Sukses

Lifestyle

Saling Menguatkan dalam Situasi Sulit, Mempertahankan Pernikahan

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: A - Tulungagung

Tak pernah kusangka dalam hidupku aku akan menikah dengannya. Kami dikenalkan lewat saudaraku, yang pernah bersekolah dengannya. Tidak terlalu tinggi, cenderung terlihat seperti bapak-bapak, lelaki biasa saja. Awalnya aku merasa enggan, karena dia terlihat jauh lebih tua dariku. Tapi ibu asuhku meyakinkanku, tidak sepatutnya melihat lelaki hanya dari penampilan fisiknya. Yang utama lihatlah dari agamanya. Dia memang seorang lulusan pondok pesantren, dan sekarang menjadi guru mengaji dan mengajar di sebuah sekolah. Memiliki pengetahuan agama yang luas. Akhirnya kami pun menikah dengan harapan semoga dia dapat membimbingku menjadi seorang istri yang baik.

Di awal pernikahan, kami merasakan betapa pahitnya kehidupan. Untuk menanggung biaya kebutuhan hidup, penghasilannya tak seberapa. Toko milikku di pasar pun tidak menghasilkan banyak, malah menambah beban karena harus membayar sewa tiap bulan. Rumah kami pun mengontrak. Ditambah dengan kehadiran buah hati kami yang pertama, kebutuhan kami semakin besar. Entah karena terdesak kebutuhan hidup dan kondisi saat itu, aku terlampau frustasi, aku sering menangis memikirkan nasib keluargaku, lalu ujungnya aku menyalahkan suamiku. Seandainya pekerjaannya lebih baik, seandainya ia mau berusaha lebih. Aku marah kepadanya, melihat kondisi keluarga kami yang seperti ini. Aku ingin pulang saja ke rumah orang tuaku.

 

Mempertahankan Pernikahan

Baju sudah kumasukkan ke dalam koper, anakku menangis sejak kami bertengkar tadi sudah kugendong. Lelaki itu sudah pasrah, terduduk di kamar. Aku berhenti di depan pintu rumah. Saat itu sudah hampir tengah malam. Aku menangis. Aku sadar jika aku pergi saat itu juga, tidak akan menjamin kehidupanku akan lebih baik nantinya. Bagaimana dengan anakku nantinya jika kami berpisah? Aku akhirnya terduduk di depan rumah. Menghadapi dunia berdua dengan suamiku pun begini sulitnya, bagaimana jika aku sendiri? Apakah aku mampu? Selama ini, walaupun sulit kami selalu mencoba menghadapi semuanya bersama.

“Maafkan aku.” Aku terkejut, dia sudah berdiri di ambang pintu. “Aku belum bisa memberikan kehidupan yang baik untuk kita. Penghasilanku ini tak seberapa, Dik. Jika kau ingin pergi, silakan. Aku tidak akan memaksa kau untuk tinggal. Tapi jika kau mau tetap tinggal, aku akan selalu menemanimu. Kita akan menghadapinya bersama. Karena aku yakin, kamu kuat. Kita dapat melewatinya bersama-sama.” Aku menangis tersedu-sedu. Aku benci mengakuinya, tapi dua orang lebih baik daripada satu. Dia benar. Kami telah melewati beberapa tahun bersama, membangun rumah tangga. Banyak kenangan pahit, tapi banyak juga kenangan manis. Kelahiran buah hati kami, menjadi kekuatan untuk kami. Kesulitan telah banyak kami lalui. Harusnya sekarang aku menjadi lebih kuat. Akhirnya aku tetap tinggal.

Dia bukan orang luar biasa. Lelaki yang sungguh biasa saja. Tak menarik, tak terlalu tampan, tapi dia bisa mengimbangiku. Membawaku ke jalan baik. Membimbingku menjadi orang yang lebih sabar dan ikhlas, serta kuat menghadapi kesulitan. Perlahan-lahan kehidupan kami menjadi lebih baik. Keluarga besar kami pun ikut membantu. Sampai kami akhirnya mempunyai dua anak, lelaki dan perempuan yang sudah tumbuh dewasa. Mempunyai tempat tinggal yang layak. Kebutuhan sehari-hari tercukupi. Aku sangat bersyukur kepada Yang Maha Kuasa atas kebahagiaan kami.

 

#GrowFearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
Pernikahan Itu Meniti Masa Depan Hingga Ajal Menjemput
Artikel Selanjutnya
Tak Kenal Lelah untuk Berjuang Bersama, Itu Esensi Penting dalam Pernikahan