Sukses

Lifestyle

Luka di Hati Mungkin Sulit Hilang tapi Akan Pudar Seiring Waktu Berjalan

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: Pratiwi Putri - Sampit

Setiap luka akan pudar, memaafkan mungkin salah satu jalan supaya hati lebih tenang melangkah.

Ada perjalanan panjang yang saya lewati sebelum sampai pada titik di mana saya berada sekarang. Semua anak tentu ingin hidup bahagia bersama kedua orang tuanya, begitu juga saya. Jika diingat kembali, waktu itu saya masih bocah kelas 1 sekolah dasar saat ayah meninggal.

Yang saya ingat sampai sekarang adalah ada sekumpulan pria berseragam loreng dirumah, mengangkat peti, dan saya diminta untuk berjalan bolak balik di bawah peti itu. Belakangan ketika saya sudah lebih besar saya baru tahu katanya itu supaya saya tidak terus menerus mengingat ayah yang udah tiada. Saya ingat masa-masa setelah itu saya tetap bahagia tinggal bersama nenek di desa sedangkan ibu saya bekerja di kota. Hari-hari berlalu dengan damai, dan saya ingat betul ketika ibu saya pulang pada akhir pekan adalah saat-saat yang paling bahagia. Kebetulan salah satu paman saya tidak memiliki anak, jadi beliaulah yang memanjakan saya waktu itu. Tidak ada ayah kandung, paman pun jadi mungkin begitu.

Beberapa tahun berlalu, saya yang waktu itu sudah duduk di kelas 5 sekolah dasar dibawa ibu ke kota. Pada awalnya saya senang sekali karena itu berarti saya akan bersama ibu setiap hari, sekolah di kota dan punya teman baru. Tapi rupanya kebahagiaan tidak begitu saja berpihak pada saya.

Ternyata ibu saya menikah lagi, dengan seseorang yang sepertinya baik. Kakek, nenek, paman dan bibi semuanya menanyakan apakah ayah tiri saya baik. Saya yang waktu itu masih ingusan hanya menjawab baik saja. Tapi semuanya tidak pernah baik-baik saja. Orang yang disebut ayah tiri saya sebenarnya tidak pernah sekalipun mengajak saya bicara. Beliau lebih sering melotot daripada tersenyum. Sebagai anak-anak tentu saja saya takut.

 

 

 

Melalui Hari dengan Perasaan Takut

Hari demi hari saya lewati dengan perasaan takut. Takut ada yang salah menurut ayah tiri saya. Saya yang terbiasa di desa dengan nenek ternyata tidak sesuai dengan kehendak beliau. Saya bahkan tidak berani makan satu meja karena selalu saja ada yang salah dari sikap saya, entah karena ketika makan sendok dan piring saya berbunyi seperti orang jualan bakso ataupun karena saya mengeluarkan bunyi ketika mengunyah makanan. Tapi saya waktu itu benar-benar tidak tahu karena dengan nenek semua baik-baik saja. Satu luka hadir di hati saya.

Beberapa bulan berlalu, bulan-bulan pertama adalah bulan yang berat meskipun begitu saya berusaha melakukan yang terbaik. Saya ingin ibu saya bahagia. Saya belajar dengan rajin hingga ketika hari pembagian rapor pertama di sekolah baru saya mendapatkan peringkat 6. Bagi seorang anak desa yang sekolah di tempat bagus di kota tentu saja itu sudah usaha terbaik saya. Tapi apa yang terjadi? Ibu saya memang senang dan memberikan semangat tapi tidak dengan ayah tiri saya. Beliau malah meremehkan dan membandingkan dengan anak kandung beliau yang memang kebetulan berada di tingkat kelas yang sama meskipun di sekolah berbeda. Satu lagi luka di hati saya. Tapi karena itu saya bertekad saya akan belajar lebih giat lagi tak peduli bagaimanapun saya merasa sedih.

