Sukses

Lifestyle

Sebagai Ibu, Memarahi Buah Hati Seringkali Malah Melukai Diri Sendiri

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: Annisa Nurrahmah - Cimahi

Memaafkan Buah Hati

Hari itu kembali aku melakukan sebuah kesalahan, membentak dan melayangkan pelototan pada kedua anakku. Sebenarnya aku sedang merasa lelah karena semalam begadang menyusui si bungsu yang kurang nyenyak tidurnya. Berkali-kali terbangun dan menangis padahal sudah kususui. Sehingga aku harus memeluk dan menggendongnya semalaman.

Puncaknya ketika anak pertama dan keduaku bermain tanah sehingga mengotori baju dan membuat berantakan pekarangan rumah. Aku sudah mengingatkan mereka untuk segera berhenti namun kegiatan bermain tanah berlanjut dengan bermain air di kamar mandi. Mungkin maksudnya membersihkan badan tapi malah membuat basah di mana-mana.

Ketika anak keduaku terpeleset dan menangis, bukannya memeluknya, aku malah memarahi keduanya. Bukan sepatah dua patah kata melainkan sebarisan kalimat yang tak seharusnya aku ucapkan. Padahal tanpa kumarahi seperti itu, pasti mereka sadar dengan kesalahannya. Seharusnya cukuplah mengingatkan mereka jika apa yang menimpa mereka terjadi karena ulahnya sendiri.

 

Menyayangi Anak-Anak

Malam hari ketika anak-anakku sudah tertidur, kupandangi wajah polosnya. Anak pertama berusia 6 tahun, anak kedua 3 tahun, dan si bungsu baru beberapa bulan. Barulah aku menyadari betapa teganya sebagai ibu yang seharusnya menyejukkan hati anak-anak, tapi kini membuat hatinya terluka. Bukan hanya sekali namun berkali-kali. Lalu aku merasa takut kesalahan kecil mereka yang menimbulkan kemarahan dalam diriku terus menumpuk menjadi kebencian.

Ya, bukan tak mungkin seorang ibu membenci anaknya ketika ia tidak berusaha memaafkan kesalahan anaknya. Dalam kehidupan aku seringkali melihat seorang ibu yang tampak sangat berbeda memperlakukan anak-anaknya. Ternyata ada sedikit ganjalan dalam hatinya berupa kesalahan anak yang meski sudah belasan bahkan puluhan tahun berlalu namun belum dimaafkan dengan ikhlas. Orang tua ternyata tak hanya harus bisa memaafkan dirinya sendiri namun juga memaafkan kesalahan anak-anaknya.

Anak, meskipun mereka hanyalah manusia dalam tubuh kecilnya, namun mereka adalah jiwa yang harus dipelihara oleh orang dewasa. Siapa yang paling tulus menjaganya? Siapa lagi jika bukan orang tuanya. Anak pasti sering berbuat kesalahan karena dari kesalahannya ia belajar. Anak mungkin membuat orang tua kesal dengan bantahannya, namun itulah cara ia belajar menjadi pribadi yang kuat di luar sana.

Memandangi wajah-wajah mereka setiap malam, mengingatkanku bahwa napas yang dihembuskan adalah kehidupan yang pernah kudamba. Aku pun menyadari jika begitu banyak kelebihan dan kebaikan dibandingkan kesalahan-kesalahan kecil yang mereka lakukan. Kumaafkan mereka dengan ikhlas agar apa yang disampaikan padanya diindahkan. Kumaafkan dengan tulus agar mereka pun merasakan betapa aku begitu menyayanginya. Sehingga kelak buah hatiku dapat menyanyangi orang tuanya dengan ikhlas.

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA

Loading