Sukses

Lifestyle

Untuk Apa Buru-Buru Menikah Kalau Hanya untuk Mengejar Status?

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: E - Magelang

Tak Pernah Terburu-buru, Dia Selalu Tepat Waktu

Pernikahan, tak selalu tentang suka duka kehidupan berumah tangga, tak selalu tentang upaya untuk selalu mempertahankan biduk rumah tangga, dan tak selalu tentang saling memberi dan menerima. Namun, pernikahan juga menyangkut seberapa besar kesabaran saat menanti pasangan sejati yang masih menjadi rahasia-Nya.

Aku wanita karier berusia 32 tahun, belum menikah. Sebuah kondisi yang mungkin terlihat sarat dengan keprihatinan bagi sebagian besar orang mengingat wanita seusiaku sudah mempunyai 2 anak atau bahkan lebih. Saat rekan sebayaku sudah beberapa langkah lebih maju membina rumah tangga lengkap dengan segala suka dukanya, saat wanita yang usianya jauh lebih muda dariku sudah menimang buah hati tercinta, aku masih sibuk menyiapkan mental dan jawaban atas pertanyaan “kapan”, bak anak laki-laki muslim yang belum disunat dan selalu dijadikan bahan ledekan teman-teman di sekolahnya. “Kapan”, sebuah pertanyaan yang mungkin menjadi hal yang biasa bagi yang bertanya, tak peduli dengan perasaan pihak yang ditanya apakah ada kesedihan dan harapan yang disembunyikan di balik senyuman dan jawaban yang disampaikannya.

Bukan tanpa alasan. Saat usiaku menginjak 27 tahun, ada seorang pemuda yang datang ke rumah bersama keluarganya untuk mengajakku menjalin ikatan rumah tangga. Kala itu hatiku masih terpaut dengan laki-laki lain yang terlalu susah untuk bisa kulepaskan. Alhasil, niat baik mereka tak bergayung sambut, kutolak dengan halus, mengatasnamakan istilah “cinta tak bisa dipaksa”, meskipun pada akhirnya, laki-laki impianku yang kujadikan bahan penolakan itu kini sudah menjadi milik orang lain. Jalan takdir memang tidak bisa ditebak. Sekuat apapun kita berusaha, jika Allah tidak menakdirkan, maka tidak akan pernah terjadi. Ajakan untuk menjalin hubungan serius pun kembali datang setahun kemudian. Tapi lagi-lagi, hati ini tak mau tergerak. Perbedaan keyakinan menjadi alasan yang tak bisa terbantahkan.

Tetap Yakin

Tiga tahun berlalu. Aku tenggelam dalam dunia karier yang akhirnya membawaku menuju ke suatu masa di mana usiaku sudah tidak muda lagi. Aku sadar bahwa saat ini sangat susah untuk mencari laki-laki yang benar-benar klik di hati. Terbentur dengan masalah usia yang jauh lebih muda menjadi hal yang biasa. Apakah aku menyesal dengan kesempatan yang dulu telah kuabaikan? Tidak. Meskipun sampai saat ini aku belum menemukan pasangan hidup, tapi aku tidak pernah menyesal.

Untuk apa buru-buru nikah kalau hanya untuk mengejar status? Untuk apa terus berlayar kalau hati sang awak kapal tidak bisa mengabdi sepenuhnya kepada sang nahkoda? Sudah menjadi sebuah konsekuensi dari keputusan yang kuambil. Cita-citaku untuk membawa kedua orang tuaku ke tanah suci Mekah menjadi motivasiku melanjutkan hidup, sedikit mengabaikan pertanyaan “kapan nikah” dan sebutan “perawan tua” yang tak jarang dibumbui dengan sindiran atau bahkan judgement, seakan mereka lupa bahwa jalan hidup masing-masing orang berbeda-beda, tergantung dari skenario yang telah dibuat oleh-Nya.

Pernikahan bukanlah seperti lomba lari yang siapa cepat dia dapat, namun lebih dari itu. Aku sadar, bahwa tak hanya sekedar mencari dan mengejar jodoh yang baik, namun ada yang jauh lebih penting, yakni menggapai jodoh dengan niat baik, dengan cara-cara yang baik, dengan selalu belajar menjadikan diri sebagai orang yang berakhlak baik, dan tentunya selalu berdoa sambil menunggu keputusan-Nya.

Satu hal yang membuatku kuat adalah keyakinan. Aku yakin bahwa Allah sudah menyimpan pasangan hidupku dan akan memberikan kepadaku di saat benar-benar “kubutuhkan”, bukan disaat aku “kuinginkan”. Aku percaya bahwa waktu Allah tidak terlalu cepat dan juga tidak pernah terlambat. Tak pernah terburu-buru, Dia selalu tepat waktu. Aku juga percaya bahwa jodoh itu telah digariskan, telah ditentukan, telah ditakdirkan, meskipun saat ini masih menjadi misteri dan menunggu saat yang tepat untuk Dia berikan.

#GrowFearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
Pernikahan Itu Meniti Masa Depan Hingga Ajal Menjemput
Artikel Selanjutnya
Tak Kenal Lelah untuk Berjuang Bersama, Itu Esensi Penting dalam Pernikahan