Sukses

Lifestyle

Memaafkan Diri Sendiri Bisa Lebih Sulit daripada Memaafkan Orang Lain

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: Tian - Semarang

Bagiku memaafkan kesalahan orang lain jauh lebih mudah ketimbang memaafkan kesalahan sendiri. Karena jika hati belum benar-benar bisa melupakan, maka aku hanya perlu untuk tidak melihat orang itu, namun bagaimana jika pada diri sendiri, apa bisa menghindar? Aku rasa sulit.

Selama ini aku berpikir jika perencanaan dan kesempurnaan adalah jalan menuju hidup yang lebih baik. Walau tidak sepenuhnya salah, tapi aku rasa juga tidak sepenuhnya benar. Perencanaan yang terlalu matang dan tuntutan kesempurnaan pada diri sendiri nyatanya malah membuatku tidak bisa hidup dengan tenang. Sebagai seorang manusia biasa, aku juga kerap kali membuat kesalahan. Utamanya pada rencana dan aturan yang sudah aku buat.

Kesalahan-kesalahan dan ketidaksempurnaan yang tidak disengaja inilah yang membuat hidupku terasa tidak bahagia. Bahkan tidak jarang aku menyalahkan diri sendiri.

Puncaknya pada akhir tahun 2016 kemarin, ketika aku tidak kunjung mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menyalahkan diri sendiri atas kegagalan dan ketidakmampuanku.

Berkali-kali aku gagal dalam interview, tidak diterima pada perusahaan yang sangat aku inginkan. Aku tidak berhenti menyalahkan diri sendiri. Menganggap diriku terlalu bodoh hingga berpenampilan tidak menarik.

 

Menyalahkan Diri Sendiri

Aku juga kerap memikirkan setiap perkataan yang aku ucapkan pada orang lain, takut jika alasan aku tidak diterima bekerja adalah karena aku salah bicara. Saat itu, aku merasa begitu tertekan, serta sangat membenci diriku sendiri, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak tahu bagian mana dari diriku yang harus aku benci, karena bagiku tidak ada hal baik yang aku dimiliki.

Satu setengah tahun berselang, aku pikir, aku bisa berhenti membenci diriku jika sudah mendapat pekerjaan. Nyatanya kebencianku seperti racun dalam pikiranku, mereka tidak pernah pergi walau aku ingin.

Aku masih saja menyalahkan diriku bahkan setelah mendapatkan pekerjaan. Seperti ketika bos mengomentari atau marah akan hasil kerjaku. Ketimbang memperbaiki kesalahan yang sudah aku buat, aku lebih banyak hidup pada penyesalan dan kekhawatiran bahwa aku akan mengulangi kesalahan yang sama.

Aku sadar jika sikapku yang terlalu ambisius hanya akan membuatku tidak bahagia, dan itu terbukti. Aku terus menerus membenci diriku sendiri.

Tetaplah Manusia Biasa

Pada awal 2018, aku membuat kesalahan terbesar dalam hidup, hingga membuatku jijik pada diriku sendiri, yaitu ketika aku membuat ibu, orang yang berjuang nyawa untukku menangis.

Saat itu, aku mengalami masa-masa sulit, dan tidak ada satupun dari keluarga yang mengerti keadaanku, termasuk kakakku. Aku jadi lebih cepat marah karena sebuah hal yang terbilang kecil. Akibatnya aku bertengkar hebat dengan kakakku, hingga membuat ibu menangis karena pertengkaran kami. Kami tidak saling bicara hingga berbulan-bulan, bahkan kakak sampai pergi dari rumah.

Beberapa bulan kemudian, aku dan kakak saling memaafkan dan berbaikan, tapi tidak dengan diriku sendiri. Aku belum bisa memaafkan dan berdamai, bagiku pertengkaran itu adalah kesalahan terburuk yang pernah aku perbuat, dan aku sulit memaafkan kesalahanku itu.   

Sering kali aku ragu dalam mengambil keputusan atau memilih diam jika tengah bersama orang lain, karena takut kembali membuat kesalahan. Terutama dari lidah, karena apa yang sudah ucapkan tidak akan pernah bisa ditarik lagi. Jika ada hati yang sakit karena apa yang aku ucapkan, aku pasti tidak akan termaafkan.

Pikiran-pikiran itu terus menghantui, sampai aku sadar jika sikapku yang suka menyalahkan diri sendiri hanya akan membuatku terus hidup dalam ketidakbahagiaan.

Alih-alih bertanggung jawab pada kesalahan yang pernah dibuat, aku lebih banyak menyalahkan dan kadang tidak segan menghukum diri sendiri. Seiring berjalannya waktu, aku memutuskan untuk menghadapi dan memperbaiki kesalahan yang aku perbuat, tidak lagi sekadar hanyut dan berakhir menyalahkan diri sendiri.

Awalnya tidak mudah untuk dilakukan, tapi secara perlahan dengan memaafkan diri sendiri, membuat hidupku menjadi jauh lebih ringan. Aku memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan kesalahan yang sudah aku perbuat. Walau terkadang, aku masih saja memikirkannya. Kesalahan-kesalahan itu tentu telah menjadi bagian dari masa lalu dan tidak akan pernah terpisahkan dari diriku. Namun tugasku bukanlah memikirkan apa yang sudah terjadi, melainkan mencegah mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.

Aku mulai belajar mengubah pola pikirku, dengan tidak terlalu menghakimi sesuatu yang telah aku perbuat. Meninggalkan kesalahan di masa lalu tepat di belakang, agar aku bisa melangkah dengan penuh keyakinan.

Sampai sekarang aku tetap berjuang untuk memaafkan diri sendiri karena aku tahu, aku adalah manusia biasa yang jauh dari kata sempurna namun satu yang pasti aku juga berhak untuk dimaafkan.

 

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA

Loading