Sukses

Lifestyle

Ketika Belum Sempat Memaafkan, Mendoakan Jadi Salah Satu Cara Terbaik

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: Deka Riti - Lahat

Bapak... Jauh di dalam relung hatiku sebenarnya aku merindukanmu. Namun, entah mengapa saat terlintas di pikiranku rupa wajahmu, kesakitan itu bangkit kembali. Rasanya ingin kutenggelamkan kunci pintu maafku ke dasar lautan. Apa salah bila aku terlampau membencimu? Bukan fisik melainkan kelakuanmu selama ini, terutama terhadap almarhumah ibu.

Tepat 5 tahun lalu, aku pergi meninggalkan rumah karena tak tahan melihat tingkah laku bapakku yang semakin tua semakin menjadi. Alih-alih sadar setelah kepergian ibuku untuk selamanya, beliau malah semakin keterlaluan. Beliau tidak bisa lepas dari jeratan barang haram yang bernama sabu. Sesuatu yang menjadi malapetaka bagi keluarga kami.

Sejak kecil, aku dipertontonkan perlakuan kasar bapak kepada ibu. Hal itu disebabkan karena bapak di bawah pengaruh narkoba, yang membuatnya menjadi paranoid dan selalu berprasangka buruk terhadap ibu. Melihat tangisan ibu, hatiku hancur, marah, dan trauma kepada bapak. Itu kurasakan sampai sekarang.

Tekanan batin yang disimpan rapi oleh ibuku selama ini membuatnya sakit parah hingga meninggal dunia. Tapi, bapak sama sekali tak menyadari bahwa hal itu terjadi karena perbuatannya. Sampai pada suatu hari, kenapa aku bilang bapak sudah sangat keterlaluan, untuk pertama kalinya beliau membawa dan memakai barang haram itu di rumah kami. Lebih parahnya lagi, barang itu disimpan di dalam lemari pakaianku. Mengetahui hal tersebut, badanku gemetar dan aku sangat ketakutan. Aku tidak sekuat dan sesabar ibu untuk menghadapi orang seperti bapak. Itulah sebabnya, aku memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah tanpa pikir panjang.

 

Memaafkan dan Mengikhlaskan

Sejak saat aku memutuskan pergi dari rumah 5 tahun lalu, aku tidak mengetahui kabar bapak sama sekali. Keluarga besarnya pun tidak mengetahui keberadaan beliau saat ini. Sebenarnya aku rindu, tapi kalau mengingat kelakuan bapak, sama sekali tak menggugah hatiku untuk bertemu kembali dengannya. Dan jika dijabarkan satu per satu, sungguh tak terhitung berapa banyak kesalahan yang telah beliau lakukan kepada kami.

Di bulan Ramadan yang suci kali ini, aku mulai berpikir ulang tentang bapak yang selama ini aku anggap jahat. Aku ingin memanfaatkan momentum ini untuk membersihkan hatiku dari rasa marah dan benci kepada tingkah laku beliau. Memori otakku mulai menghapus satu demi satu ingatan tentang kesalahan beliau. Aku hanya ingin mengingat kasih sayang dan kebaikannya saja, agar pintu maafku semakin terbuka lebar untuknya. Karena selama ini aku memang hanya membenci perilakunya dan bukan orangnya. Bagaimana pun juga beliau tetap bapakku.

Ramadan tahun ini, aku ingin lebih khusyuk beribadah tanpa rasa dendam dan benci terhadap siapapun, termasuk bapakku sendiri. Dan niat tulus memaafkan bapak dari hatiku ini pun kuiringi dengan doa supaya beliau bertobat dan tidak terjerat oleh barang haram itu lagi. Aku berharap di mana pun beliau berada saat ini, semoga kondisinya baik-baik saja dan selalu dalam lindungan Allah.

Bila suatu hari nanti kami berdua dipertemukan kembali, aku pun ingin meminta maaf karena pernah meninggalkannya dalam kondisi seperti saat itu. Aku sendiri terlalu dini menyerah untuk terus menasihati beliau agar tidak menyentuh narkoba lagi. Tetapi apa daya, dulu aku tidak bisa tahan menerima kemarahan dan bentakan dari bapak ketika sedang kuberi nasihat. Sekarang aku pun sudah mengikhlaskan semua perbuatannya dan semoga Allah mendengar doa-doaku yang terbaik untuk bapak.

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA

Loading