Sukses

Lifestyle

Hubungan Jarak Jauh Sulit Dipertahankan jika Kau Menghilang Begitu Saja

Fimela.com, Jakarta Setiap orang punya kisah cinta yang unik. Ada yang penuh warna-warni bahagia tapi ada juga yang diselimuti duka. Bahkan ada yang memberi pelajaran berharga dalam hidup dan menciptakan perubahan besar. Setiap kisah cinta selalu menjadi bagian yang tak terlupakan dari kehidupan seseorang. Seperti kisah Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Love Life Matters ini.

***

Oleh: Heny - Palembang

Kamu, lelaki sederhana yang telah berhasil mencuri hatiku, berasal dari ibu kota, berambut ikal gondrong, berkacamata, selalu memakai topi dan menggunakan jaket. Badanmu yang tinggi membuatku kecil sekali saat berada di sampingmu. Pembawaanmu yang cool, tidak banyak bicara, cenderung cuek, namun smart membuatku mengagumimu. Perkenalan kita berawal karena tergabung dalam satu program pemerintah, kamu berada di kantor manajemen di ibu kota dan aku di kantor provinsi. Komunikasi yang tadinya membahas pekerjaan membuat kita semkain intens, meluas menjadi obrolan mengenai pribadi kita masing masing.

Setahun lamanya kita mengobrol via telepon bagaikan sebuah hubungan tanpa status, maka untuk menegaskan hubungan ini aku memberanikan diri untuk pertama kalinya melakukan penerbangan ke ibu kota. Demi rasa penasaran terhadap sosok yang telah membuatku nyaman belakangan ini, walau kutahu seharusnya lelaki lah yang berinisiatif menemui perempuan terlebih dahulu namun aku memaklumi keadaan keuanganmu saat itu yang belum bisa ke kotaku. Masih ingatkah kamu saat pertama kali kita bertatap muka, kuakui aku nervous, dirimu telah menunggu di kedatangan bandara ibu kota. Aku mencoba menyelami pertemuan pertama ini dan hati kecilku menyatakan bahwa hubungan ini akan berlanjut.

Aku tahu hubungan LDR ini tidak akan mudah, tapi aku meyankinkan hatiku bahwa banyak pasangan di luar sana bisa berhasil sampai ke pelaminan. Tanpa terasa empat tahun kita bersama, layaknya suatu hubungan tidak selalu berjalan mulus, ada rasa curiga, air mata, kepercayaan dan kesetiaan begitu dipertaruhkan, karena aku tak bisa melihatmu secara langsung 24 jam. Jujur, terkadang timbul rasa iri melihat rekan kerja pulang kantor dijemput pasangannya masing-masing, sedangkan kamu berada nun jauh di sana. Tidak sedikit rekan kerjaku menyarankan agar aku mencari pacar yang satu kota saja karena hubungan LDR itu rentan dengan perselingkuhan. Belum tentu kamu setia terhadapku di sini, itu kata mereka. Namun, ada juga sahabatku yang mendukungku untuk mengejar cinta sejatiku.

Kamu adalah laki-laki andalanku, tempatku bertukar pikiran, bahkan pengambil keputusan akan hal-hal penting misal ketika aku memutuskan akan pindah kerja. Terkadang aku merasa dirimu begitu peduli padaku, kamu marah bila aku dimanfaatkan dunia kerjaku, terlalu sering lembur dan mengorbankan waktu istirahatku. Hubungan kita mengandalkan komunikasi via telepon, chat WA, dan telegram. Masih ingatkah kamu, dengan panggilan “PAO” dan “NDUT” yang kamu jadikan panggilan kesayanganmu untukmu, kontakmu pun aku buat sebagai “My Lovely” di handphone-ku. Aku telah berkenalan dengan keluargamu, begitu juga kamu pertama kalinya datang ke kotaku langsung ku perkenalkan sebagai calonku di hadapan keluarga. Ya, kita berencana menikah.

Menghilang Tanpa Kabar

Namun mimpi dan rencana yang sempat diwacanakan berdua runtuh seketika. Saat itu di bulan Juni, kadar cuekmu di ambang batas toleransiku, chatku lama dibalas. Kalau pun dibalas hanya dengan kata-kata singkat. Karena kesal aku akhirnya mendiamkanmu, satu minggu berganti menjadi dua minggu, berganti lagi menjadi sebulan, dan ketika memasuki dua bulan aku memberanikan diri menanyakan kabarmu. Upayaku saat itu menelepon iparmu, dijawab bahwa kamu baik baik saja berada di kotamu. Bukan tanpa usaha, SMS, chat maupun telepon, tidak ada yang digubris olehmu. Ada gerangan apa yang membuatmu mendiamkan aku? Tanpa satu kata pun kamu menghilang.

Sejuta pertanyaanku di kepalaku atas sikapmu ini, ingin rasanya aku meneriakimu, ingin mengomelimu, karena aku telah melakukan banyak hal untuk menjadi perempuan yang menyenangkan bagimu, waktu , uang dan tenaga semua hancur menjadi air mata. Waktuku selama 4 tahun bersamamu, begitu fokus hanya untuk kamu, tidak kuhiraukan laki laki lain yang ingin mendekatiku, bagaimana dengan biaya yang kukeluarkan untuk bolak-balik menemuimu, bahkan lima kali penerbangan ke ibu kota berbanding terbalik dengan dirimu yang baru sekali ke kotaku. Biaya-biaya tersebut sudah kuikhlaskan karena aku pergi atas kemauanku sendiri. Tapi hatiku belum ikhlas dengan semua ini. Sungguh baper sekali bila aku mengingatmu, mata ini langsung memerah dan menangis, kecewa sekali aku dengan caramu mendiamkan dan menghilang seperti ini.

Di kala rindu itu datang, aku memandangi fotomu begitu dalam, mengenang kembali suaramu, andai kau tahu separah ini aku mencintaimu dan sampai detik ini pun aku belum bisa move on. Walau telah banyak yang datang untuk mendekatiku tetapi tidak ada yang kutanggapi, aku pun tak mengerti seolah trauma disakiti lagi.

Tahukah kamu, doa adalah penghubung antara hamba dan Sang Maha Pencipta. Ya, aku berdoa setiap saat dan setiap waktu menyebut nam mu. Aku memohon agar kita dipertemukan lagi dan diberi kesempatan berbicara, firasatku mengatakan ada sesuatu yang terjadi padamu, di samping itu aku menuntut penjelasan apa alasan selama 6 bulan lebih mendiamkan aku.

- Dari aku yang masih menuntut penjelasanmu.

#GrowFearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
Jangan Mudah Terbawa Perasaan saat Diberi Perhatian Seorang Pria
Artikel Selanjutnya
Ujian Terberat Pejuang LDR: Menjaga Cinta dengan Kesepakatan Saling Menunggu