Sukses

Lifestyle

Rasa Cinta Itu Bisa Ditumbuhkan, Termasuk dalam Hal Pekerjaan

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: Q. Ain Nasution - Jakarta

Refleksi 5 Tahun Berkarier: Mencari Perusahaan yang Ideal

Hampir 5 tahun berkarier, saya sudah berganti bekerja di perusahaan sebanyak 4 kali. Ada yang 1 bulan, 1 tahun, 3,5 tahun, dan sekarang saya sedang bekerja di sebuah perusahaan lainnya (baru berjalan 4 bulan). Orang bilang saya kutu loncat. Eits, tunggu dulu. Sebelum men-judge orang, alangkah baiknya dengar kisah dan kronologisnya. Setelah itu, terserah.

Perusahaan ke-1 : Antara Sistem, Aturan, dan Kelemahan Diri

Saya bekerja di sini sebagai Management Trainee (MT).

Perusahaan ini termasuk padat karya, yang mana proses produksinya banyak dikerjakan oleh manusia daripada mesin, karena memproduksi rangkaian kabel untuk mobil. Proses merakit kabel ini sangat rumit, sehingga dibutuhkan kelihaian tangan manusia, yang saat ini belum bisa dilakukan oleh mesin.

Kabel ini termasuk komponen yang penting dalam mobil. Salah sedikit saja merakit, bisa membuat mobil tidak bergerak. Bahkan paling parah, bisa mencelakakan pengemudi dan/atau penumpang mobil (misalkan rem plong dikarenakan ada kabel yang salah, tidak pada tempatnya). Sehingga dalam merakitnya, dibutuhkan ketelitian. Tetapi juga harus dikerjaan secara cepat, untuk mengejar target produksi.

Kami, 10 orang yang diterima sebagai MT pada tahun itu, diberi training dan harus terjun di bagian produksi, bekerja seperti operator. Begitu pun kecepatan pengerjaan kami, harus sama seperti mereka. Bahkan kalau bisa, harus lebih cepat.

Pertimbangannya, MT yang nantinya akan dijadikan supervisor, harus mengerti proses produksi, agar tidak mudah dibodohi oleh bawahan (operator), bisa menunjukkan cara produksi yang benar ke mereka, sampai memiliki insting jika di antara mereka ada yang salah merakit.

Saya yang memiliki kekurangan dalam hal keterampilan tangan tentu saja agak kesulitan dengan sistem training tersebut. Dan ini terbukti, setiap kali kami (para MT) dites kecepatan merakit kabel, hanya 1-2 kali saja saya mendapat peringkat pertama dibandingkan yang lainnya. Sisanya? Jangan ditanya. Saya sering mendapat peringkat terakhir.

Biasanya setiap operator mendapatkan jatah waktu 30 detik untuk merakit, yang kemudian kabel tersebut dioper ke operator lainnya untuk diproses lebih lanjut, sampai terbentuklah kabel yang panjang nan rumit. Saat dites, dari target pengerjaan 30 detik, saya menyelesaikannya dalam waktu 70 detik. Bisa dibayangkan, betapa leletnya saya. Padahal saya sudah berjuang sekuat tenaga (sampai saya berkeringat) demi mengejar target tersebut.

Saya sadar diri bahwa peluang lulus dari training MT ini sangat kecil. Selain itu, perusahaan ini adalah milik Jepang, jadi sangat disiplin dan keras. Selama hampir 9 jam bekerja, kami terus-menerus berdiri karena proses produksi dilakukan dengan cara berdiri. Kami hanya duduk ketika istirahat siang 30 menit, dan break pagi serta sore masing-masing 10 menit. Saya yang awalnya sering pegal kaki karena tidak terbiasa berdiri lama, akhirnya menjadi terbiasa. Tetapi saya merasakan lelah luar biasa, sehingga nafsu makan menurun. Tak heran jika berat badan saya turun 3-5 kilogram, padahal baru sebulan bekerja.

Selain itu, terlambat datang 1 menit saja, kita harus melapor ke HRD, yang kemudian mereka akan pasang tampang garang. Jika dalam 1 bulan datang terlambat lebih dari 3 kali, maka akan mendapatkan Surat Peringatan (SP).

