Sukses

Lifestyle

Ibuku, Perempuan yang Paling Ikhlas dalam Berkorban

Fimela.com, Jakarta Oleh: Nurantika Kulka - Bogor

Orangtua adalah pahlawan yang saya kenal pertama kali di dunia ini dan ibu adalah pahlawan perempuan yang paling hebat didunia saya. Perempuan dengan segala jasa berharganya di hidup saya, mungkin beliau adalah manusia pertama yang mengenalkan kepada saya tentang pengorbanan dan perjuangan yang paling ikhlas dilakukan, yang paling dilakukan tanpa sebuah harap balasan.

Saya bersyukur diberi kesempatan terlahir ke dunia untuk bertemu dengan pahlawan sepertinya, diberi waktu yang paling berharga di hidup saya untuk menjalankan hidup dan rintangan kehidupan bersamanya. Sekali lagi, saya bersyukur dan beruntung untuk bisa berdoa agar diberi waktu selamanya bersama beliau dan kelak dapat membahagiakannya.

Banyak momen berharga saya bersama ibu saya yang sampai saat ini tersimpan dan akan terus saya jaga di ingatan saya, karena momen berharga dengan orang spesial nggak cukup sekedar diabadikan lewat memori kamera, tapi juga memori ingatan dan kenangan. Saya rasa, kata pahlawan memang sudah sejaitnya disematkan pada ibu saya sejak ia mengandung saya selama sembilan bulan dan melahirkan saya ke dunia ini.

Setiap hari begitu banyak kisah inspiratif yang selalu beliau ajarkan pada saya. Satu cerita sederhana yang ingin saya bagi tentang beliau adalah tentang ibu saya yang selalu menyisakan makanan apa pun yang ia makan untuk saya. Beliau pernah bilang, “Walaupun makanan yang ibu makan hanya sedikit, tapi ibu nggak akan tega buat makan semua, karena ibu selalu ingat untuk menyisakan makanan ibu buat kamu, kalau nanti kamu pulang sekolah atau bangun tidur."

 

Ibu yang Selalu Memberi Perhatian

Menyisakan makanan, cerita ini terlalu sederhana memang. Tapi ini punya arti tersendiri untuk saya. Ibu saya melakukannya hampir setiap hari. Setiap saya pulang sekolah, beliau bukakan pintu dan pasti selalu bilang, “Tebak Ibu masak apa? Oh iya, di dapur ada makanan buat kamu, tadi ibu sisain.” Sebenarnya nggak masalah makanan itu dihabiskan. Saya nggak pernah minta untuk ibu saya menyisakan makanan seperti mi ayam, bakso, atau camilan yang ia beli. Toh, saya bisa membelinya sendiri jika saya mau. Tapi, menyisakan makanan jadi bentuk kasih sayang ibu saya kepada saya. Dari situ saya sadar, bahwa bentuk kasih sayang nggak melulu ditunjukkan lewat hal besar.

Membahagiakan anaknya nggak pernah ia tuntut dengan cara mahal dan itu adalah cara yang pahlawan milik saya ajarkan. Ibu saya selalu ingin saya jadi manusia sederhana dengan rasa bersyukur yang hebat. Untuk menjadikannya pahlawan di hidup saya tak perlu menunggu terjadi suatu momen berkesan. Sebab tiap detik yang ia lakukan di hidupnya selalu tentang perjuaangan untuk keluarganya. Hidupnya selalu ia dedikasikan sebagai pengorbanan kepada keluarganya.

Ibu, dia lebih dari sekadar perempuan yang melahirkan anak dan membesarkannya. Ia adalah seorang perempuan yang tak ingin anaknya tumbuh tanpa nilai kehidupan dan tanpa rasa kasih sayang. Begitu banyak pengorbanan yang telah ia lakukan sampai saat ini saya bisa menuliskan salah satunya dan tak sanggup menyebutkan keseluruhannya.

Saya begitu mencintainya sampai bingung menggambarkannya dengan apa walau ibu saya tak pernah memintanya. Satu hal yang selalu ia pinta, jadilah perempuan yang lebih baik dari dirinya dan menjadi manusia yang berguna untuk manusia lainnya. I love you, Ibu.

#GrowFearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
Hikmah di Balik Belum Ketemu Jodoh, Aku Bisa Menemani Ibu Setiap Waktu
Artikel Selanjutnya
Bepergian dengan Ibu Selalu Memberi Kesan Tersendiri