Sukses

Lifestyle

Mencintai yang Terlarang Bisa Menutup Akal Sehat

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Indah Praditha - Denpasar

Bagiku, pernikahan adalah klimaks pembelajaran dalam hidupku. Aku adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluargaku. Menjadi satu-satunya bukan perihal yang paling istimewa, namun yang paling riskan dalam segala hal bagi ibuku.

Terbesit keinginan mencapai karier yang baik dan menjalani hidup dengan pasangan yang kudambakan selama masa lajangku. Hingga pada suatu peristiwa aku bertemu seorang laki-laki dari keluarga yang berada namun dirinya sangatlah sederhana dan mandiri. Tak cukup itu, keberanian, rasa tanggung jawab dan rasa memilikinya terhadap sesuatulah yang membuatku benar-benar hilang akal. Niat baikku untuk memperkenalkannya kepada ibuku yang saat itu hidup tanpa didampingi suami, justru menjadi penghalang dalam hadirnya restu bagi kami berdua.

Dengan mantap hati berniat memberi kesempatan, kujalani segala sesuatu dengan ketulusan dengannya hingga waktupun mengizinkan sosok dirinya untuk diterima dalam keluarga besarku, hidupku, dan tentunya pada ibuku tercinta.

Awal menikah membuatku belajar banyak cara memahami dua benak yang berbeda untuk dipersatukan. Aku yang begitu dimanja di rumah lajangku kini paham betul arti dari hidup mandiri. Tak ada yang kubekali berupa harta saat menikah hanya pesan-pesan serta ajaran mandiri yang ibuku pernah sampaikan yang membuatku bertahan dalam pernikahan ini.

Banyak perselisihan pemahaman antara aku dan suamiku di mana aku dilanda dilema pahitnya mengurus keluarga kecilku yang belum mampu membuatku dewasa di kala itu. Suamiku memanglah keras dan tegas namun cinta serta rasa sayangnya yang membuatku masih ingjn bertahan walau fisik tak selalu berdamai ketika amarah memuncak.

Tak terasa, 17 tahun sudah waktu yang kulewati bersamanya. Lahirlah putra ketigaku sebagai pengikat dan penguat tali kehidupan yang menghubungkan kami berdua. Ketika 4 tahun berjalan umurnya, sirna semua rasa yang mengikatku kepadanya. Kesibukannya dalam meraih rezeki bagiku dan anak-anak membuatku tak habis pikir mengapa begitu sulit bagiku untuk paham akan apa yang terjadi? Aku paham betul jika ia memiliki waktu, kami lah prioritasnya. Menuju taman wisata atau sekadar makan di pinggir jalan juga pergi ke pasar malam untuk mengobrol menggantikan waktu yang sudah sirna di kala kesibukannya dulu.

Tibalah suatu hari ketika aku mulai mengenal media sosial dengan seluruh hal yang ingin kuketahui. Awalnya hanya "sekadar" namun aku sadar bahwa kali ini jalanku mulai melenceng dari batasan. Merasa aman dan bukanlah masalah besar, tetap aku jalani dan kini justru membuatku merasa biasa saja saat berkenalan dengan teman-teman baru di sana sampai aku berkenalan dengan pria yang membuatku merasa mempunyai teman curhat, ada yang begitu memperhatikanku jauh dibanding suamiku kala itu.

 

Semua Sudah Terlambat

Sadar bahwa semua sudah terlambat hingga aku merasa "jatuh cinta" dengan lubang neraka dan suamiku kala itu mengetahuinya jauh sebelum aku dipergoki menelepon dan bertemu dengan pria itu. Namun suamiku memilih tetap diam hingga benar-benar tak mampu bagiku untuk mengelak. Amarahnya yang begitu memuncak hingga tak sadar cinta membutakannya dan membuatnya menamparku.

Seketika aku sadar betapa jahatnya diriku. Dengan penuh penyesalan suamiku meminta maaf dan menerimaku apa adanya dan melupakan apa yang sudah kuperbuat. Rasa malu dan hina tersimpan dalam benakku.

Inginku memulai hidup yang baru bersama suamiku, namun asap tak mampu kusembunyikan. Segala bukti dan komunikasi yang masih kujalani dengan pria itu membuatku berani melangkahi sumpah pernikahanku. Hingga aku memberanikan diri pergi dari rumah suamiku dan merasa takut untuk kembali. Kuberanikan diriku untuk melayangkan surat perceraian kepadanya dan justru memilih pergi.

Tak sanggup kubayangkan atas semua sesal di dada saat itu. Jahatnya diriku dan membuatku depresi. Waktu tak terasa berlalu 6 tahun lamanya. Pendamping hidupnya kini mengasuh putra putriku, mereka sudah besar dan bijak dalam langkahnya. Mengingatkanku akan semua hal yang perlahan-lahan memperbaiki diriku.

Dukungan keluarga, anak-anakku, sahabat dan semua orang membuatku sadar bahwa Pprnikahankulah klimaks pembelajaran dalam hidup juga diriku. Apa yang boleh dan dilarang, apa yang membuatmu berani mengambil keputusan, maka hal itulah yang paling bertanggung jawab akan kelangsungan hidupmu kedepannya. Maaf selalu kulayangkan dalam benakku dan doaku atas semua hal yang sudah kuperbuat walau tak mampu kusampaikan pada mereka yang sudah sangat terluka akan diriku.

Hukum waktu adalah berputar namun takdirnya tak mampu kembali. Berani berbuat dan menjalani segala risiko dengan tulus membuatku memahami arti dari bertanggung jawab dalam sebuah komitmen di kehidupanku ini. Semua orang berhak bahagia dan wajib bertanggung jawab atas karmanya.

#GrowFearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
Kalau Hanya Satu Orang yang Berjuang, Hubungan yang Disebut Cinta akan Mati
Artikel Selanjutnya
Semudah Itu Jatuh Cinta, tapi Semudah Itu Juga Patah Hati