Sukses

Lifestyle

Berdamai dengan PTSD setelah Menjadi Korban Kekerasan Seksual

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: C - Jakarta

“Kayaknya dia gila deh," “Jauh-jauh saja dari orang gila," “Anaknya tidak bisa bergaul," “Hati-hati orangnya seram," hujatan demi hujatan yang terus dilemparkan membuatku sulit untuk menutup telinga dari lingkungan yang begitu mudah menghakimi. Apa kalian juga pernah mendengar tentang post traumatic disorder? Tenang, bukan gila, kami hanya butuh waktu lebih untuk berdamai dengan kenangan masa lalu dan diri sendiri.

Cerita ini sudah kututup rapat-rapat sejak tiga tahun silam setelah aku dinyatakan terbebas dari mimpi-mimpi buruk dan kecemasan yang berlebihan. Bukan hal mudah untuk berdamai dengan kenangan lama tersebut, butuh bertahun-tahun sampai aku mampu menghadapi seluruh rasa takutku.

Semua bermula saat aku berada di bangku SMP, pertama kali aku menjadi korban pelecehan seksual oleh kakak kelasku di sekolah tersebut. Aku yang masih sangat muda begitu takut untuk melapor pada siapa pun. Aku merasa lebih takut pada ancamannya dibanding berusaha menyelamatkan diriku sendiri.

Semua perlakuannya aku simpan sendiri, aku merasa malu dan tak berdaya, begitu takut sampai tak berani untuk menceritakannya pada siapapun. Aku berusaha menjauh, memblokir dan membatasi akses untuk kakak kelas tersebut bertemu denganku. Namun seluruh usahaku menjadi sia-sia, ternyata rahasia tersebut tidak bertahan lama, rumor yang tidak benar menjalar begitu cepat, siapa yang menyebarnya? Tidak lain dia, si pelaku, kakak kelas tersebut.

 

 

Sekolah bagai Neraka

Aku merasa sekolah seperti neraka, untuk melangkahkan kaki di ruang kelas pun rasanya sangat sulit. Setiap hari aku menangis diam-diam mendengar olokan dari teman-temanku yang tidak ada habisnya. Semua fakta diputar balikkan seolah-olah akulah yang “bersedia” diperlakukan seperti itu, hingga aku dicap sebagai gadis murahan. Jika ada yang berkata, sebaiknya aku membuat pengakuan tentang kejadian yang sesungguhnya, percayalah, itu sudah kulakukan berkali-kali. Namun, lingkunganku hanya percaya pada apa yang mereka ingin dengar, tidak peduli pada kenyataan dan korbannya.

Berkali-kali aku diteror oleh kakak kelas tersebut, meskipun setelah lulus ia pindah ke kota yang lain. Ia masih mencoba menghubungiku dengan nomor yang berbeda-beda, mencoba mencari alamatku, membuat akun media sosial palsu dengan namaku, menghubungi orang-orang yang dekat denganku. Aku takut, sangat takut. Setiap hari aku menjadi cemas dan khawatir, takut bila orang tersebut tiba-tiba datang menghampiriku. Takut dia membuat rumor lagi pada orang yang baru mengenalku. Namun ternyata seluruh penderitaan tersebut hanyalah awal mula dari gangguan yang aku derita.

Memasuki masa SMA, aku berpikir untuk memulai semuanya dari awal, sekolah baru, teman-teman baru, lingkungan baru, namun kebahagiaanku tidak bertahan lama setelah ada seseorang dari SMP yang sama denganku kembali menceritakan rumor itu pada yang lain. Aku mulai mengalami kekhawatiran yang berlebihan, aku menjadi berkeringat dingin ketika bertemu teman lamaku.

Ketika ada seseorang yang tertawa di belakangku, jantungku berdegup sangat kencang. khawatir akulah yang ditertawakan oleh mereka, sampai puncaknya aku menjadi sangat sulit untuk tidur. Aku bisa tiba-tiba teringat kenangan pahit tersebut sambil menangis tak henti, hanya melihat siluet laki-laki mirip kakak kelas tersebut aku langsung bergetar pucat sampai beberapa kali terkena asam lambung. Aku jadi takut mengangkat telepon, takut sendirian di jalan dan kembali takut ke sekolah.

Asam Lambung hingga Diagnosis PTSD

Asam lambung yang kuderita cukup parah, dan pemicunya melalui pikiran. Saat itu aku menjadi sangat pendiam, takut bersosialisasi dengan yang lain. Tatapanku menjadi kosong dan sulit melakukan aktivitas sehari-hari dengan normal. Teman kelasku tak ada yang menyadari perubahan tersebut, sesekali mereka sengaja menyinggungku, sengaja berkata bahwa aku sudah “kotor”. Saat itu nampaknya aku sudah tidak kuat lagi dan mencoba untuk mengiris pergelanganku, untungnya hal tersebut tidak sampai mencabut nyawaku.

Saat orangtuaku mengetahui kondisiku yang sangat kesulitan untuk tidur, mereka membawaku ke dokter dan dokter tersebut menolak untuk memberikan obat tidur. Sebaliknya aku dirujuk untuk ke psikiater atau psikolog. Seorang kakak rohaniku kebetulan mempromosikan seorang psikolog kenalannya di media sosial, aku diam-diam memutuskan untuk berkonsultasi dan melakukan tes hingga aku didiagnosa terkena Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Reaksiku cukup tenang, seakan-akan sudah bersiap mendengar diagnosa tersebut. Aku menolak ke psikiater untuk mendapatkan obat antidepresan karena usiaku juga yang saat itu masih 17 tahun. Aku memupuk kepercayaan diriku perlahan-lahan untuk melawan PTSD, sampai aku yakin untuk melawannya tanpa obat antidepresan. Semua tidak mudah, sungguh tidak mudah. Aku mengalami jatuh bangun berkali-kali hanya untuk kembali percaya diri. Aku belajar mengendalikan rasa takutku dan bersandar hanya pada Tuhan, berusaha kembali membuka diri walaupun dalam prosesnya aku berkali-kali masih merasa khawatir akan penolakan. Berusaha keluar dari kenangan buruk setiap malam dalam tidurku, dan berusaha mencari jati diriku dalam masa-masa tersebut.

Setelah sekian lama aku menutup kisah tersebut, aku memutuskan untuk membaginya kepada kalian, dengan harapan bila ada salah seorang dari kalian yang sedang berjuang melawan masa-masa tersebut, jangan menyerah. Percayalah ada sangat banyak orang di luar sana yang benar-benar peduli padamu, kamu punya kekuatan untuk berdamai dengan masa lalumu.

Aku begitu bersyukur di saat-saat terendah dalam hidupku, aku bertemu banyak sekali orang-orang luar biasa, yang begitu tulus menerimaku apa adanya. Aku bisa begitu percaya diri mengatakan bahwa aku sudah terbebas dari masa-masa tersebut karena merekalah yang membantuku menemukan tempat di mana aku tidak lagi sendiri. Aku tidak lagi ketakutan menghadapi mimpi-mimpi buruk beserta kenangan pahit atau ketakutan lama yang berusaha bertegur sapa, aku berhasil menemukan jati diriku yang terbaik. Hingga hari ini, salah satu hal tersulit yang telah berhasil aku capai adalah mencintai diriku sepenuhnya.

#GrowFearless with FIMELA

Loading