Sukses

Lifestyle

Menyimpan Kebencian Terlalu Lama Hanya Akan Menyiksa Batin

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: Nuristiqamah Awaliyahputri B. - Makassar

Perihal memaafkan atau memberi maaf, tidak semua orang mengerti dan mengaplikasikan ketika ada seseorang yang berbuat salah. Ada beberapa kemungkinan yang bisa saja terjadi, yaitu: seseorang akan sulit untuk memberi maaf atau seseorang dengan senang hati memberi maaf. Perihal lain tentang meminta maaf, tidak semua orang juga mengerti dan mengaplikasikan ketika berbuat kesalahan kepada orang lain.

Ada beberapa kemungkinan yang bisa saja terjadi, yaitu: seseorang akan sulit untuk meminta maaf atau seseorang dengan rasa bersalahanya akan meminta maaf. Argumen tentang memberi dan meminta maaf adalah perkara sederhana yang terkadang sulit untuk dilakukan oleh beberapa orang. Saya tidak ingin mengatakan bahwa diri paling benar. Tidak. Tetapi, jika diizinkan untuk memberikan tanggapan bahwa saya bukanlah orang yang sulit memberi maaf dan bukan pula orang yang sulit untuk meminta maaf. Hal tersebut saya lakukan karena memosisikan diri saya ketika orang lain juga mengalami hal yang sama.

Contoh kecil yang pernah terjadi dalam hidup saya. Beberapa tahun lalu, ada kejadian yang membuat saya syok karena tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Suatu ketika, saya sedang mengajar di salah satu masjid tempat saya mengajar. Singkat cerita, ada anak yang merasa dirinya saya pukul, tetapi pada kenyataannya tidak. Mungkin saja dia merasa saya pukul karena sentuhan fisik yang menurut saya bukan sesuatu yang fatal. Saya lakukan itu karena bentuk nasihat dan peduli saya kepada si anak karena sudah berbuat kesalahan. Teman-temannya yang lain pun melihat apa yang saya lakukan dan mereka paham bahwa si anak ini memang bersalah serta sentuhan saya yang dianggap pukulan itu dinilai hal yang wajar.

Setelah kejadian itu, saya tidak tahu ada cerita apa si anak dengan orang tuanya, utamanya kepada ayahnya. Ayahnya kemudian datang ke rumah dan seketika itu marah kepada saya tanpa minta penjelasan dari saya. Kalimat yang dilontarkannya sungguh sangat tidak baik, kurang sopan, bahkan sudah sangat kelewatan. Kalimat demi kalimat pun semakin menyudutkan saya dan menganggap saya sangat bersalah. Meskipun saya merasa bahwa apa yang saya lakukan, seorang orang tua juga akan melakukan hal yang sama kepada anaknya ketika berbuat kesalahan. Tidak ada waktu saya untuk bisa menjelaskan bagaimana kronologinya.

 

Perasaan Sedih

Lanjut cerita, karena kejadian itu, saya mulai mengurung diri dan memikirkan apa yang telah saya lakukan bukan pukulan untuk menyakiti. Saya hanya bisa terdiam dan menghentikan aktivitas mengajar yang rutin saya lakukan. Namun, berhentinya saya, justru membuat warga di kompleks yang saya tempati itu merasa berat jika saya memutuskan untuk berhenti hanya karena seorang ayah yang tidak terima anaknya dinasihati untuk kebaikannya.

Hari berganti hari, saya coba untuk berdiskusi dengan perasaan saya untuk tidak membenci apa yang dia ucapkan kepada saya. Seseorang yang sedang emosi, terkadang memang tidak mampu menahan diri untuk tidak mengeluarkan kalimat yang kurang menyenangkan. Berbenah hati untuk bisa memaafkan, meskipun saya merasa ini bukan kesalahan saya. Sampai sekarang pun, kejadian ini tidak akan pernah terlupakan karena the first problem yang harus saya hadapi. Saya hanya berharap, suatu saat nanti, mereka akan sadar bahwa apa yang pernah mereka lakukan terhadap saya adalah kesalahan fatal karena tidak memberikan kesempatan kepada saya untuk menjelaskan dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.

Saya dapat memberi perumpamaan dari cerita yang saya sampaikan tentang orang yang menyimpan kebencian berlama-lama sampai pada akhirnya sangat sulit untuk memberi maaf. Perumpamaannya ketika seseorang diminta untuk menyimpan ketan dalam kantong. Kantong pertama disimpan sehari atau dua hari dan kantong kedua disimpan berhari-hari. Ketika seseorang diminta untuk membawa dua kantong tersebut di mana dan kapan pun, tentu saja kantong pertama tidak masalah.

Tidak Mau Menyimpan Kebencian

Berbeda dengan kantong kedua yang tinggal berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, tentu akan mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Seperti itulah sebuah kebencian dan maaf. Jika disimpan hanya satu atau dua hari, kebencian bisa diobati dengan kata maaf. Tetapi, jika disimpan berlama-lama, kebencian itu akan membusuk dalam hati apalagi tidak dibarengi dengan kata maaf untuk membuat hidup lebih berwarna, hati menjadi bersih, dan pastinya kehidupan yang tenang serta damai.

Melalui kejadian yang pernah saya alami, saya ingin menjadi orang yang membawa ketan hanya satu atau dua hari saja, karena penyiksaan batin akan saya rasakan jika harus menyimpan kebencian berlama-lama. Bukankah dalam Islam sudah diajarkan jika sesama saling membenci, batas waktu yang diberikan hanya sampai tiga hari, selebihnya itu adalah perilaku tidak terpuji. Dan juga sudah dijelaskan bahwa menjadi seorang hamba haruslah pemaaf, karena Allah saja selalu memberikan maaf kepada hambanya yang berbuat dosa dan bertaubat. Sungguh benar adanya bahwa maaf akan membawa kehidupan seseorang menjadi damai.

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA

Loading