Sukses

Lifestyle

Terlalu Memaksa untuk Jadi yang Terbaik, Kadang Malah Menyiksa Diri

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: Anisa Nuha - Yogyakarta

Insecure, insecure, insecure.

Tiga alasan di atas adalah alasanku menangis di beberapa kesempatan. Setiap lihat instagram dan melihat foto atau instastory yang menunjukkan momen ‘wah’ atau penampilan yang lebih oke mendadak rasanya ingin menonaktifkan akun. Setiap bertemu teman yang lebih mapan dan sukses, ingin rasanya mengurung diri saja di kamar.

Perasaan serba merasa kurang dan tidak lebih baik dari siapa pun menjadikan diriku menjadi pribadi yang begini begini saja. Ini bukan cerita aja mengada-ada, awal-awal 2019 adalah puncak-puncaknya di mana aku sering sekali sedih, merasa dunia membenciku, merasa keberuntungan selalu berpihak untuk orang lain, dan merasa merasa lainnya yang membuat aku menjadi pribadi yang sulit sekali untuk merasa cukup.

Karena hal di atas akhirnya aku kerap kali curhat dengan beberapa temanku. Beberapa menyarankan aku untuk lebih bersyukur saja, beberapa menyarakanku untuk konsultasi dengan psikiater. Singkat cerita aku menemukan hobi lamaku, yaitu journaling. Treatment ini sangat sederhana, tapi sungguh membuat keadaan hatiku lebih lega dari sebelumnya. Journaling ini tidak melulu berbentuk narasi, namun list ‘bersyukur of the day’ yang aku dapatkan dari pagi hingga sore hari. Untuk hal ini aku benar-benar mencari apa yang membuatku bahagia dan bersyukur hari ini tanpa mengingat-ingat apa yang membuatku marah/sedih.

Gairah semangat pun kembali. Pertengahan 2019 aku mengikuti ajang Dimas-Diajeng di kotaku. Untuk beberapa orang yang menganggap ini biasa saja, aku menganggapnya luar biasa. Kenapa? Karena aku harus bertanding dengan rasa takutku sendiri. Tujuan lain dari mengikuti ajang tersebut juga ingin membuktikan sampai mana kemampuanku saat itu. Selang beberapa tahap berlalu, akhirnya aku gagal di tahap semifinal. Padahal waktu itu aku sudah sangat optimis dengan perjuanganku. Hasilnya? Aku bukannya merasa lebih baik lagi, tapi justru menjadi lebih insecure daripada sebelumnya.

Ambisi terlihat menyenangkan dalam imajinasi. Tapi kerap kali juga menyiksa. Tekanan kita untuk diri kita sendiri agar menjadi yang terbaik, kadang kala tidak lantas membuat kita menjadi lebih baik. Ternyata yang membuatku semakin insecure adalah aku sedang berkompetisi dengan orang lain, bukan dengan diriku sendiri. Aku selalu memberi pressure ‘aku harus lebih baik daripada orang lain’, bukan ‘aku harus lebih baik dari diriku yang sebelumnya’.

Setelah kupelajari diriku sendiri, ternyata penyebab insecure adalah terlalu tingginya ekspektasi kita terhadap diri kita sendiri. Dengan kata lain, terkadang ekspektasi tidak sama dengan kemampuan jiwa dan raga kita dalam memenuhinya. Maka, mengenali potensi diri, batas dan menyayangi diri sendiri adalah kunci ketenangan dan kebersyukuran kita dalam menjalani hari-hari.

Membangun Kembali Ambisi yang Lebih Sehat

Dalam perjalanan melawan rasa insecure, aku jadi satu punya kata kunci dalam membangun ambisi. Mengenali potensi diri adalah hal yang sangat penting untuk improve diri kita kedepannya. Kemarin-kemarin aku sering ngobrol sama orang lain, tapi kapan sih ngobrol sama diriku sendiri?

Taking back to 2018, ambisi yang kubuat itu justru tidak ada yang tercapai. Sebagai kata bijak di awal paragraf ini ‘semua hal itu baik jika sesuai porsinya, begitu juga dengan ambisi’. Ambisiku kali itu hanya untuk memuaskan nafsu, juga mementingkan apa kata orang. Sehingga hal itu sulit sekali tercapai. Giliran hal itu tidak tercapai, akhirnya menyalahkan diri sendiri lagi. Insecure lagi. Nah!

