Sukses

Lifestyle

Memantau Remaja Melalui Media Sosial, Mengganggu Privasi Mereka? Ini Faktanya

Fimela.com, Jakarta Perkembangan teknologi secara tidak langsung berpengaruh pada banyak hal, termasuk perkembangan anak-anak. Penggunaan gadget bukan hanya untuk orang dewasa saja, anak-anak juga menggunakannya untuk bermain game, menonton situs platfom berbagi video, hingga berselancar di media sosial.

Perubahan usia dari anak-anak menuju dewasa kerap menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para orangtua, khususnya mereka yang memiliki anak remaja atau yang sedang dalam fase menuju dewasa. Kekhawatiran ini mengakibatkan proteksi para orangtua menjadi lebih besar terhadap anak-anak mereka. Dilansir dari parents.com (12/11) lebih dari setengah orangtua mengatakan mereka memeriksa akun media sosial anak remaja mereka. Lalu apakah mengawasi kegiatan anak di media sosial harus dilakukan oleh para orangtua?

Kenyataannya adalah, aktivitas anak dapat memberikan wawasan tentang memahami sebuah masalah yang akan muncul di kehidupannya menuju dewasa. Remaja usia 12-15 yang menggunakan media sosial selama lebih dari tiga jam per hari berisiko lebih tinggi untuk memiliki masalah kesehatan mental, termasuk depresi dan kecemasan menurut sebuah studi yang diterbitkan oleh JAMA Psychiatry.

Mengawasi dan menjadi seorang mata-mata adalah dua hal yang berbeda. Spying membawa konotasi negatif, kata Gail Saltz, M.D., seorang profesor psikiatri klinis "Secara definisi, mata-mata berarti melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan orang tersebut dan menyerang privasi mereka. Yang biasanya ingin dilakukan para orangtua adalah memantau anak mereka" katanya.

 

Apa perbedaan antara mata-mata dan mengawasi?

Para ahli mengatakan orangtua dapat menggunakan aplikasi, mengikuti anak remaja di media sosial, atau meminta kata sandi. Tetapi mereka harus selalu transparan dengan anak mereka dan menghindari penggunaan akun palsu. Mungkin ada batasan hal-hal apa saja yang harus dipantau orangtua.

Dr. Saltz menyarankan agar tidak melihat pesan singkat, yang merupakan percakapan pribadi. "Orangtua sebenarnya tidak memiliki hak untuk memeriksa isi percakapan dalam ponsel anak dengan teman-temannya" katanya.

Di sisi lain, ada juga saat-saat ketika orangtua diharuskan eksplorasi tingkah laku anak lebih jauh, saat seorang remaja menunjukkan tanda-tanda masalah serius, seperti bunuh diri. Orangtua mungkin ingin melihat aktivitas digital yang sebelumnya terlarang seperti melihat percakapan pribadinya di ponsel dengan teman-temannya, tetapi selalu pastikan untuk berbicara dengan anak terlebih dahulu sebelum mengambil langkah lain.

 

Ajari Anak untuk Menggunakan Teknologi secara Bertanggung Jawab

Telepon atau akses dalam dunia media sosial bukanlah ilmu pasti yang akan diajarkan di sekolah maupun dalam lingkungan. Orangtua harus mengajarkan anak-anak untuk tetap aman dalam menggunakan media sosial dan menggunakannya secara bertanggung jawab.

Orangtua wajin memperkenalkan teknologi dan aspek positifnya sambil mengingatkan anak-anak akan bahayanya. Saat ia melakukan kesalahan dalam menggunakan media sosial, orangtua wajib menjelaskan dan saling terbuka.

Penulis: Iffah Nurahmah

 

Hai Sahabat FIMELA, yuks hadir di FIMELA FEST 2019. Ikuti semua keseruannya, dan jangan lupa untuk daftarkan dirimu  di sini, untuk dapat mengikuti talk show menarik.

#GrowFearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
Kekerasan Terhadap Anak Berdampak Buruk pada Tumbuh Kembangnya
Artikel Selanjutnya
She Means Business, Majukan Bisnis Perempuan Indonesia via Media Sosial