Sukses

Lifestyle

Berdamai dengan Kehilangan Tak Pernah Mudah, tapi Hidup Masih Layak Diperjuangkan

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: Dr. Nrlanie - Malang

Kehidupan memang rahasia Tuhan, yang kita tidak pernah tahu apa dan bagaimana kita setelah hari ini dan ke depan sehingga kita perlu berserah diri setelah berausaha. Itulah yang dapat kungkapkan ketika suatu hari menemukan kenyataan suami tercinta divonis kanker stadium 4.

Pria yang begitu sehat tidak pernah sakit serius, hobinya guyon, selalu keren dan suaranya merdu, seketika menjadi patah. Tak ada lagi canda dan dendang merdunya. Sakitnya membuat hidup ikut berubah, karena kami akhirnya harus pindah ke kota tempat perawatan baru, yang bertepatan ujian sidang terbuka sekolah doktoralku.

Hampir setiap minggu kami berkereta api berangkat ke sebuah kota kecil dan membawanya mengikuti perawatan alternatif akupresser (pijat) di samping rutin kontrol ke dokter ahli. Di pondokan yang kusewa dengan para penderita kanker lainnya, setiap hari aku melihat suamiku yang terduduk tertidur menunggu waktu antrean panjang. Sementara di atap yang sama, kulihat semua penderita berbagai kanker duduk bersama mengobrol ringan saling menguatkan.

Rasaku di kota kecil yang begitu dingin di musim hujan, waktu berlalu terasa panjang, malam siang, pagi dan petang. Begitu pula dengan suhu udara dingin pagi dini hari pukul 02.00 kala itu, seperti biasa kupapah suamiku menuju pondokan yang kusewa sepulang berobat karena begitu banyaknya antrean pasien dari berbagai daerah.

Dengan hati-hati, perlahan kulalui pasien kanker lainnya yang sedang terbaring bergeletakan dilantai. Semua ingin kesembuhan. Mata-mata yang berharap hidup masih panjang dan selalu saja air mata menetes melihatnya.

Sampai finalnya kutemukan situasi suatu subuh ketika terdengar tangisan wanita yang menangisi suaminya yang tidak mampu bertahan lagi dan membawanya pulang dengan ambulans. Kemudian tak lama menyusul satu per satu penderita kanker lainnya. Bersyukur di tempat pengobatan milik seorang Pak Haji ini banyak yang kulihat hal yang positif. Dikarenakan sambil diterapi pijat, secara rohani para penderita diberi siraman rohani untuk kuat dan berani menghadapi sakit. Diberi motivasi dan semangat bahwa seseorang mati bukan karena sakit, tetapi takdir. Banyak orang sehat di luar sana namun juga mati pada akhirnya.

Hidup Ini Tetap Perlu Dilanujutkan

Aku bersyukur melihat perubahan rohani suamiku yang menjadi sangat alim, rajin ibadah siang malam dengan khusyuk sekali dan membuatnya semakin berserah diri dan siap menerima kenyataan apapun akhirnya. Seperti biasa aku duduk mengantre hari itu dengan pasien kanker yang semakin lama satu per satu hilang.

Baru kusadari satu per satu, mereka yang sudah divonis dokter stadium 4 dan tidak mau mengikuti perawatan rumah sakit dengan berbagai alasan diri mereka, pada akhirnya satu per satu tiada. Keluarga penderita yang kemarin menasihati dan menghibur keluarga yang ditinggalkan untuk sabar, hari itu menjadi keluarga yang harus sabar. Penderita yang biasa duduk dis ebelah kiri, sebelah kanan, dan yang duduk di depan, satu per satu tiada. Menimbulkan keresahan hati suami dan akhirnya pasrah atas keinginannya minta diantar pulang ke kampungnya dan tidak berapa lama kemudian takdirnya membawa kepergiannya selama-lamanya di sebuah rumah sakit.

Setelah dua tahun berlalu , hingga hari ini aku tidak pernah dapat melupakannya. Setiap ibadah aku berdoa buatnya. Sampai kemudian aku berpikir untuk move on karena menangisi cinta tak pernah mengembalikannya. Ada masa depan anak-anakku yang harus diperjuangkan.

Kekuatan cinta yang pergi menjadi kekuatan baru, bahwa hidup harus diisi dengan kebaikan dan amal ibadah sebanyak-banyaknya. Sebelum pada akhirnya waktu membeku dan membawa pergi. Kupetik hikmah pelajaran pentingnya mensyukuri diri dan keluarga yang masih diberi kesehatan dan berkesadaran, masih ada kesempatan untuk mencari ilmu manfaat tentang akhirat yang selama ini jauh kupelajari, dan memohon dapat beramal ibadah yang banyak untuk bekal kembali.

#GrowFearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
Berkat Bantuan Relawan, Lebih dari 7.193 Spesimen Corona Dikumpulkan
Artikel Selanjutnya
Menggunakan Sarung Tangan Saat Belanja Demi Cegah Covid-19, Efektifkah?