Aku adalah Sahabat untuk Diriku Sendiri

Insecurity adalah perasaan ketika manusia merasa tidak aman. Perasaan ini muncul karena kita (yang merasa insecure) merasa serba kurang. Perasaan serba kurang ini menjadikan kita kerap kali menyalahkan diri kita sendiri. Salah sih kamu belajar gitu-gitu aja makanya gak bisa masuk universitas negeri. Tuh kan kemampuan kamu tuh segitu aja. Terus menerus menyalahkan dan bukannya memperbaiki atau belajar menerima adalah ciri-ciri sahabat yang tidak baik.

Tanamkan bahwa kita adalah sahabat terbaik untuk diri kita sendiri. Untuk menjadi sahabat berikan cinta kita sepenuhnya. Menyadari bahwa setiap manusia mempunyai potensi dan kelebihannya masing-masing. Bilang sama diri sendiri, “Kamu udah cukup. Nggak perlu lebih, nggak perlu kurang."

Kesalahanku di masa lalu yang seringkali membenci diri sendiri yang membuat sebagus apa pun pencapaianku, aku akan selalu merasa kurang. Meskipun lingkunganku kadang kala memberitahuku bahwa aku keren, aku selalu saja merasa kurang.

Belajar Minimalisme

Pertama kali belajar hidup minimalisme itu dari Youtube. Lalu berlanjut membeli buku Marie Kondo yang berjudul The Life Changing Magic of Tydying Up. Aku menangkap satu poin yang disampaikan buku ini, yaitu bahwa banyak barang tidak lantas membuat kita bahagia. Mantra ini yang mengerem aku untuk membeli barang-barang tidak penting dan juga ambisi membeli barang yang sekiranya hanya sebatas keinginan. Misalnya saja lipstik. Hayo, kalian kaum wanita pasti rata-rata merasakannya! Hahaha. Seringkali nafsu kita untuk mengejar hal-hal kurang penting ini membuat kita berlebihan. Tapi kadangkala ambisi kurang sehat itu juga bikin mental dan badan jadi ikut-ikutan kurang sehat. Kalau hanya sekadar ganti lipstik sih masih bisa dimaklumi, kalau ganti mobil? Atau ganti rumah?

Minimalisme ala Marie Kondo ini awalnya bercerita tentang how to tidy up. Bagaimana kita memilih barang yang hanya sparks joy. Tetapi setelah aku terapkan, ternyata efeknya luar biasa. Hidup kita terasa lebih mindful, lebih bahagia, lebih bisa berhemat kalau untuk aku pribadi. So, gimana? Kalian tertarik juga untuk melakukannya? Selain curhat dengan beberapa teman tentang pikiranku yang selalu messy dan insecure, aku juga mempelajari diriku sendiri lewat literasi.

Menuju 2020 yang Selow dengan Konsep Slow Living

Selain konsep minimalisme, aku akhirnya mempelajari satu konsep menjalani hidup lain, yaitu slow living. Slow living adalah konsep di mana manusia menjalani hidup dengan menikmati setiap detik dan detiknya. Dalam konsep ini, aku belajar untuk hidup tidak penuh ketergesa-gesaan. Untuk selalu mengapresiasi momen dan proses.

Selain itu, untuk aku yang selalu overthinking dengan kata atau sikap orang lain terhadapku, aku memahami bahwa banyak hal di luar kendali kita yang mana kita tidak bisa mengontrolnya secara langsung. Aku mengendalikan diriku sendiri yang overthinker ini dengan konsep stoisisme.

Masalah , kesalahan, dan pengalamanku di masa lalu yang membuat aku semangat untuk mengenali diriku sendiri. Mencari ‘obat’ untuk mentalku yang semakin tidak sehat. Dan ketiga ‘obat’, yaitu minimalisme, slow living, dan stoisisme adalah bekalku untuk menjalani kehidupan di tahun 2020 ini menjadi lebih santuy.

Aku berjanji untuk menikmati setiap proses baik dan buruk di hidupku ini. Pokoknya, segala sesuatu yang terjadi dihidup ini lemesin aja, jangan dilawan.

#GrowFearless with FIMELA

Loading