Sukses

Lifestyle

Berjuang Membesarkanku Sendiri, Ayah Rela Menahan Sakit hingga Akhir Hayatnya

Fimela.com, Jakarta Memiliki sosok pahlawan yang sangat berjasa dalam hidupmu? Punya pengalaman titik balik dalam hidup yang dipengaruhi oleh seseorang? Masing-masing dari kita pasti punya pengalaman tak terlupakan tentang pengaruh seseorang dalam hidup kita. Seperti pengalaman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Hero, My Inspiration ini.

***

Oleh: Geti Oktaria Pulungan - Tapanuli Selatan

Usia kanak-kanakku dipenuhi dengan masa yang menyenangkan. Sepulang bekerja, ayah selalu menyempatkan diri untuk bermain denganku. Sebagai orangtua tunggal, ayah seakan tidak rela melihatku bersedih. Mungkin beliau tidak ingin jika aku terus-menerus larut dalam kehilangan sejak ditinggalkan ibu di usia satu tahun lima bulan. Terkadang aku tidak mood bermain dengan ayah. Namun beliau akan menggendong agar wajah cemberutku terganti dengan keceriaan.

Saat itu yang kuingat menjadi kegiatan favorit adalah mencabut uban ayah. Malas kerap menghantui, tapi semangat akan muncul saat ayah berkata akan menghadiahi sehelai uban dengan uang senilai seribu rupiah. Setelah dijanjikan demikian, aku akan semangat untuk berhitung. Fokus pandangan pada sela-sela rambut ayah. Terkadang pegal karena kepala harus menunduk dan tangan tak henti menyusuri rambut ayah yang pendek. Terkadang aku juga tertawa geli melihat ayah yang sudah tertidur lelap beberapa saat pencarian uban baru dimulai. Jika saat itu sudah ada ponsel yang memiliki kamera, mungkin sudah kusimpan potret ayah sebagai salah satu kenangan terindah.

Kewajiban ayah dalam mencurahkan kasih sayangnya melalui materi hanya berlangsung sesaat. Di saat aku belum beranjak dewasa dan mampu menghasilkan uang sendiri, di saat itu juga ayah harus bertarung melawan egonya. Ketika aku duduk di kelas sembilan, ayah sudah harus pensiun dari pekerjaan. Biaya sekolah dan makan mau tak mau diambil dari dana tersebut. Memang masih ada gaji pensiun dari almarhumah ibu setiap bulannya. Pun biaya sekolah tidak terlalu berat saat itu kecuali untuk membayar tagihan uang pembelian buku. Tidak seperti sekarang, dengan adanya dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan buku pelajaran sudah disediakan pihak sekolah, biaya sekolah makin ringan.

 

Akhir Hayat Ayah

Jalanan terjal perlahan sulit didaki. Aku akan memasuki bangku kuliah dan butuh biaya besar. Uang kiriman ayah setiap bulannya tidak pernah putus. Gaji pensiun almarhumah ibu untuk makan, transportasi, dan biaya tugas. Sementara gaji pensiun ayah digunakan untuk mengumpulkan biaya sewa rumah kontrakanku di perantauan. Saat itu mengontrak rumah ramai-ramai lebih hemat daripada menyewa kamar indekos. Apabila tiba saat pembayaran uang diktat, aku tidak pernah meminta pada ayah. Biarlah kusisihkan dari uang bulanan atau pinjam saja pada teman.

Tak tega aku melihat badan ayah yang makin menyusut. Kerutan di kening ayah makin bertambah secara tidak wajar, pertanda terus memikirkan biaya kuliahku. Daging di badan ayah yang sudah hampir tak terlihat, terganti dengan pemandangan tulang yang menonjol di sana-sini. Terlebih cekungan mata ayah yang makin menghitam. Di balik keceriaan suara ayah, aku tahu beliau terlampau sering menahan lapar demi aku dapat makan tiga kali dalam sehari.

Selepas aku lulus kuliah, aku tidak mau lagi menjadi beban. Namun inisiatif itu dibantah ayah. Beliau tetap membantuku hidup di perantauan dengan cara mengirimkan biaya sewa kamar indekos saja. Alasannya karena aku belum berkeluarga dan masih menjadi tanggung jawab ayah. Padahal aku tahu, beliau sangat menahan kesakitan.

Di akhir hayatnya baru aku ketahui, beliau tidak pernah sarapan dengan baik. Selama ini ayah hanya mengisi lambung dengan minum kopi. Hal tersebut diketahui saat dokter menuturkan riwayat penyakit ayah. Terakhir kali di rumah sakit, aku mencium aroma tubuh ayah. Sayangnya, ayah menghadapi sakaratul maut saat aku sudah kembali ke perantauan. Tubuh kaku ayah sudah terbaring di rumah, menyambut derai tangisku yang tiba setelah menempuh perjalanan darat selama delapan jam. Di balik kain putih, sepasang tulang belikat ayah menjadi saksi bisu kehidupan ayah. Semoga pengorbanan ayah menjadi kunci masuk surga kelak.

 

#GrowFearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
Pengumuman Pemenang Share Your Stories: My Hero My Inspiration
Artikel Selanjutnya
Bagi Perempuan, Bekerja Penuh Waktu Bukanlah Suatu Kejahatan