Sukses

Lifestyle

Jauh dari Suami, Seatap dengan Mertua dan Ipar Butuh Kelapangan Hati

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: Dwi Astuti - Semarang

Terima kasih Telah Berusaha Kuat Saat Itu, Sekarang Harus Bertambah Bijak dan Jangan Biarkan Terulang Kembali

Tahun lalu saat saya hamil dan melahirkan saya adalah pribadi yang cenderung cukup memendam kesedihan sendiri dan tak melawan ketika orang lain melakukan shaming pada saya. Ya dulu adalah pengalaman pertama saya menjalani kehamilan, long distance marriage dengan suami dan menetap bersama mertua.

Saya adalah orang baru di keluarga suami, butuh waktu bagi saya beradaptasi dengan kehidupan mertua begitu juga dengan kehamilan. Fluktuasi hormon begitu sangat mengontrol saya, mertua sering bilang saya malas padahal saya benar-benar merasa selalu lemas dengan kondisi kehamilan saya. Ipar yang selalu ikut campur dan selalu mencari kesalahan saya. Membuat saya merasa manusia paling tidak berguna. Namun saya bersikeras bertahan dan mendalami karakter masing-masing anggota keluarga.

Saya sangat sedih ketika terjadi pendarahan selama hamil karena bekerja dengan kondisi tidak sesuai dengan porsi orang hamil, membereskan rumah, mencuci baju seluruh anggota rumah, menyetrika, dan sering juga mencuci piring bekas makan kedua ipar belum dan juga memasak. Menceritakan pada suami juga tidak enak, belum tentu juga percaya, tapi saya mau cerita ke siapa lagi.

Keluarga yang Terlalu Ikut Campur

Satu kali kejadian pendarahan, perlakuan mereka mulai membaik. Saya mulai mengurangi aktivitas, tapi setelah suami saya kembali ke tempat kerja, kejadian kembali berulang. Untuk kedua kali saya mengalami pendarahan, kali ini lebih deras dari pendarahan pertama. Suami diam. Lalu memutuskan membawa saya pergi dengannya. Hati tentu lega, namun menjelang persalinan saya harus kembali lagi ke rumah mertua.

Intervensi seluruh anggota keluarga terkait perlengkapan bayi anak kami yang pertama tak dapat dicegah, ipar selalu berkaca pada kehidupan artis yang membelikan kebutuhan anak mereka sesuatu yang bermerek, mertua ikut mendukung ipar, bagi saya itu bukan gaya hidup saya dan suami. Tapi dengan alasan safety dan bla bla suami menurut ipar, padahal ipar belum menikah dan belum memiliki pengalaman tentang perlengkapan bayi maupun pengasuhan. Saya jelas menolak, menurut saya safety ditentukan oleh kualitas dan spesifikasi barang tak peduli merek apa, yang jelas harus logis dan sesuai dengan budget kami, bukan karena mengikuti tren semata. Saya dan suami bertengkar karena hal ini. Saya selalu merasa sendirian.

Setelah anak kami lahir, shaming pun masih sering terjadi. Saya bersyukur Tuhan selalu melindungi saya. Saya tidak mengalami baby blues maupun post partum depression dengan kondisi lingkungan seperti ini. Saya mulai kebal dengan segala shaming meskipun kadang terasa sakit bila mendengarnya tapi saya berusaha fokus dengan perkembangan anak saya.

Semoga Tidak Terulang

Seiring dengan umur anak kami yang semakin besar, saya dan suami merenung dan menyesalkan beberapa peralatan bayi yang ternyata tidak terpakai tapi harganya lumayan. Beberapa perawatan bayi tren kekinian yang ternyata anak kami tak nyaman menjalaninya, tentunya ipar pun tak bertanggung jawab jika nantinya terjadi sesuatu pada anak kami sedangkan kemauannya selalu saja ingin dituruti meskipun itu bergantung pada pribadi dan kenyamanan orang lain.

Tepat di tahun baru ini, saya putuskan untuk menjadi pribadi yang baru. Pribadi yang selalu belajar berkomunikasi yang baik dengan suami dan bijak bersikap dengan kondisi mertua dan ipar yang demikian. Perlakuan ipar dan mertua tidak bisa saya balas dengan perlakuan serupa, entah salah paham atau apa yang jelas saya harus tegas memberi batasan tindakan mereka terhadap saya dan keluarga terutama anak saya.

Saya memutuskan untuk tidak lagi mengikuti kesedihan jika saya mendengar tindakan shaming. Saya yakin Tuhan selalu di dekat saya memberi kekuatan bahwa saya juga tidak selalu seburuk dan selemah apa yang selalu mereka prasangka kan kepada saya. Saya anggap apa yang saya lihat, saya rasakan, dan saya alami ini adalah bekal untuk mendidik anak saya agar tak mudah melakukan tindakan shaming, merendahkan, dan berprasangka buruk terhadap sesama dan juga mungkin pelajaran bagi saya untuk menjadi mertua seperti apa di kemudian hari.

#GrowFearless with FIMELA

Loading