Sukses

Lifestyle

Dedikasi Itu pada Pekerjaan, Bukan pada Bos yang Bisanya Cuma Mempermalukan

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: Amadea Primrose Nggeo - Sidoarjo

Sekretaris pribadi adalah pekerjaan pertamaku setelah lulus dari dunia kampus. Dengan latar belakang jurusan Ilmu Sejarah tidak banyak orang yang percaya bahwa aku mendapatkan pekerjaan sebagai sekretaris pribadi.

Sebelum aku mendapatkan pekerjaan sebagai sekretaris pribadi jujur aku sulit sekali mendapatkan pekerjaan karena kualifikasi yang diinginkan oleh banyak perusahaan adalah yang berlatar belakang ekonomi. Namun, aku tidak pernah putus asa aku tahu jika aku mau berjuang dan berusaha maka tidak ada yang namanya kesia-siaan. Memang benar, sekitar 20 perusahaan lebih memanggilku untuk interview mulai dari posisi sales hingga sekretaris direktur namun, sayang dewi fortuna masih belum berpihak. Hingga pada akhirnya waktu menjawab semua doaku. Aku diterima bekerja sebagai sekretaris pribadi presiden direktur sebuah hotel bintang 4 di Surabaya.

Hari-hari kulalui dengan berat. Pekerjaan sebagai sekretaris pribadi tidaklah sesuai dengan harapanku. Dimarahi bos itu sudahlah pasti namun kepahitan itu muncul ketika rekan kerja suka mengejek setiap inci penampilan kita.

Hari-Hari Makin Berat

Pernah satu geng wanita dari top level manajemen eksekutif melontarkan kata-kata, “Ih, kamu udah mandi belum sih, bau banget! Hahaha… atau jangan-jangan kamu mandinya di kali ya?” Tidak hanya itu seorang dari ketua geng tersebut bahkan memberikan daun sirih untuk aku minum dengan nada menyindir. Padahal ketika aku mengecek pada teman dari manajemen lain tidak ada masalah dengan penampilan dan bau badanku.

Kepahitan kedua adalah ketika disuruh berlari oleh bos untuk mengejar mobil yang ditumpangi anaknya dengan teman-temannya padahal aku sudah mengecek pada sopir agar tidak menyalakan mesin mobil ketika acara berlangsung. Akhirnya bos memarahiku habis-habisan di tengah-tengah banyak orang. Air mata terus berjatuhan dan mentalku benar-benar down pada saat itu ketika melihat wajah banyak orang-orang menaruh belas kasihan namun tidak bisa menolong karena tidak ada yang berani melawan bos. Kuakui mentalku memang tidak mampu menahan semua perlakuan itu namun, entahlah apakah itu karena mental atau karena aku terlalu polos pada dunia yang keras ini.

Setelah keluar dari kantor tersebut, aku menganggur 3 bulan dan mengalami stres karena tidak mendapatkan pekerjaan. Melihat teman-teman sudah berkarier dengan baik membuatku semakin minder dan tidak percaya diri. Namun, melalui kegagalan aku menemukan jati diri yang sebenarnya.

Menjadi Guru

Sering kali ketika kita bekerja lebih keras banyak rekan kantor kita yang mengejek dan menghina kita seolah-olah kita sedang dikerjain atasan atau dijadikan budak oleh rekan kerja. Orang yang berdedikasi bukanlah orang yang sedang dikerjain oleh pekerjaan tetapi orang yang berdedikasi adalah orang benar-benar tulus ingin mengasah skill nya di bidang pekerjaan tersebut, sayang tidak banyak orang yang menyadarinya dan sering membuat kesimpulan orang seperti ini adalah orang yang suka cari muka pada bos.

Prinsip terakhir adalah arah (direction). Banyak orang bekerja bukan untuk mempertajam skill mereka agar menjadi lebih baik namun bekerja hanya untuk gaji. Memang sudah pasti jika orang bekerja haruslah di beri upah namun sangat disayangkan jika kita hanya fokus pada gaji karena segala sesuatu akhirnya perhitungan terhadap uang yang berdampak pada menurunnya dedikasi.

“Kalau bantu si A, dapet duit nggak?” “Kalau besok masuk, dihitung digaji nggak?” “Eh, capek-capek gini masa cuma dapet nasi bungkus." Karena aku masih junior terkadang aku masih sungkan untuk menegur seniorku karena sikap mereka. Akhirnya yang aku lakukan hanyalah memberikan terbaik untuk perusahaan. Jika aku tidak mampu maka aku akan menjawab jujur, “Tidak bisa,” begitu juga jika aku masih belum bisa maka aku menjawab jujur, “Saya akan berusaha,” begitu juga jika aku sanggup maka akan kujawab, “Ya."

Dunia kerja, apalagi untuk kaum wanita sangatlah keras. Di dunia serba modern dan praktis ini wanita dituntut untuk dapat belajar cepat dan mampu berfikir logis dengan cepat. Ada satu quote yang sangat kuingat sampai sekarang yang aku terapkan di dunia kerja yaitu, “Act like a lady and think like a man." Seorang wanita haruslah mampu mengikuti perkembangan zaman yang begitu cepat. Wanita masa kini bukanlah wanita yang dulu hanya tinggal di rumah tetapi wanita yang mau keluar dari zona nyaman untuk kemajuan dan kesejahteraan baik lingkungannya hingga bangsa dan negara.

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Pernikahan Itu Meniti Masa Depan Hingga Ajal Menjemput
Artikel Selanjutnya
Tak Kenal Lelah untuk Berjuang Bersama, Itu Esensi Penting dalam Pernikahan