Sukses

Lifestyle

Berada di Ranah Profesional, Perempuan Perlu Menakar Perasaan dan Emosi

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: G - Malang

Pemimpin Sering Bikin Kontroversi, Tapi Kalau Takut Dibenci Mending Jual Baso Aci

Sudah lima tahun saya dipercaya handle sebuah tim startup. Melalap urusan redaksi, social media hingga payroll dan politik kantor, sudah bagaikan menyikat sepiring gado-gado. Semua tersaji dalam satu piring. Oke sini, kita bereskan satu per satu. “Kuat, Mbak?” Dikuat-kuatin, Sis.

Saya meyakini tiap babak kehidupan adalah bagian dari proses naik kelas. Beberapa di antaranya terlalu menakutkan atau bahkan feels like pain in the ass, gilak! Kadang sampai ingin bertanya, “Tuhan, cobaan apa lagi nih?” Astaghfirullah, dasar manusia, udah dikasih napas hari itu, tapi masih nggak sopan aja kalau tanya pada Sang Pencipta.

Berada di ranah profesional, seorang perempuan perlu menakar perasaan dan emosi. Apalagi di posisi seorang manajer yang cukup banyak eksekusi keputusan. Kadang menyenangkan, kadang kontroversial sehingga memicu kita jadi pergunjingan ala Overheard Ahensi. Namun sejatinya, setiap pengalaman membentuk kemampuan dan karakter, and that’s why my career matters.

 

Politik Kantor Sampai Bawa-bawa Santet

Saya pernah akrab dengan anggota tim yang sama-sama perempuan. Tapi ternyata saya harus menyampaikan punishment atas kesalahannya setelah setahun kedekatan kami. Gara-gara ini, dia mengundurkan diri. Detik itu juga sebagian besar anggota tim berpaling dari saya. Tak disangka dampaknya bikin internal serapuh prol tape. Disentil sedikit langsung ambyar. Sempat saya berpikir, hancur sudah ekspektasi dan reputasi.

Akhirnya saya merasakan fase ‘pimpinan yang digunjingkan’. Jadi ingat saat masih karyawan pun pernah melihat hal yang sama pada manajer saya. Apalagi kalau sebagian besar timnya adalah perempuan, banyak nian drama yang berbenturan dengan nilai profesional.

Percaya atau tidak, bahkan kami pernah menerima ancaman santet dari barisan sakit hati yang super baper. Saya tidak tahu harus ketawa atau geleng kepala, yang jelas kami tidak menseriusinya.

Konflik karier yang menimpa pemimpin perempuan, bisa jadi mempertaruhkan kewarasan. Waktu masih karyawan saja bisa stres, apalagi sudah pegang tanggung jawab lebih besar. Mau bagaimana lagi, sebuah kebijakan memang tidak bisa selalu menyenangkan semua orang.

 

Tidak Yakin Posisi Ini Pantas buat Saya

Kadang semua itu membuat tidak yakin saya cukup baik melakukan tanggung jawab ini. Suatu ketika saya mengungkapkan rasa gagal tersebut, pimpinan saya bertanya. “Kamu pernah bayangkan memimpin perusahaan dengan 20 anak buah sebelum kerja di sini?”

Saya menggeleng.

Pimpinan saya bertanya kembali, “Lihat bagaimana kamu sekarang?”

Saya terdiam, lalu cengegesan. Kadang terlalu kalut dalam rutinitas dan persoalan, membuat saya sulit melihat sejauh mana diri ini melangkah. Ibarat melihat kertas putih dan titik hitam, saya terlalu fokus pada hal kecil, sampai abai terhadap banyak hal yang bisa saya jadikan kekuatan.

Jack Ma bilang, investasi masa muda adalah kegagalan. Tidak ada kesalahan yang tidak memberi kita pelajaran berharga. In the end of the day, apapun politik dan drama pergunjingan yang terjadi, perusahaannya tidak serta merta bangkrut dan karier saya tidak lantas hancur. Itu hanya fase yang harus dilalui, supaya bisa scale up.

Jalan Pintas Klasik: Resign

Karena tidak disukai, sempat ingin resign. Jatuh dalam kesalahan, ingin resign. Sebenarnya seringkali rasa ingin resign hadir karena dorongan emosi sesaat. Sah-sah aja kok kalau pada akhirnya ingin keluar dari pekerjaan, asal bukan karena ingin lari dari masalah. Toh persoalan yang sama juga akan muncul di tempat baru. Bisa jadi kita hanya sedang jengah, maka learn to rest, not to quit.

Yang menentukan menang atau kalahnya kita menghadapi sebuah masalah, adalah reaksi kita pada persoalan itu. Ingat film Three Idiots? Saat hidup membuat kita diliputi ketakutan, sampaikan pada hati, “All is well.” 

Ada wejangan yang saya dapat dari pimpinan, “Ketika kamu mengeluh, kamu sedang menutup satu pintu solusi. Sama halnya ketika kita fokus membicarakan solusi, maka kamu bisa memikirkan banyak solusi lainnya dan melewati persoalan serta ketakutanmu.” Jadi kuncinya ada di dalam diri kita dan mindset yang kita miliki.

Menjadi wanita karier, apapun bidangnya, apapun jabatannya, sebenarnya adalah kesempatan untuk berproses dan mendalami banyak hal yang sifatnya teknis maupun non teknis. Inilah alasan kenapa our career matters. Kita mungkin suka penghasilannya, mungkin tidak suka beban kerjanya, tapi suatu hari nanti kita akan menyukai semua proses dan endingnya.

Hal yang paling penting dari menjalani hidup adalah ketika kita bisa memberikan dampak dan kontribusi bagi yang sesama, meskipun itu kecil. Semoga curhat colongan ini bisa turut menguatkan para perjuang karier di luar sana.

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Pernikahan Itu Meniti Masa Depan Hingga Ajal Menjemput
Artikel Selanjutnya
Tak Kenal Lelah untuk Berjuang Bersama, Itu Esensi Penting dalam Pernikahan