Sukses

Lifestyle

Perpisahan yang Buruk akan Tergantikan dengan Pertemuan yang Lebih Indah

Fimela.com, Jakarta Setiap orang punya kisah cinta yang unik. Ada yang penuh warna-warni bahagia tapi ada juga yang diselimuti duka. Bahkan ada yang memberi pelajaran berharga dalam hidup dan menciptakan perubahan besar. Setiap kisah cinta selalu menjadi bagan yang tak terlupakan dari kehidupan seseorang. Seperti kisah Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Love Life Matters ini.

***

Oleh: NUJ - Bogor

Aku ketika Kamu Pergi

Saat perpisahan terjadi, rasa kehilangan adalah hal yang tidak bisa dipungkiri, pasti datang, entah untuk waktu yang lama atau tidak, entah rasa kehilangan itu akan membawa rasa sakit atau tidak, yang jelas, ia pasti hadir seketika setelah adanya perpisahan.

Hilangnya bagian –sesuatu, seseorang- yang tidak bisa kita rasakan lagi kehadirannya, membuat kebanyakan orang menyimpulkan bahwa itu adalah yang menyakitkan. Setelah itu datanglah rasa rindu yang begitu mendalam sehingga rasanya tak mau lepas memikirkan bagaimana cara membuat ‘bagian’ itu kembali. Lantas bagaimana jika yang pergi adalah seseorang yang memang seharusnya pergi? Seseorang yang kita yakini akan menjadi bagian sejati dalam hidup kita? Tapi ternyata pergi begitu saja, apa yang kita lakukan? Membuatnya kembali? Ada banyak sekali alasan mengapa seseorang memutuskan untuk pergi, atau, yang ditinggalkan memang tidak punya alasan apapun untuk membuatnya tetap tinggal.

Aku pernah mengalaminya, perpisahan yang tak kumengerti mengapa bisa terjadi. Tidak ada satu masalah pun yang begitu mengganggu, tidak ada cinta yang memudar, tidak ada pertengkaran hebat atau perbedaan prinsip yang mendasar. Hanya berpisah, setelah empat tahun bersama lalu ia hanya merasa bahwa ini tidak bisa dilanjutkan.

Aku sangat kehilangan, begitu hancur, berusaha membuatnya kembali, tapi nihil. Aku tak bisa mengubah keputusannya, atau aku tak punya alasan apapun untuk membuatnya tetap bersamaku, tidak pergi, ya, aku ditinggalkan. Aku tak pernah berhenti mencoba membuatnya kembali sampai akhirnya aku sadar bahwa mungkin ia memang sudah seharusnya pergi. Mungkin cerita ini memang harus seperti ini jalannya.

Membiarkannya Pergi

Aku mengubah usahaku yang membuatnya kembali, menjadi berusaha mengerti bahwa inilah yang harus terjadi, mengikhlaskannya, seperih apapun itu, aku tahu bahwa akan lebih perih jika aku menghentikan kehidupanku dan terus terpaku padanya hingga menutup pintu-pintu kebahagiaanku yang lain.

Dari proses mengikhlaskan itu aku belajar jauh lebih banyak dari pada saat aku ‘memiliki’. Aku lebih baik, sangat jauh lebih baik. Bukan, jangan pernah berpikir bahwa aku lebih baik tanpanya, atau aku bahagia akan kepergiannya sehingga aku lebih baik, tentu tidak seperti itu.

Aku lebih baik, karena belajar untuk ikhlas yang meskipun sangat sulit, ternyata juga mendatangkan banyak sekali pelajaran-pelajaran lain. Pelajaran yang mungkin tak akan aku dapatkan jika aku tetap ‘memiliki’. Hidup ini penuh dengan kejadian yang tidak diduga, menyenangkan atau menyakitkan, bahwa jika itu telah ditetapkan untuk terjadi, maka terjadilah, tanpa ba-bi-bu.

Aku belajar memahami bahwa aku tidak harus mengubah takdirku, mengubah apa yang seharusnya terjadi. Aku hanya perlu menghadapinya, memberikan kepercayaan penuh pada Penguasa Bumi beserta seluruh isinya, mengembalikan segala kegelisahan pada sumber Penenang dalam hidup ini. Bahwa tidak ada satu pun yang perlu aku khawatirkan, karena mungkin siapa pun yang pergi, ia bukan hanya memiliki alasan yang sempurna hingga membuatnya benar-benar pergi, tapi juga atas kehendak-Nya.

Ya, aku hanya perlu membiarkannya pergi, membiarkan satu tangkai bungaku pergi meski sakit sekali rasanya saat tangkai itu patah dari batangnya. Tapi tak mengapa bukan? Akan ada bunga-bunga lainnya yang akan tumbuh, menyembuhkan luka yang awalnya kupikir akan abadi sakitnya, melunturkan cerita-cerita lama dengan tokoh-tokoh yang sempurna baru. Meskipun kenangan itu akan tetap ada, itu tak akan mengusikku dan menarikku kembali ke belakang.

Mendapat Seseorang yang Lebih Baik

Pelajaran ‘kehilangan’ pertamaku membuatku paham bagaimana seharusnya ‘mempertahankan’, bagaimana seharusnya ‘mencintai’, bagaimana seharusnya kita membiarkan takdir mengambil bagian paling penting dalam perjalanan sebelum terucapnya ‘janji suci’. Bagaimana Allah-lah yang mengatur segalanya, membuat sesuatu terjadi dengan mudahnya, membolak-balikkan hati siapapun, menjadikan satu yang sebelumnya terpisah begitu pun sebaliknya, menumbuhkan cinta diantara yang membenci. Bahwa jika kita ikhlas, semuanya akan terasa seringan kapas, bergerak ringan di udara ataupun di dalam air. Karena memang sebenarnya tidak ada yang benar-benar kita miliki, bahkan diri kita sendiri. Tapi dengan keagungan-Nya, Ia memberikan rahmat dalam bentuk perasaan yang begitu indah kepada manusia, cinta.

Inilah pelajaran berharga yang terjadi justru setelah ia pergi, sekali lagi kubilang, aku tidak bahagia ia pergi, hanya saja pelajaran ini sangat penting bagiku, kepergiannya membuatku mengerti satu hal penting yang harus aku punya untuk menempuh kehidupanku selanjutnya yang Insya Allah masih panjang dan akan banyak sekali cerita-cerita baru, dan aku akan siap untuk itu. Dan kini aku mengerti bahwa tidak selalu perpisahan itu akan meninggalkan luka yang tak bisa disembuhkan.

Butuh waktu yang cukup lama memang hingga hatiku siap untuk sebuah cerita baru, ditandai dengan dikirimkannya seorang pria yang segala kelebihan dan kekurangannya menjadi satu kesatuan yang sempurna di mataku. Pria itu datang begitu saja, dengan mudahnya masuk tanpa perlu memaksa, mengalir ringan seperti aliran sungai yang tidak berbuih, membawa sebuah perasaan sayang yang tak pernah ku kira begitu indahnya. Pria itu, dia suamiku, yang mencintaiku saat bangun dan lelapku, yang aku cintai hingga menua bersama, dan bertemu lagi di surga, Insyaa Allah.

#GrowFearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
Cinta Pertama Tak Selalu Memberi Akhir yang Bahagia
Artikel Selanjutnya
Jika Sudah Menikah, Alangkah Bijaknya untuk Tak Rindu Mantan