Sukses

Lifestyle

Memaafkan Belum Tentu Melupakan, tapi Bisa Mendewasakan

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: D - Ternate

Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, baik disengaja maupun tidak disengaja. Tetapi ada sesuatu hal yang membedakan manusia satu dengan lainnya, “Apakah mereka sadar telah melakukan kesalahan atau tidak?”

Hanya sedikit orang yang menyadari kesalahannya dan meminta maaf dengan tulus. Sebagian lainnya meminta maaf dan mengulangi kesalahannya lagi. Kesalahan yang kita lakukan kadang terjadi bukan dari diri kita sendiri, tetapi ada faktor pendukung lain seperti keadaan lingkungan, situasi dan kondisi, norma yang berlaku dan campur tangan orang lain.

Tahun ini, saya memasuki usia 21 tahun. Di usia ini saya sudah tergolong dewasa. Dewasa bukanlah tentang umur, melainkan tentang kepribadian dan pola pikir orang tersebut. Saya dianggap cukup dewasa dari mayoritas pemuda pemudi di usia 21 tahun. Kedewasaan ini saya dapatkan sejak duduk dibangku SMA (saat berusia 15 tahun) dikarenakan pengalaman pahit yang saya dapatkan sejak remaja. Saya belajar menerima, ikhlas dan tabah sejak dini sehingga karakter dan pola pikir saya menjadi lebih baik dibandingkan remaja seusia saya.

Awal pengalaman pahit ini terjadi karena “rasa iri”. Sejak Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas, saya tergolong dalam kategori anak yang cerdas. Walaupun cerdas, saya tetap menjadi orang yang low profile. Saya juga suka membantu teman lain yang kesulitan dalam belajar. Saya baik dalam pelajaran akademik maupun non akademik sehingga memicu rasa iri hati dari teman-teman lainnya.

 

 

Kejadian di SMP

Pada saat itu saya masih SMP, saya tidak menyadari jika mereka yang saya anggap teman adalah musuh dalam selimut. Pada saat itu, saya adalah anak yang ceria dan mudah mempercayai orang lain. Saya membentuk kelompok belajar dengan mereka. Kami berdiskusi tentang pelajar, bercerita dan saling bertukar canda tawa. Saya merasakan persahabatan yang hangat dengan mereka tetapi semua itu adalah kenangan yang ingin saya lupakan sekarang.

Setelah duduk di bangku SMA, semuanya perlahan mulai terbongkar. Tuhan memperlihatkan sisi buruk mereka di hadapan saya. Karena adanya rasa iri hati, mereka yang saya anggap teman ternyata diam-diam ingin menghancurkan dan menjatuhkan saya. Mereka mulai membentuk kelompok yang lebih besar dan menyebarkan cerita yang tidak benar tentang saya. Saya mulai menyadari sifat mereka dan memilih untuk menjauh.

Mereka membicarakan saya, memfitnah dan bahkan menyebarkan berita yang tidak benar sehingga orang lain mulai percaya. Mereka punya satu senjata ampuh untuk meyakinkan orang lain yaitu “air mata”. Mereka menceritakan hal yang tidak pernah saya lakukan dan membuat saya terlihat seperti tokoh antagonis. Dengan ekspresi wajah saya yang dingin dan terlihat cuek, orang lain yang tidak mengenal pribadi saya dengan baik akan salah paham.

Semuanya datang terlalu mendadak. Bagaikan badai dan langit hitam menghantam hati dan pikiran saya. Waktu berlalu, saya mulai bangkit dan akhirnya saya menganalisis serta mengobservasi kenapa mereka melakukan hal tersebut. Alasannya karena ada orang lain yang tidak senang dengan persahabatan kami. Mereka menganggap kami sulit di pisahkan sehingga mereka memutuskan untuk mencari kambing hitam agar memecahkan persahabatan kami. Ya benar! Kambing hitam itu adalah saya. Mereka mengatakan hal yang tidak pernah saya lakukan kepada sahabat-sahabat saya sehingga mereka menjadi benci dan mulai menghianati saya.

Melaluinya Tidak Mudah

Apakah sangat sulit bagi seorang remaja untuk menerimanya? Tentu sangat sulit. Terlebih lagi dengan seorang remaja yang introvert seperti saya. Saya menanggung beban pikiran semasa sekolah seorang diri. Saya tidak menceritakan kepada keluarga maupun orang tua saya karena saya tidak terbiasa untuk mencurahkan perasaan saya. Jika dipikir kembali, hal tersebut sangat salah. Tetapi itu merupakan satu-satunya jalan yang saya pilih waktu itu. Lebih baik menyelesaikan masalah seorang diri daripada merepotkan orang lain.

Saya sempat mengalami stres karena masalah ini. Diri dan mental saya belum siap menerima pengkhianatan terbesar dari orang-orang yang saya percayai. Apalagi saya selalu disalahkan oleh pihak keluarga saya karena tidak menjalin hubungan lagi dengan mereka. Sangat sulit dan sangat tertekan. Mereka menyalahkan saya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Hari demi hari saya lalui dengan sakit hati dan tangisan. Tidak ada tempat untuk mencurahkan semua isi hati. Bayangkan saja saya menerima semua itu di usia remaja. Ketika anak lainnya sibuk bahagia dan menikmati masa remaja mereka, sedangkan saya sibuk memikirkan pahitnya kenyataan yang saya alami saat itu.

Bagaimana saya bisa melaluinya? Saya berpikir lebih positif, belajar lebih rajin, menekuni hobi baru dan saya memutuskan untuk menceritakan semua keluh kesah saya kepada Tuhan. Berpikiran positif membuat saya lebih ikhlas, menekuni hobi baru membuat saya lupa dengan masalah tersebut dan mencurahkan semuanya pada Tuhan dapat mengurangi rasa stres saya. Saya yakin Tuhan mendengar semua yang saya ceritakan. Walaupun begitu, prestasi akademik dan non akademik saya tidak menurun karena saya ingin menunjukkan kepada mereka bahwa saya tidak akan hancur dengan ombak yang mereka ciptakan.

Berusaha Memaafkan

Empat sampai enam tahun kemudian, mereka mulai menyadari kesalahan mereka dan satu per satu datang kembali untuk meminta maaf. Apakah saya maafkan? Tentu saja. Awalnya sangat sulit memaafkan mereka karena hal tersebut membawa pengaruh yang besar terhadap fisik dan mental saya di usia remaja.

Memasuki tahun-tahun perkuliahan, saya lebih dapat mengontrol hati dan pikiran saya sehingga dengan mudah memberi maaf terhadap mereka. Saya memaafkan tetapi saya tidak akan melupakan masalah tersebut. Apakah karena dendam? Tentu saja bukan. Karena dari masalah tersebut saya belajar banyak sekali hal baru pada usia muda. Saya bahkan bersyukur, karena hal tersebut membentuk pribadi saya menjadi lebih tangguh, lebih dewasa dan lebih protektif dalam memercayai orang lain agar kejadian tersebut tidak terulang kembali.

Memaafkan belum tentu melupakan. Bukti nyata yang saya dapatkan dari belajar sabar dan mengikhlaskan adalah sekarang saya selangkah lebih maju dari mereka yang pernah berbuat buruk terhadap saya. Dengan memaafkan, pikiran menjadi lebih tenang dan hati terasa lebih damai. Sebelum belajar memaafkan, mari belajar mengikhlaskan terlebih dahulu agar kita dapat memberikan maaf dengan tulus. Tuhan saja Maha Pengampun dan Maha Pemaaf, kenapa kita sebagai umat ciptaan-Nya tidak bisa memaafkan?

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA

Loading