti biasa. Ketika aku merasa dari segi sikap dan mental sudah pulih, aku mulai mencoba untuk melamar kembali di perusahaan yang lain secara bertahap. Adanya dukungan dan semangat dari orang tua, aku menerapkan pemikiran yang optimis dan mulai belajar memanajemen waktu. Hingga aku mendapat tawaran di salah satu perusahaan yang bergerak dibidang agrolestari.

Aku mulai bekerja dan beradaptasi di perusahaan tersebut, beruntungnya aku bertemu atasan dan rekan kerja serta orang-orang yang dapat memberikan aku inspirasi dan membantu aku untuk memahami nilai-nilai kehidupan baik secara budaya dan sosial. Aku bersyukur banget, bahkan pola pemikiran aku yang masih labil di umur aku yang baru beranjak kepala dua dapat diubah ke arah yang lebih positif. Akhirnya aku memutuskan untuk membangun relasi dan dunia karier aku mulai dari sekarang sambil tetap melanjutkan studiku. Dan mungkin di masa yang akan datang karier aku akan menjajaki ke jenjang yang lebih tinggi, namun kenangan manis yang aku alami sekarang tetap menjadi pengalaman dan momen yang berharga bagi aku, karena disinilah lika-liku perjalanan karier aku dimulai.

Begitulah kisah yang ingin kubagikan ke semua Sahabat Fimela, semoga dapat menjadi inspirasi bagi semua. Apabila sobat sedang dilanda kebimbangan dalam perjalanan karier, saranku cobalah untuk menceritakannya kepada sahabat, keluarga, atau senior di tempat sobat bekerja. Bangunlah relasi yang baik dan berkumpulah dengan orang-orang yang positif, maka secara langsung pemikiran sobat akan terarah lebih positif. Jangan ragu dan malu untuk sharing, ya.

 

Loading
Artikel Selanjutnya
My Self-Love Matters: Berbagi Cerita untuk Mencintai Diri