Sukses

Lifestyle

Menikahlah saat Benar-Benar Siap agar Tak Ada Hati yang Dikorbankan

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: V - Bandung

Menikah merupakan keinginan setiap perempuan, apalagi dengan orang yang kita cintai. Aku berkeinginan menikah muda dan memiliki keluarga bahagia dengan orang yang aku cintai. Tahun 2018 merupakan tahun yang cukup membahagiakan buat aku karena ada seorang pria dari anak teman mama meminta aku untuk menjadi bagian dari mereka.

Awalnya mama ditelepon oleh teman lamanya dari kampung halamannya setelah 20 tahun lebih tidak bertemu, dari situlah mereka meminta untuk menjodohkanku dengan anak mereka sebut saja R. Awalnya aku menolak karena memang aku belum mengenal sepenuhnya, mama terus menceritakan kehebatan dari keluarga temannya sampai aku sedikit muak dengan semua ceritanya, singkatnya aku mencoba untuk berkenalan via chat karena jarak kami yang cukup jauh.

Selama perkenalan di awal aku cukup terkesan, namun bertepatan dengan Hari Valentine dia mengirim sesuatu untukku. Awalnya aku pikir dia memberi aku buku mengingat aku suka sekali membaca buku, namun saat aku melihat apa yang diberikan aku cukup kecewa. Dia memberi aku tas dan baju yang ukurannya bahkan dua kali dari badan aku.

Ibu R tersebut meminta aku untuk mengatakan hal yang baik-baik saja pada anaknya R, ibu R beralasan jika takut anaknya akan kecewa dan sakit hati jika aku mengatakan hal yang sebenarnya pada anak mereka. Dari sinilah awal petaka itu datang, sebulan kemudian R meminta ibunya untuk mengatakan pada mamaku jika dia menginginkan aku menjadi pacarnya, dengan alasan jika aku menolak dia tidak akan sakit hati dan kecewa dengan penolakan aku. Aku meminta mama untuk mengatakan padanya untuk mengatakan langsung pada aku, dan aku menerima dia.

 

Melepaskan Orang yang Salah

Selama berpacaran kami selalu berkomunikasi via aplikasi What's App, selama menjalin hubungan aku selalu berinisiatif untuk menyapa R setiap pagi. Bahkan saat hari jadian kami yang pertama pun dia tidak pernah mengucapkan apapun, orang tua R selalu beralasan jika anaknya tidak pernah berhubungan dengan perempuan manapun jadi aku harus memakluminya. Lelah… ya memang lelah bahkan hampir setiap malam aku selalu menangis karena sudah tidak mampu lagi untuk menahan beban sendirian.

Jujur banyak hal yang membuat aku makin kecewa salah satunya kemungkinan R juga sulit memiliki anak karena kondisi R yang saat lahir dalam kondisi prematur. Pernah aku ingin mengakhiri semua ini namun, melihat mama aku dan ibu R bahagia aku tidak ingin mengecewakan mereka.

Puncaknya saat R datang bersama ibunya ke kota tempat aku tinggal, saat itu terjadi kesalahpahaman handphone aku dalam keadaan silent dan di-charge serta ibuku juga tidak mengangkat telepon karena sedang di perjalanan. Kakak R mengatai-ngatai aku habis-habisan tanpa tahu duduk perkaranya. Aku saat itu memilih diam dan tidak melawan kakak R karena aku masih menghormati keluarga mereka. Malamnya R tidak datang kerumah dan aku juga tidak membalas chat dari R. Besoknya saat aku bertemu R menunjukan wajah benci pada aku seharusnya yang marah aku bukan dia.

Tidak lama setelah kejadian itu R mengtakan jika hubungan aku dan dia selesai. Suatu saat dia akan mencari aku dan memperbaiki hubungan, tapi aku tidak terlalu menanggapi ucapannya. Aku juga mendengar R sudah memiliki hubungan baru dengan perempuan lain, tidak lama mereka menikah dan sengaja menjelek-jelekan aku dan balas dendam sama aku.

Aku bisa saja menghancurkan pernikahan mereka dengan membuka kedok mereka. Jujur aku sangat puas tidak bersama dengan orang yang seperti itu. Aku meyakinkan diri aku kalau dia takut tidak ada yang mau dan perempuan tersebut juga hanya ingin harta dari R. Aku tahu perbuatan baik akan dibalas dengan perbuatan baik, perbuatan buruk akan dibalas perbuatan buruk juga sehingga aku tidak melakukan balas dendam. Aku yakin suatu saat aku akan menemukan jodohku yang mampu menerima kekurangan dan kelebihan aku.

 

#GrowFearless with FIMELA

Loading