Hingga ketika ujian kelulusan kelas 6 SD saya mendapatkan nilai ujian nasional tertinggi di sekolah saya, dan lebih tinggi dari saudara tiri saya. Tentu saja ibu saya senang. Tapi sepertinya ayah tiri saya tidak menyukainya. Bentakan demi bentakan, pelototan demi pelototan makin sering saya dapatkan. Tapi entah kenapa saya bertahan tidak mengadu pada ibu saya. Dari yang awalnya rasa takut seiring berjalannya waktu timbul rasa tidak suka pada beliau.

Muncul Rasa Benci

Hari demi hari berlalu, ibu juga sibuk bekerja. Jika kebetulan ibu tidak bekerja dan ayah tiri saya tidak ada, itulah saat di mana saya senang bisa bersama ibu. Masuk di SMP favorit juga tidak membuat saya bahagia waktu itu. Yang saya nantikan cuma liburan sekolah karena saat liburan saya bisa pergi kerumah nenek. Melepaskan semua sesak di dada. Tidak ada ketakutan ketika di rumah nenek. Semua baik-baik saja. Tidak ada bentakan, kata-kata kasar maupun mata yang melotot.

Tahun-tahun berlalu, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan SMA di luar kota. Kebetulan SMA yang saya pilih adalah salah satu SMA unggulan favorit dan seleksi masuknya sangat ketat. Sekolahnya pun di dalam pondok pesantren. Saya sedih tidak bisa bersama ibu, tapi rasa takut dan tidak suka pada ayah tiri saya mengalahkan keinginan tinggal bersama ibunda tercinta. Teman-teman sekolah selalu rajin pulang kampung tapi tidak dengan saya. Saya lebih suka meminta ibu untuk datang menjenguk karena ibu selalu sendirian jika menjenguk saya. Paling-paling ditemani oleh kakak sepupu saya atau teman kerja ibu yang kebetulan masih bujang.

Di tengah-tengah masa SMA usaha mebel ibu gulung tikar dan akhirnya ibu harus ikut pulang ke kampung halaman ayah tiri saya dengan alasan di sana ada rumah warisan. Tidak cukup hanya ayah tiri, keluarga beliau pun tidak memperlakukan saya seperti layaknya keponakan atau cucu kandung. Bahkan salah satunya dengan terang-terangan mengatakan saya bukan keponakannya di depan banyak orang. Terlukakah saya? Iya. Tapi bukan karena itu. Karena saya lihat ibu saya terluka. Bagaimanapun itu pasti tidak ada dalam bayangan ibu.

Akhirnya saya lulus SMA dan tentu saja berencana kuliah. Tapi masalah kembali datang, uang yang dikumpulkan ibu untuk saya kuliah dipakai oleh ayah tiri saya sehingga saya harus menunggu satu tahun untuk kuliah. Saya berusaha menerima dengan lapang dada karena saat itu ibu saya baru melahirkan seorang anak laki-laki. Tapi masalah demi masalah hadir, ayah tiri saya bukannya berusaha menghidupi kami malah menghabiskan semua yang sudah dikumpulkan ibu, bahkan uang saya dari pensiunan ayah kandung saya ikut dipakai juga.

Mereka sering bertengkar, ayah tiri saya yang pencemburu bahkan beberapa kali sampai memukul ibu. Hati saya rasanya sakit sekali. Rasa tidak suka saya mulai berubah menjadi benci. Bagaimana tidak, di saat ibu saya sibuk bekerja dan saya menjaga adik di rumah, ayah tiri saya malah sempat main mata dengan perempuan lain.

Saya tidak lagi merasa takut, tapi saya membenci. Masa kecil saya yang harusnya penuh tawa hilang, pun kebahagiaan ibu saya sekarang. Janji-janji yang diucapkan ayah tiri saya hanya janji palsu. Saya mulai masuk kuliah, berat saya rasakan mengingat apa yang terjadi dirumah. Tapi saya harus berhasil, itu yang saya pikirkan.

