Sukses

Lifestyle

Tak Menjadi Cinta Pertama, Tak Apa-Apa

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada yang istimewa dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Ina - Aceh Tenggara

Pernikahan bukan hanya tentang aku dan kamu yang akan menjadi kita nantinya. Tapi pernikahan merupakan suatu kepercayaan tentang sebuah keyakinan yang tujuaannya adalah menjadi penyambung untuk segala keretakan di setiap sisi yang diikat secara suci sesuai dengan apa yang dianutnya.

Sebut saja namaku Ina. Usia aku 30 tahun. Aku hari ini adalah lisanku yang dulu. Mengapa demikian? Sebab pada masa SMA, aku pernah mengucapkan kalimat, "Aku ingin menjadi orang terakhir tapi cinta pertama bagimu." Untaian itu dari mana berasal aku tidak tahu. Sama sekali tidak ingat.

Aku yang dulu bukanlah aku yang sekarang. Sebab semua ideologi tentang ibu tiri, laki-laki, dan istri kedua terpecahkan menjadi berkeping-keping. Bukan berarti aku telah banyak membaca literatur buku atau meneliti tentang permasalahan ini. Tapi aku mendapat tamparan yang hebat dari Tuhan agar menjadi lebih memaknai sebuah masalah dan kehidupan itu menjadi sebuah peluang harapan untuk lebih bijak.

Sekarang aku adalah istri kedua dari status perkawinanku yang kedua. Zaman sekarang lebih mengenal dengan sebutan pelakor. Bukan aku memuji atau menilai diriku sendiri terlalu berlebihan. Tapi aku berbeda. Biasanya istri kedua identik dengan kemewahan, kemenangan, pembelaan dari kaum laki-laki (suami), dsb. Aku justru kebalikannya.

 

Menjadi Istri Kedua

Aku hidup sederhana. Uang yang kucari itu yang aku belanjakan. Kalau diberi uang belanja aku ambil, kalau tidak aku tak pernah minta, memaksa atau mengada-ngada. Tidak pernah satu malam pun dia menemaniku tidur, meskipun aku dalam keadaan sakit, hamil sampai melahirkan aku tetap sendiri. Hanya ditemani anak gadis kecilku dari pernikahan sebelumnya.

Orang-orang sering bertanya, “Kalau begitu, kamu kok mau?” Setiap dijelaskan jawabannya hampir semua, “Kok bisa? Masak?" Aku lelah harus menjelaskan kepada setiap manusia yang bertanya kepadaku. Untuk itu aku memutuskan diam. Karena aku sadar, di posisi sepertiku, diam salah. Berbicara pun akan tetap salah. Oleh karena itu, aku ingin membagi kisahku dengan membuka sisi lain tentang ibu tiri, istri kedua, dan laki-laki.

Benar memang ungkapan peribahasa sang pujangga tentang, “Mulutmu harimaumu." Semua ini bukan pintaku, bukan inginku, bukan pula cita-cita ku. Tapi ini takdir yang datangnya dari Tuhanku. Yang dengan ikhlas akan kujalani dan kubagi kisahku agar mata kita lebih bijak untuk melihat, pikiran dan hati kita lebih terkontrol untuk berpikir sehingga mulut tidak akan sembarangan untuk bertindak.

#GrowFearless with FIMELA

;
Loading