Sukses

Lifestyle

Peran Ibu Kandung Tak Tergantikan, tapi Cinta Keluarga Bisa Tetap Dijaga

Fimela.com, Jakarta Setiap orang punya kisah cinta yang unik. Ada yang penuh warna-warni bahagia tapi ada juga yang diselimuti duka. Bahkan ada yang memberi pelajaran berharga dalam hidup dan menciptakan perubahan besar. Setiap kisah cinta selalu menjadi bagan yang tak terlupakan dari kehidupan seseorang. Seperti kisah Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Love Life Matters ini.

***

Oleh: Nur Azimah - Cilacap

Cinta dan kasih sayang orangtua memang tak terhingga, begitulah kedua orangtua yang telah membesarkanku dari lahir sampai sekarang. Namun, aku orang yang kurang beruntung soal kasih sayang seorang ibu karena ibuku merawatku hanya sampai usiaku 17 tahun karena ibuku telah meninggalkan kami selamanya. Sebelumnya ibuku selalu tidak bekerja di rumah melainkan di luar negeri dan waktu itu aku dikaruniai dua orang adik laki-laki (15 tahun) dan perempuan (3 tahun) bahagia memang mempunyai keluarga lengkap. Tapi sejak kepergian ibu, kami hanya bersama sosok ayah apalagi adik perempuanku yang sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu karena sejak usianya 6 bulan adikku ditinggalkan oleh ibuku bekerja di luar neegri dan adik perempuanku besar hanya bersama ayah saja.

Setelah ditinggal oleh ibuku, adik perempuanku putus sekolah dan pada saat itu dia masih duduk di sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memang dia lebih tidak beruntung daripada aku. Menginjak usia 7 tahun adik perempuanku disekolahkan di sebuah SD oleh ayahku. Pada waktu itu kesabaran ayahku benar-benar diuji oleh anak-anaknya. Adik perempuanku memang sedikit bandel tapi penakut karena trauma waktu kehilangan sosok ibunya. Dari kelas 1 SD sampai kelas 4 SD dia selalu sekolah bersama ayah dari jam masuk sekolah hingga pulang sekolah. Sungguh luar biasa perjuangan beliau alih-alih ingin anaknya mendapatkan hak pendidikannya sampai beliau rela mengesampingkan pekerjaannya demi sang buah hati, aku memang terlahir di keluarga yang sederhana.

Selama lima tahun, ayahku menjalani peran ganda sebagai ayah sekaligus "ibu". Lalu, ayahku dipertemukan dengan seorang perempuan yang akan dinikahinya untuk dijadikan ibu kami. Waktu itu hatiku benar-benar hancur berkeping-keping, dalam hati berkata, “Ada sosok perempuan yang akan menggantikan peran ibu, yang dulu telah melahirkan dan membesarkanku bersama ayahku.” Bahagia, sedih, marah semua terangkum jadi satu.

Menjaga Cinta Keluarga

Sedih karena ada yang menggantikan peran ibu yang telah melahirkan dan membesarkan aku dan adik-adikku. Marah karena aku benar-benar tidak rela cinta dan kasih sayang ayahku kepada kami terbagi dengan orang lain, orang baru yang nantinya akan menjadi ibuku. Bahagia karena beban ayahku berkurang yang tadinya tergabung sosok ayah juga sosok ibu sekarang sudah menjadi sosok ayah yang benar-benar menjalani perannya menjadi ayah. Pada waktu itu aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa ayahku menikah lagi. Aku serta adik-adikku mempunyai sosok ibu baru yang pada kenyataannya beliau orang yang asing di keluarga kami yang akan menjadi satu keluarga, yang aku pikirkan hanya satu apakah ibu tiriku benar-benar berperan sebagai ibu yang seperti sosok ibu kandungku atau tidak.

Satu tahun berlalu, tepat di umurku yang ke-23 tahun, setelah pernikahan ayahku aku menikah dengan seorang pria yang sudah menjadi jodohku, karena aku menikah tanpa pacaran. Setelah menikah aku ikut suami dan aku menjadi seorang istri serta aku mendapatkan keluarga baru yang juga asing. Aku merasakan apa yang waktu itu ibu tiriku rasakan entah adakah cinta kasih di sini adakah sosok ibu seperti ibuku pada waktu dulu adakah sosok ayah seperti ayahku yang pada dasarnya mereka punya cinta yang luar biasa. Dan satu hal apakah suamiku bisa mencintaiku setulus serta bisa menerimaku apa adanya seperti cinta ayahku terhadapku tidak memandang apa pun, pertanyaan itu selalu terngiang di pikiranku.

Setelah menikah alhamdulillah Allah telah memberikan aku dan suamiku kepercayaan aku hamil, selama 7 bulan lamanya aku berada di rumah mertuaku. Cinta dan kasih sayang tercurahkan kepadaku dan cinta suamiku terhadapku juga luar biasa yang tadinya sama sekali tidak ada cinta di antara kami. Karena aku ingin melahirkan di tempat kelahiranku, maka aku memutuskan untuk pulang ke rumah dan tepat di 17 Agustus 2019 aku melahirkan putri pertama kami bahagia menyelimuti keluarga kecil kami.

Aku dan suamiku telah berganti status menjadi ayah dan ibu cinta kami berdua semakin tumbuh besar dengan kehadiran buah hati kami. ternyata ayahku masih sama seperti dulu masih penuh cinta dan kasih terhadap anak-anaknya dan bahagia mempunyai seorang cucu perempuan dan ibu tiriku juga bahagia menyambut kehadiran buah hatiku sekaligus cucunya. Ternyata ibu tiri itu tidak seburuk yang aku pikirkan karena orang itu akan baik terhadap kita karena tahu bagaimana kita juga berlaku baik padanya.

#GrowFearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
Dua Hati yang Terlalu Berbeda Sulit untuk Disatukan Bersama
Artikel Selanjutnya
Cinta yang Dipaksakan akan Sulit Bertahan Lama