Kehidupanku Setelah Menikah

Sampai suatu hari, ibu menghubungi saya dan berkata bahwa ibu pergi dari rumah tapi tidak bisa membawa adik laki-laki saya. Deg! Jujur saja saya senang ibu akhirnya pergi dari rumah tapi saya sedih karena adik saya masih di rumah itu. Ibu bukan tidak mau membawa, tapi adik direbut oleh ayahnya, ibu bilang jika mempertahankan adik waktu itu maka selamanya ibu tidak akan bisa pergi, ibu bilang hak asuh adik akan jatuh di tangan ibu ketika sidang di pengadilan. Tapi setelah sidang berlalu pun, ibu bahkan tidak diperbolehkan membawa adik untuk menginap di rumah ibu. Ibu hanya boleh menjenguk sesekali, adik selalu menangis ketika ibu kembali pulang. Hancur hati saya melihat itu semua.

Adik saya bilang, "Tidak bisa ikut Mama karena kalau ikut Mama, Ayah bilang nanti Ayah mati." Hati saya makin hancur mendengar itu. Bagaimana bisa seorang ayah berkata begitu pada anak kandungnya, bagaimana bisa menjauhkan anak dari ibunya. Jujur saya membencinya. Tahun demi tahun berlalu keadaan tidak berubah. Ketika saya wisuda, ibu juga tidak diizinkan membawa adik saya yang waktu masih belum masuk SD. Bahka ketika saya menikah, adik saya tidak diizinkan menginap meskipun waktu itu sudah saya jemput dengan calon suami saya. Kami meminta izin baik-baik tapi tidak membuahkan hasil.

Hari-hari berlalu, setelah menikah saya pindah ke luar pulau ikut suami. Ibu saya tinggal dengan adik sepupu di rumah. Makin lama komunikasi dengan adik makin jarang. Hanya sesekali jika adik saya mengirim pesan di What's App. Bukan karena saya tidak mau, karena HP adik selalu saja dipegang ayahnya. Saya malas saja berhubungan dengan beliau. Sampai akhirnya saya hamil dan melahirkan seorang anak. Menjadi orang tua rasanya berbeda. Saya akan jengkel kalau ada orang lain memarahi anak saya, bahkan jika itu suami saya sendiri. Saat itu saya makin yakin adik saya pasti menjalani hari-hari yang sulit. Bahkan mungkin lebih sulit dari hari-hari saya di masa kecil. Dari yang saya dengar, ayahnya pun sampai sekarang belum mendapatkan pekerjaan yang tetap setelah di berhentikan dari pekerjaannya dahulu.

Memaafkan

Lama sudah saya menyimpan kebencian dalam hati sampai rasanya sesak sendiri. Melihat anak saya, saya berpikir mungkin ayah tiri saya tidak mau kehilangan anak laki-lakinya. Saya mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan alasan beliau melakukan semua hal yang saya benci selama ini. Berusaha mengerti jalan pikiran beliau. Mungkin selama ini saya menjadi salah satu penghalang rezeki beliau karena kebencian dan juga doa saya.

Orang bilang doa orang teraniaya mudah dikabulkan Tuhan. Dari dulu saya tidak pernah berdoa semoga beliau sehat, senang dan mendapatkan rezeki yang barokah. Saya ingat doa-doa yang saya panjatkan dalam hari-hari sulit di masa kecil saya adalah saya tidak ingin ada laki-laki itu lagi dalam hidup saya maupun ibu saya, saya ingin beliau merasakan hari-hari sulit seperti saya dan ibu saya. Sekarang saat saya sudah menjadi orang tua, saya mulai menyadari bahwa apapun yang terjadi, tidak boleh sedikit pun keluar doa buruk untuk orang lain. Bagaimana jika orang lain melakukan hal sama?

Perlahan saya mulai melepaskan kebencian saya, semua sudah berlalu. Saya dan ibu juga sudah bahagia dengan jalan yang kami pilih. Meski tidak mengucapkannya secara langsung pada ayah tiri saya, tapi sekarang saya sudah memaafkan semua yang pernah terjadi pada saya dan juga ibu saya. Biar bagaimanapun, karena semua yang saya lalui saya bisa menjadi diri saya yang sekarang. Luka-luka itu sudah hilang, memang berbekas tapi sudah tidak sakit. Seperti luka di badan yang bisa kita lihat bekasnya, tapi lama kelamaan luka itupun akan hilang. Teriring doa agar ayah tiri dan adik laki-laki saya hidup bahagia bersama.

 

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA

Loading