Sukses

Lifestyle

Berkat Didikan Ibu, Aku Bisa Hidup Lebih Kuat di Tanah Rantau

Fimela.com, Jakarta Memiliki sosok pahlawan yang sangat berjasa dalam hidupmu? Punya pengalaman titik balik dalam hidup yang dipengaruhi oleh seseorang? Masing-masing dari kita pasti punya pengalaman tak terlupakan tentang pengaruh seseorang dalam hidup kita. Seperti pengalaman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Hero, My Inspiration ini.

***

Oleh: Laila Nurjannah - Tangerang

Ibu adalah sosok yang paling berpengaruh dalam hidupku. Tanpa ibu, aku tak akan bisa survive sampai saat ini. Dari masih dalam kandungan, aku tahu betul ibu mengalami kesusahan yang luar biasa.

Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Aku dan adikku selisih sekitar 12 tahun, saat itu aku masih kelas 6 SD. Jadi, ketika ibu sedang mengandung adikku, aku menyaksikan sendiri apa yang ibu rasakan saat itu. Satu sampai dua bulan pertama, ibu benar-benar bed rest. Tiap kali ingin makan sesuatu, ibu selalu memuntahkannya kembali. Hingga akhirnya usia 9 bulan kandungan, ibu melahirkan dengan normal. Alhamdulillah, Tuhan memang Maha Adil.

Ketika hamil ibu memang tidak terlalu sehat, tapi ibu bisa melahirkan dengan normal tanpa halangan suatu apa pun. Aku pernah bertanya kepada ibu, buk apa pas hamil aku dan kakakku juga begitu? Ibupun menjawab iya seperti itu. Ibu mengatakan hamil tiga-tiganya selalu sama seperti itu. Perjuangan ibu benar-benar luar biasa.

Semakin bertambahnya usia, aku semakin mengerti bagaimana perjuangan ibu untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Ibu adalah sosok yang tegas dan bisa dibilang galak, apalagi jika menyangkut soal agama. Ibu pernah memukul kakiku menggunakan sapu, karena susah dibangunkan untuk salat subuh. Begitu juga dengan kakak perempuanku, ibu pernah menyiram kakakku dengan segayung air karena susah dibangunkan untuk salat subuh.

Dulu, ketika masih kecil dan belum mengerti apa-apa, aku menganggap ibu ini galak dan menyeramkan. Namun, seiring bertambahnya usia, aku paham betul kenapa ibu mendidik anak-anaknya seperti itu. Kebiasaan ibu yang mendidk kami agar selalu menjalankan salat, membaca Al-Quran, dan sebagainya, alhamdulillah masih aku bawa sampai sekarang. Menghadapi tekanan pekerjaan yang luar biasa, serta menghadapi tekanan sosial yang terkadang membuatku down. Dengan bekal ilmu agama yang kuat, mungkin inilah yang menjadi alasan aku bisa survive sampai sekarang. Berkat ibu yang selalu sabar mengajarkanku ilmu agama sedari dini.

 

Lebih Mandiri Berkat Didikan Ibu

Kini di usiaku yang sudah hampir menginjak 23 tahun, aku merasakan betul susahnya mencari pundi-pundi rupiah. Aku berpikir ibu adalah sosok yang luar biasa. Dengan penghasilan bapak yang serabutan dan penghasilan yang tidak menentu, ibu masih bisa memberi makan anak-anaknya, menyekolahkan anak-anaknya dan sedikit menabung. Ibu ini pintar sekali dalam mengelola uang. Ibu tak pernah mengeluh dengan keterbatasan bapak. Selalu menerima berapapun uang yang bapak berikan. Dan ibu tidak pernah menceritakan kepada siapapun tentang penghasilan bapak ini.

Ibu adalah panutanku. Beliau bukanlah sosok yang suka ngrumpi dengan tetangga, ketika pekerjaan rumah sudah selesai. Setahuku, ibu lebih memilih untuk tidur siang daripada harus ngerumpi dengan tetangga. Namun, ibu tidak asosial juga. Ibu aktif dalam pengajian RT, PKK, dan aktif dalam kegiatan ibu-ibu di kampung.

Hidup jauh di tanah rantau membuatku menjadi lebih kuat dan mandiri. Jujur, satu hal yang paling aku rindukan di tanah rantau adalah masakan ibu. Nasi ibu yang pulen, sambel ibu yang gurih, sayur sop kebanggan ibu yang penuh rasa. Ah sungguh aku rindu. Meskipun jarang pulang kampung, dalam setahun paling hanya sekali atau dua kali, komunikasi aku dan ibu selalu berjalan dengan lancar.

Tiap hari ibu selalu mengirimiku pesan. "Nak, jangan lupa salat. Nak, jangan lupa berdoa. Nak, jangan lupa pintunya di kunci. Nak, jangan lupa lubang buangan air di kamar mandi ditutup. Jangan kemaleman tidurnya. Jangan kemaleman pulangnya," dan masih banyak lagi. Pesan-pesan singkat yang membuatku merasa selalu dekat dengan ibu dan rumah.

Jika suatu hari nanti aku menjadi seorang ibu, aku ingin mendidik anakku sama seperti ibu mendidikku dulu. Ibu pernah berpesan untuk selalu mengutamakan Allah SWT, “Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus." Aku pernah berjanji kepada ibu, akan membahagiakannya. Namun, saat ini, masih belum bisa, karena gaji dari magangku hanya cukup untuk kehidupanku sehari-hari dan sedikit aku kirimkan kepada ibu setiap bulannya. Aku ingin sekali memberangkatkan ibu dan bapak untuk umrah suatu hari nanti. Semoga bapak dan ibu panjang umur dan selalu diberikan kesehatan oleh Allah SWT. Aamiin.

 

#GrowFearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
Pengumuman Pemenang Share Your Stories: My Hero My Inspiration
Artikel Selanjutnya
Bagi Perempuan, Bekerja Penuh Waktu Bukanlah Suatu Kejahatan