Sukses

Lifestyle

Saat Merasa Hubungan Sudah Tak Sehat, Itu saat Terbaik untuk Mengakhirinya

Fimela.com, Jakarta Setiap orang punya kisah cinta yang unik. Ada yang penuh warna-warni bahagia tapi ada juga yang diselimuti duka. Bahkan ada yang memberi pelajaran berharga dalam hidup dan menciptakan perubahan besar. Setiap kisah cinta selalu menjadi bagian yang tak terlupakan dari kehidupan seseorang. Seperti kisah Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Love Life Matters ini.

***

Oleh: D - Sragen

Kisahku bermula pada tahun 2016. Tepat aku kelas 12 SMA, aku menjalin hubungan dengan teman sekelasku, bahkan sebangku. Ketika ujian kami juga saling bekerja sama. Hingga akhirnya kami mendapatkan nilai yang memuaskan. Bahkan menurut teman sekelas, aku dan dia salah satu goals couple. Karena katanya sama-sama pintar, juga punya pemikiran yang open minded. Hubungan kami adem ayem, hubungan yang jauh dari kata pertengkaran. Ya, itu kan menurut mereka. Aku senyum-senyum saja ketika dibilang begitu. Setelah lulus kami ingin membangun usaha sendiri, tapi terjegal keinginan orang tua. Ya, orangtua kami masing-masing menginginkan kuliah. Dengan pertimbangan yang matang kami mantap memilih kuliah.

Aku dan dia sama sama mendaftar di kampus negeri tapi sama sama tidak lolos, gagal tiga kali. Karena aku berasal dari sekolah kejuruan (SMK) sulit untuk mengejar materi ujian dengan waktu yang relatif singkat. Aku memutuskan untuk mengikuti tes masuk salah satu kampus swasta dan lolos. Dia sendiri mendaftar di sekolah kedinasan, dengan serentetan ujian tes masuk aku selalu menemani dia, memberi semangat dan akhirnya dia lolos. Lolosnya dia berarti kami menjalin hubungan jarak jauh, beda provinsi. Dia tidak diperbolehkan membawa gadget, mau tidak mau mengharuskan kami tidak berkomunikasi beberapa bulan. Aku terima, asal dia mampu mengejar impiannya.

Tapi, justru dari sinilah hubungan kami renggang, setelah satu setengah tahun berjuang. Aku menyadari hubunganku dan dia sudah tidak sehat, aku sering sakit hati, aku juga sering tidak fokus saat kuliah, aku sering memendam sakit ini sendiri karena aku tidak ingin dia marah dan menggangu perkuliahannya dia.

Berpisah

Tepat Mei 2018, aku memutuskan berpisah dengannya dia menerima keputusanku. Dengan harapan, aku ingin memperbaiki diriku sendiri dan mengejar karierku nanti agar kami bisa seimbang. Karena aku sadar standarku dan dia sangat jauh, aku orang desa, dia orang kota, aku kuliah di swasta dia di kedinasan, orang tuaku petani, orang tuanya pejabat kabupaten. Aku juga tidak cantik untuk dia yang lumayan ganteng. Ya, aku ingin memperbaiki diriku dengan harapan agar bisa seimbang dengannya saat berdiri di sampingnya kelak. Tapi, aku salah. Nyatanya aku tak bisa mengontrol hidupku sepenuhnya.

Setelah satu bulan, bulan Juni dia meng-upload foto seorang cewek yang mana itu pacar barunya. Baru sebulan berpisah denganku dia sudah menemukan penggantiku, bahkan katanya sudah pendekatan sebelumnya selama 6 bulan. Deg, sakitnya hatiku kala itu. Aku menangis, hatiku sakit nyeri perih sekali di dalam lubuk hatiku sana. Tapi, aku sadar walaupun aku menanggung sakit ini, aku juga bersyukur berani mengambil keputusan berpisah dengannya kala itu.

Berbulan bulan aku mengobati sakit hatiku. Alhamdulillah, sembuh sudah sakitnya hatiku. Aku menerima kenyataan yang sudah terjadi. Kini, satu tahun lebih aku sendiri. Bukan karena aku trauma menjalin cinta, tapi aku sungguh menikmati kesendirian ini, lebih menyenangkan rasanya. Tahun ini aku memasuki tahun ketiga perkuliahan, aku bersiap memperjuangkan tugas akhirku dan wisudaku tahun depan. Yang aku inginkan hanyalah senyum bangga orangtuaku di upacara wisudaku kelak.

Aku sangat bersyukur pernah merangkai cerita dengannya, juga sangat bersyukur pernah sakit hati sesakit itu. Dari sana lah aku sangat mencintai diriku. Aku bangga pada diriku sendiri. Aku sangat bersyukur dilahirkan sebagai aku. Dear the past, thanks for all the lessons. And for the future, I’m ready.

#GrowFearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
Pengumuman Pemenang Lomba Menulis My Love Life Matters
Artikel Selanjutnya
Jika tak Berjodoh, Sebuah Pertemuan takkan Menetap Lama