Sukses

Lifestyle

Survei: Selama bulan Ramadan Masyarakat Indonesia Naik Berat Hingga 6 Kilogram

ringkasan

  • 8 dari 10 (83%) cenderung mengkonsumsi lebih banyak makanan selama Ramadan dan Hari Raya Puasa Idul Fitri dibanding hari biasa
  • Survei Holiday Eating Survey di Asia Pasifik mengungkapkan berat badan konsumen di 11 negara Asia Pasifik (termasuk Indonesia) tersebut bertambah rata-rata enam kilogram pada akhir bulan Ramadan
  • Menurut survei, 83% responden Indonesia yang disurvei cenderung merayakan momen ini dengan mengkonsumsi lebih banyak makanan

Fimela.com, Jakarta Bagi sebagian orang masalah berat badan menjadi suatu masalah ketika bulan Ramadan berakhir. Sebab selama Ramadan dan Idul Fitri orang Indonesia, makan lebih banyak namun kurang berolahraga yang menyebabkan kenaikan berat badan.

Perusahaan nutrisi global, Herbalife Nutrition, pun menyelenggarakan Holiday Eating Survey pada April 2019 yang lalu dengan lebih dari 5.500 responden di 11 negara Asia Pasifik yaitu Australia, Hong Kong, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.

Survei mengungkapkan bahwa dari 500 konsumen Indonesia yang disurvei, delapan dari 10 (83%) cenderung mengkonsumsi lebih banyak makanan selama Ramadan dan Hari Raya Puasa Idul Fitri dibanding hari biasa.

Di Indonesia, selama bulan Ramadan, lebih dari 200 juta penduduk muslim melakukan puasa setiap hari dengan tidak makan dan minum sejak terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari. Di tengah kebiatan ibadah ini, penting untuk mengetahui bahwa berpuasa selama bulan Ramadan juga dapat menyebabkan kenaikan berat badan karena keputusan pemilihan makanan dan kurangnya olahraga.

Faktanya, Survei Holiday Eating Survey di Asia Pasifik mengungkapkan bahwa berat badan konsumen di 11 negara Asia Pasifik (termasuk Indonesia) tersebut bertambah rata-rata enam kilogram pada akhir bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Ini merupakan jumlah kenaikan berat badan tertinggi yang dialami oleh konsumen dibandingkan dengan musim perayaan lainnya termasuk Deepavali, Natal dan Tahun Baru.

“Selama puasa, tidak hanya pola makan dan tidur yang berubah, dehidrasi dan kurangnya asupan makanan membuat metabolisme tubuh juga melambat untuk membuat penggunaan energi dalam tubuh menjadi lebih efisien. Padahal sangat penting bagi kita untuk mempertahankan kebiasaan gaya hidup sehat, termasuk membuat keputusan makanan yang lebih baik dan dipadu dengan aktivitas fisik, untuk memudahkan manajemen berat badan dan memperoleh kesejahteraan," ujar Senior Director & General Manager Herbalife Nutrition Indonesia Andam Dewi dalam siaran persnya.

Orang Indonesia lebih banyak mengkonsumsi makanan selama Ramadan dan Idul Fitri

Menurut survei, 83% responden Indonesia yang disurvei cenderung merayakan momen ini dengan mengkonsumsi lebih banyak makanan saat Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri dibanding hari-hari biasa.

Selain itu, 66% responden Indonesia mengakui mereka mengkonsumsi makanan yang kurang sehat. Beberapa alasan utamanya adalah:

• Mereka menikmati makanan enak selama liburan (62%),

• Mereka lebih fokus pada menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga (56%),

• Teman dan keluarga menjadi faktor penting untuk ikut melakukan perayaan (53%).

"66% responden Indonesia merasa bersalah telah mengkonsumsi dan menerapkan pola makan makanan kurang sehat selama Ramadan dan perayaan Idul Fitri. Dan hasilnya 71% akan berusaha memperhatikan pemilihan makanan, khususnya makanan sehat begitu perayaan usai," tambahnya.

Intensitasi olahraga atau kegiatan fisik menurun selama Ramadan. Mayoritas (75%) responden Indonesia menyatakan bahwa mereka cenderung kurang melakukan olahraga atau aktifitas fisik selama Ramadan dan menjelang Idul Fitri, dan 66% menyatakan bahwa akan menunda agenda berolahraga hingga Hari Raya usai. Alasan utamanya meliputi:

• Mereka lebih fokus pada menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga (60%),

• Minimnya waktu untuk melakukan olahraga selama libur lebaran (47%),

• Sulit untuk menjaga aktifitas olahraga selama liburan (36%).

Menurunkan berat badan

Setelah Ramadan dan Idul Fitri, menurunkan berat badan menjadi agenda utama responden IndonesiaKarena berat badan responden Indonesia cenderung bertambah setelah Ramadan dan Idul Fitri, maka menurunkan berat badan menjadi agenda utama mereka setelah perayaan Idul Fitri usai. Rata- rata, orang Indonesia menghabiskan 11 hari untuk menurunkan berat badan yang mereka peroleh setelah perayaan, dan 55% dari responden mengaku berhasil melakukannya.

Meskipun sebagian besar berhasil menurunkan berat badan, hampir empat dari 10 (37%) konsumen Indonesia tidak berhasil menurunkan berat badan seperti mereka harapkan. Hal ini menunjukkan bahwa mempertahankan kebiasaan gaya hidup sehat sepanjang Ramadan dan Idul Fitri bisa menjadi cara yang lebih baik untuk menjaga dan menjaga kesehatan secara menyeluruh secara jangka panjang.

“Menerapkan gaya hidup sehat dan aktif membutuhkan komitmen jangka panjang dan konsisten. Namun pada saat Anda telah menunggu sepanjang tahun untuk mencicipi berbagai masakan rumah yang hanya bisa djumpai pada saat Ramadan dan Idul Fitri, maka jangan buat diri anda menderita, cicipi dan konsumsi makanan yang kita suka. Namun, setelah itu segera kembali kepada resolusi hidup sehatmu. Untuk hasil terbaik, patuhi rencana gaya hidup sehat, dan gabungkan dengan olahraga yang konsisten untuk membantu mencapai resolusi sehatmu,” tutup Andam.

#Growfearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
Jangan Sembarangan, Simak Dulu Serba-Serbi Menurunkan Berat Badan dengan Hipnoterapi
Artikel Selanjutnya
Mengapa Kurang Tidur Bisa Bikin Gemuk? Ini Alasan Ilmiahnya