Sukses

Lifestyle

Kesetaraan Gender di Dapur Keluarga, Apa Itu?

ringkasan

  • Pentingnya kesetaraan gender laki-laki dan perempua
  • Ketimpangan gender berupa stereotipe, beban ganda dan subordinasi

Fimela.com, Jakarta Berdasarkan riset Hill Asean Studies 2018, 60 persen istri bekerja di Indonesia namun kurang dari 3 di antara 10 suami yang bersedia memasak. Padahal, seorang istri juga ikut bertanggung jawab dalam finansial keluarga. Hal ini sama sekali tidak menggambarkan kesetaraan gender dalam rumah tangga.

Bukannya membantu istri, seperti dimulai dari memasak, suami justru menyalahkan seorang istri karena tidak tersedianya makanan ketika suami pulang bekerja. Inilah yang membuat ketimpangan gender masih terdapat di dalam rumah tangga.

Di Indonesia sendiri kesetaraan gender, dari data BPS terkait Indeks Kesenjangan Gender (IKG) periode 2015-2017 diketahui terdapat kesenjangan peran gender yang signifikan dengan angka yang bervariasi di tiap wilayah provinsi.

Menurut Rosalina Verauli, Psikolog keluarga dan remaja, pentingnya kesetaraan gender laki-laki dan perempuan karena memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam berbagai aspek kehidupan.

"Kebahagian perempuan tentu terkait dengan kesetaraan gender di keluarga, Seperti suami bisa berbagi tugas minimal dalam memasak. Tidak berpikir jika perempuanlah yang harus selalu memasak atau menyiapkan makanan," ujarnya dalam acara Kecap ABC, di Jakarta.

Kesetaraan Gender berubah sesuai dengan sosial budaya, jadi tidak melulu sesuatu pekerjaan namun juga mulai terjadi dalam rumah tangga.

"Dulu biologisnya pria memang lebih kuat karena harus bertani atau mengerjakan hal berat lainya. Namun berkembangnya zaman membuat segala hal menjadi simpel. Jadi gender pun berubah sesuai dengan sosial dan budaya. Tidak ada lagi perempuan lebih rendah jadi harus masak, sedangkan laki-laki kodratnya lebih tinggi karena bekerja," tambahnya.

Bagaimana cara agar kesetaraan gender terjadi

Menurut Rosalina, ketimpangan gender terjadi karena paham tradisional, adanya streotipe. seperti member batasan pada individu yang tidak relevan, dengan kemampuan individual maupun keadaan sosial-budaya saat ini.

Identifikasi yang kuat terhadap peran gender tradisional berkaitan dengan sejumlah dampak negatif.

Ketimpangan gender berupa stereotipe, beban ganda dan subordinasi. Dalam Marriages and Families, Intimacy, Diversity, dan Strengths, 2008, dibahas tentang beban ganda, meski ayah dan ibu bekerja, ibu lebih banyak mengerjakan tugas rumah, 2 kali lebih banyak meluangkan waktu mengasuh anak dibandingkan ayah.

Untuk menghindari ketimpangan gender di dalam rumah tangga, Kecap ABC meluncurkan Koki Muda Sejati, sebagai langkah dalam mendukung kesetaraan gender, terutama di dapur.

Koki Muda Sejati merupakan program yang melibatkan anak remaja laki-laki di lebih dari SO sekolah menengah untuk belajar memasak sehingga memiliki bekal dan pemikiran untuk mindset menjadi pasangan yang setara di dapur.

”lsu kesetaraan, terutama di dalam pembagian tugas memasak merupakan isu yang paling melekat pada brand kami. Program ini akan mengajak remaja laki-laki untuk belajar memasak dan pentingnya kesetaraan gender, agar kelak mereka dapat menjadi pasangan yang setara. Karena kami percaya para suami sejati masak. Hari ini dan di masa depan,” ucap Dhiren Amin Direktur Marketing & R&D, SEA, Kraft Heinz.

Simak video berikut

#Growfearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
Ketakutan Jadi Tembok Besar Perempuan untuk Berkarya