Saya tidak cocok dengan sistem training MT dan aturan-aturan di sini, sehingga saya akhirnya memutuskan untuk resign. Ditambah lagi, saya juga sudah diterima di perusahaan lain.

 

Perusahaan ke-2: Kurang Tantangan

Perusahaan ini masih bergerak di bidang manufaktur otomotif, sebagaimana perusahaan sebelumnya. Bedanya, perusahaan ini dimiliki oleh keturunan Cina, yang mana para petingginya mayoritas diduduki oleh orang Cina, dan dibantu dengan orang Perancis.

Posisi saya adalah Technical Service Engineer, tapi pada praktiknya lebih banyak bekerja seperti sekretaris departemen, karena saya adalah satu-satunya perempuan di departemen tersebut.

Di sini pekerjaannya lebih ringan dan santai. Para pegawainya kebanyakan orang lama, sehingga tidak suka dengan perubahan, alias tidak mau repot.

Saya yang masih berusia 22 saat itu, merasa bosen, meaningless, karena skill dan kompetensi yang didapatkan sedikit. Selain itu, gajinya juga reatif kecil. Akhirnya setelah 1 tahun, saya mengundurkan diri.

Banyak yang menyayangkan hal tersebut, karena status saya sudah menjadi pegawai tetap. Tapi saya tidak ingin menjadi katak di bawah tempurung, saya harus melihat dunia yang luas ini.

Perusahaan ke-3 : Manajemen yang Berganti Sampai Politik Kantor

Di sini saya mendapatkan banyak ilmu baru, mulai dari logistik, procurement (pengadaan barang), pengendalian mutu, dan lain-lain. Saya cukup menikmati bekerja di sini, karena waktu kerja lebih fleksibel, punya atasan (direktur) yang selalu membimbing dan mengarahkan jika ada masalah.

Tapi semuanya berubah sejak pergantian manajemen. Direktur yang sering membimbing saya tersebut, masa jabatannya sudah habis dan ia ditarik kembali untuk bekerja di perusahaan induk.

Saya kurang cocok dengan manajemen yang baru, karena ada yang meremehkan saya. Kemudian mulai muncul politik kantor (ada manajer yang ngomongnya sering berbeda, di depan memuji, tetapi di belakang menjatuhkan). Rekan-rekan kantor juga mulai berubah sikap, kurang kooperatif, dan sering menyalahkan jika ada masalah. Akhirnya setelah 3,5 tahun bekerja, saya pun memutuskan resign.

 

Perusahaan ke-4 : Atasan yang Sadis

Ini adalah perusahaan internasional, berasal dari salah satu negara di Eropa, dan memiliki cukup banyak cabang di belahan dunia. Salah satunya di Indonesia.

Gaji saya di sini relatif tinggi, hampir 2 kali lipat dibandingkan perusahaan sebelumnya. Tetapi tempatnya lebih jauh, sekitar 1 jam sampai 1,5 jam perjalanan.

Setelah bekerja seminggu, ternyata saya memiliki atasan yang arogan, labil, sombong (bossy), dan ngomongnya sadis. Padahal ketika wawancara, beliau terlihat sangat baik (bah, menipu rupanya).

Di pikiran saya, perusahaan yang sudah bertaraf internasional, seharusnya atasannya adalah orang yang memiliki kepemimpinan yang bagus. Lebih tepatnya menjadi seorang leader, bukan bos. Karena itu dua hal yang berbeda. Di sini, saya kecewa dan rasanya ingin langsung resign. Tapi rekan-rekan saya menasihati agar saya tidak boleh baper (terbawa perasaan), karena memang karakter beliau seperti itu.

Sebenarnya saya juga tidak berani resign, karena kontrak kerja saya 1 tahun. Dan jika saya berhenti sebelum masa kontrak habis, akan dikenakan denda sebesar jumlah gaji dikali sisa bulan kerja yang ditinggalkan. Tentu hal ini sangat berat buat saya, karena jika dihitung, nilai dendanya bisa sampai ratusan juta rupiah. Padahal tabungan saya saja tidak sampai segitu.

