Sukses

Lifestyle

Jatuh Cinta Sewajarnya Saja agar Tak Berujung Saling Menyakiti

Fimela.com, Jakarta Setiap orang punya kisah cinta yang unik. Ada yang penuh warna-warni bahagia tapi ada juga yang diselimuti duka. Bahkan ada yang memberi pelajaran berharga dalam hidup dan menciptakan perubahan besar. Setiap kisah cinta selalu menjadi bagan yang tak terlupakan dari kehidupan seseorang. Seperti kisah Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Love Life Matters ini.

***

Oleh: Fita Tristiani - Semarang

Menurutku banyak hal yang bisa aku pelajari ketika aku jatuh cinta. Mengenai bagaimana seharusnya aku mencintai dan bagaimana pula aku menerima cinta dari orang lain. Aku selalu berpikir jika cinta itu adalah suatu yang indah hingga aku sadar bahwa aku hidup dalam kemunafikan, karena ternyata tidak selamanya cinta itu indah, dia bisa begitu menyakitkan dan melukai, terlebih jika mencintai orang yang salah secara berlebihan. Aku selalu membayangkan datangnya cinta layaknya cerita dari sebuah negeri dongeng. Seorang pangeran datang padaku untuk memberi kebahagiaan. Nyatanya aku salah, cinta tidak selalu seindah cerita dongeng.

Cintaku datang ketika aku masih berusia awal 20 tahun. Aku tidak tahu apa yang aku lihat dari seorang pria yang tiba-tiba datang di kehidupanku. Dia sangat manis dan begitu perhatian pikirku saat itu. Aku memilihnya di antara sekian banyak pria yang datang padaku. Tidak ada yang istimewa dari dia, tapi aku mencintainya dan dia juga mencintaiku. Tidak ada pula yang salah dari hubungan kami, karena dia adalah cinta pertamaku. Dan aku tengah sangat jatuh cinta saat itu, bisa dikatakan aku dibutakan oleh cinta yang aku rasa untuknya.

Perasaanku akhirnya tidak sejalan dengan restu orangtua. Ayah melarangku untuk berpacaran dan menyuruhku untuk fokus kuliah. Aku dan ayah saling bertentangan, aku dengan cinta yang agung-agungkan dan ayah dengan keteguhannya. Demi cinta, aku sempat memutuskan untuk tidak bicara dengan ayah beberapa saat, berharap ayah akan luluh dan mengizinkanku untuk berpacaran. Ayah tidak menyetujui namun juga tidak melarang pada akhirnya. Menyerahkan semuanya padaku. Tapi dia seolah tahu apa yang terbaik untukku.

Dia Menghilang

Perjuanganku sia-sia, kepercayaanku akan cinta runtuh dan hancur begitu saja, ketika pria yang aku cintai tiba-tiba hilang tanpa kabar. Aku mencarinya ke sana kemari seperti orang bodoh. Menanyakan keberadaannya pada teman-temannya. Selama dia menghilang tanpa kabar, aku bersedih, menangis sendirian di pojok kamar karena merasa kehilangan.

Beberapa bulan berlalu dan dia kembali padaku. Aku sangat bahagia ketika dia kembali, memohon agar dia tidak meninggalkanku lagi. Tapi pada akhirnya dia melakukan hal yang sama untuk kedua kali bahkan ketiga kalinya. Ya, aku sudah dibutakan dengan cinta, hingga aku tidak tahu betapa sakitnya mencintai seseorang, hingga aku mati rasa.

Suatu ketika aku tahu alasan pria yang aku cintai meninggalkanku tanpa sebab. Dia sibuk bersama wanita lain. Lucunya, aku tahu perselingkuhannya dari sang wanita itu sendiri. Dengan dia yang terus menyakitiku, aku akhirnya memutuskan untuk berhenti mencintainya. Cintaku mulai luruh ketika dia terus meninggalkanku dan menyakitiku berkali-kali. Berkat dia pula aku tidak lagi percaya dengan cinta.

Sakitnya Mencintai

Sementara itu, aku merasa begitu bersalah pada kedua orangtuaku, utamanya pada ayah, harusnya aku lebih memilih orang yang benar-benar tulus mencintaiku dan memikirkan masa depanku dibanding pria yang mencintaiku ala kadarnya. Sekarang aku tahu bagaimana aku harus mencintai dan menerima cinta dari seseorang. Aku sadar jika cinta bisa berubah menjadi menyakitkan jika aku mencintai orang yang salah. Masalahnya, aku tidak pernah tahu dengan siapa aku akan jatuh cinta. Membuat aku merasa jika jatuh cinta adalah suatu hal yang menakutkan.

Aku pun banyak belajar mengenai cinta, bahwa cinta mengajarkanku pada kebodohan jika aku melihat cinta hanya sebatas kebahagiaan. Nyatanya cinta adalah suatu hal rumit yang tidak bisa aku pahami. Dan bagian paling sulit dari jatuh cinta pada orang yang salah adalah mengajak hati untuk berkompromi agar tidak lagi mencintainya lagi. Tapi sayangnya luka itu sudah membekas. Serta aku akan terus mengingat untuk mencintai sewajarnya saja, sebab aku yakin cinta bukan untuk saling menyakiti.

#GrowFearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
Lelahnya Penantian akan Berakhir Indah di Pelaminan
Artikel Selanjutnya
Ketulusan Cinta Pria Bisa Dilihat dari Caranya Berjuang Wujudkan Pernikahan