Sukses

Lifestyle

Menuju Pernikahan, Perasaan Campur Aduk Lelah Senang Jadi Satu

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Nurul Utami - Aceh

Aku seorang istri dan ibu rumah tangga. Mempunyai seorang anak perempuan yang lucu usianya baru 9 bulan. Sebelum menjadi seorang ibu, aku gadis biasa yang bekerja di sebuah perusahaan swasta.

Di masa-masa bekerja aku merasakan hidupku sepi dan hampa. Hari-hariku hanya diisi dengan pekerjaan dan pada suatu hari kegalauan melandaku. Kapan datangnya jodohku, seperti apa dia nanti, apakah sesuai dengan kriteriaku. Dan akhirnya Tuhan pun menjawab semua pertanyaanku.

Saat aku pulang bekerja sekitar pukul 8 malam. Tiba-tiba aku dihadang oleh abang sepupuku. Dia langsung berkata, "Dek, ada calon suami ini, mau ketemuan nggak?" Aku pun kaget kok tiba-tiba cerita calon suami tapi entah kenapa bibir ini langsung jawab secara spontan, "Oke lah Bang, hari Minggu ya."

Tiba saatnya Minggu pun datang. "Calon suami" itu pun datang ke rumah dengan alasan silaturahmi, akhirnya terlibat lah percakapan dan terus berlanjut untuk hari berikutnya dan berikutnya. Hingga pada suatu hari "calon suami" itu datang membawa rombongan keluarganya untuk melamarku. Ya Tuhan itu sangat mendebarkan sekaligus menyenangkan. Dan terlibatlah perbincangan di antara sesama orang tua, untuk mendapatkan keputusan mengenai jeulame (mahar) dan tanggal pernikahan.

 

Lelah Senang Menjadi Satu

Hari-hari menjelang pernikahan pun terjadi. Di Aceh terutama di daerah saya tanggal pernikahan tidak boleh bentrok dengan tanggal pernikahan orang yang satu kampung. Akhirnya kami menjadwalkan ulang tanggal pernikahan yang baru. Hingga tiga kali mengubah tanggal dan akhirnya tanggal sakral itu pun di peroleh 26 Mei 2017. Itu baru tanggal pernikahan dan setelah saya menyerahkan segala macam berkas ke KUA. Saya harus siap-siap lagi untuk menghafal segala macam hafalan yang nanti akan ditanyakan oleh ustaz pembimbing pasca pernikahan. Wow... Berasa sekolah lagi. Hahaha.

Saya dan calon suami mulai menghafal segala macam hafalan. Dan di jadwal padat kami dalam bekerja kami pun harus mempersiapkan dekor untuk acara pernikahan dan resepsi berlangsung. Ternyata begini rasanya. Semua emosi ada di dalamnya, rasa lelah senang puas semua bercampur jadi satu.

Kami mengadakan resepsi pernikahan di rumah orang tua saya. Pilihan pelaminan yang sudah saya setujui ternyata tidak disetujui oleh mama dan warna pakaian adat yang saya sukai ternyata tidak disetujui oleh calon suami saya. Ya Tuhan... beginikah rasanya? Ini baru mau resepsi loh. Tapi sudah banyak pro dan kontra. So, bersiap-siaplah dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Dengan segala macam tingkah polah suami dan anak-anak nantinya.

Hari sakral itu pun tiba, di mana aku yang dulunya menjadi seorang anak bagi orang tuaku sekarang berganti status menjadi istri bagi suamiku. Rasanya bahagia sedih dan terharu. Aku sayang orang tuaku. Terima kasih karena sudah melahirkan dan membesarkanku hingga sekarang aku sudah menjadi seorang istri dan ibu seperti sekarang ini.

Setelah menikah aku masih bekerja dan dalam 3 bulan pernikahan alhamdulillah aku pun mengandung buah cinta kami. Setelah melahirkan aku resign dari pekerjaanku dan memantapkan diri untuk menjadi seorang istri dan ibu seutuhnya. Pilihan ada pada diri kita sendiri. Seorang istri ataupun ibu dapat menentukan pilihan nya menjadi wanita yang berkarier atau wanita yang mendedikasikan seluruh waktunya untuk keluarga. Apapun pilihannya kita tetap seorang istri dan ibu yang dicintai keluarganya.

#GrowFearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
Kalau Hanya Satu Orang yang Berjuang, Hubungan yang Disebut Cinta akan Mati
Artikel Selanjutnya
Semudah Itu Jatuh Cinta, tapi Semudah Itu Juga Patah Hati