Tetapi perlahan atasan saya menunjukkan perbaikan sikap. Entah karena ia baru ditegur oleh HRD, atau karena saya sering senyum padanya meski ia jahat pada saya (lebay), atau karena saya mulai menunjukkan kinerja yang bagus. Ia mulai tidak terlalu galak. Yang pasti, di tempat ini akhirnya saya belajar seni bodo-amat, tidak mudah baper, dan mengendalikan emosi.

Refleksi Perjalanan Karier

Akhirnya, selama 5 tahun bekerja, saya menyadari bahwa tidak ada perusahaan yang ideal, yang benar-benar sesuai dengan keinginan saya.

Kalau boleh meminta, jujur, saya ingin bekerja di tempat yang jaraknya dekat dari rumah, tidak perlu berjuang menempuh arus macet, dapat lingkungan kerja yang nyaman, dapat rekan kerja yang enak, punya atasan yang baik, kerja sesuai passion, nggak ada tekanan, dapat gaji besar, ada asuransi kesehatan yang di-cover 100%, bahkan kalau bisa ada fasilitas mobil dari kantor hehe.

Tapi kehidupan yang sesungguhnya ini tidak bisa ideal. Semua yang kita pilih pasti ada plus minus-nya. Bahkan ketika kita memilih bekerja sendiri pun (berbisnis), pasti ada kelebihan dan kekurangannya, pasti ada risiko dan konsekuensi yang harus diterima. Sehingga pada akhirnya kita harus menentukan, mana yang menjadi prioritas kita saat memilih sebuah pekerjaan (dan tempat bekerjanya).

Setelah menimbang banyak hal, saya membuat susunan prioritas dalam memilih perusahaan:

1. Lingkungan kerja yang bisa bikin saya grow up

Saya ingin karier terus berkembang dalam hal skill dan kompetensi. Oleh karena itu, saya butuh lingkungan dengan SDM (Sumber Daya Manusia) yang kinerjanya bagus serta budaya yang menjunjung tinggi inovasi dan mendukung SDM-nya untuk terus belajar.

2. Gaji

Saya sudah memiliki keluarga kecil, yang mana tidak dimungkiri, kebutuhan hidup saya menjadi lebih banyak. Karena itu, saya tetap mempertimbangkan besaran gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup, terutama kebutuhan primer.

3. Lokasi

Karena saya memiliki anak, saya perlu menyiasati lama perjalanan ke kantor tidak terlalu menghabiskan waktu berjam-jam di jalan.

4. Fleksibilitas Waktu

Ini juga terkait keluarga. Terkadang anak atau suami saya sakit, sehingga saya perlu merawatnya terlebih dulu atau membawanya ke rumah sakit terdekat. Karena itu, saya memerlukan perusahaan yang cukup fleksibel dari aspek jam kehadiran.

5. Fasilitas/Benefit

Ini menyangkut seperti asuransi kesehatan, bus jemputan (jika kantornya cukup jauh dari rumah), fasilitas senam, dan lain-lain.

6. Passion

Kenapa saya menyebutkan passion itu terakhir? Karena sejatinya rasa cinta itu bisa ditumbuhkan, termasuk dalam hal pekerjaan. Bukankah pepatah juga mengatakan, “Do what you love, or love what you do.” Itu berarti kita bisa menumbuhkan rasa minat, bahkan cinta terhadap pekerjaan kita.

Terakhir, jika ada kekurangan di luar prioritas kita itu (misal, saya memiliki atasan yang sangat menyebalkan), ya diwajari saja. Kalau bisa, coba cari solusinya agar kekurangan tersebut tidak membuat semangat bekerja kita luntur.

Karena sesungguhnya tidak ada perusahaan yang sempurna. Akan menjadi sempurna, apabila kita dapat merespon kelebihan dan kekurangannya secara tepat.

Kemudian, apapun yang kita pilih, jika kita telah memutuskan untuk bekerja di situ, lakukanlah yang terbaik. Karena pada akhirnya semua orang akan menilai kita. Dan kesungguhan serta kredibilitas kita dapat terlihat dengan sendirinya dari seluruh proses yang telah kita lakukan.

 

 

Loading
Artikel Selanjutnya
My Self-Love Matters: Berbagi Cerita untuk Mencintai Diri
Artikel Selanjutnya
Kalau Hanya Satu Orang yang Berjuang, Hubungan yang Disebut Cinta akan Mati